Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
173. Cabang Olahraga


__ADS_3

Sore ini Reyna mengajak Dewa untuk berbelanja keperluan bayi, keduanya berangkat dengan taksi online karena Bimo akan menjemput keduanya selepas jam kantor. Banyak keperluan yang Reyna beli, semua berwarna netral karena mereka merahasiakan jenis kelamin jabang bayi. Kuning, hijau pastel dan cream mendominasi barang-barang yang ia beli.


Berdiri antri di depan kassa setelah menyelesaikan acara berbelanja yang merepotkan, kondisi hamil besar dan


mengajak putranya yang sedang aktif-aktifnya. Sesekali Dewa merengek manja merasa tersisihkan karena sang mama membelikan banyak sekali barang untuk adiknya.


Ponsel Reyna berdering tepat setelah ia merampungkan pembayaran


“Ya Kak?”


“Mobil aku mogok Rey”


“Yaaa…gimana siiih.Repot nih Kak”


“Aku susulin kesitu naik ojol ya, kita pulang naik taksi online saja”


“Nggak muat Kak kalau berempat.Barang-barangnya banyak”


“Ya sudah aku pulang dulu, nanti aku jemput pakai mobil Om Alex”


“Ya sudah. Aku tunggu, jangan lama-lama ya”


Setelah berhasil membujuk Dewa yang tak lelah merajuk, keduanya berada di toko ATK. Berganti memanjakan putranya yang saat ini tengah asik berlarian memilih buku gambar, buku cerita dan pernak-pernik lainnya.


“Reyna” sapaan pria membuat Reyna menoleh


“Eh kamu Pras” ini pertemuan mereka lagi setelah perdamaian


“Lagi apa?” Pras mendekat, ditangannya nampak setumpuk map keperluan kantor


“Antar Dewa beli buku” tunjuk Reyna pada putranya yang tengah berjongkok didepan deretan pensil warna


"Dewa” panggilnya sambil melambai meminta putranya mendekat


“Hai Om Pras” sapa Dewa ramah


“Ayok salim”


Pras mengacak rambut anak kecil yang menggemaskan “Sama Mas Bimo?”


Reyna menggeleng “Bentar lagi nyusulin”


“Mobil Ayah mogok Om” celetuk Dewa


“Oh” Pras berjongkok “Pulang sama Om mau?” tawarnya


“Eh nggak usah Pras, bentar lagi kok ayahnya datang” duh bisa gawat nih!


“Yeeeee..iya Dewa mau”


“Dewa..jangan. Kasihan Om Pras nanti bolak-balik. Lagian nanti ayah cari Dewa gimana?”


“Nggak apa-apa Rey, ini jam pulang kantor. Jalanan pasti macet, butuh satu jam lagi mungkin sampai Mas Bimo sampai”


“Iya Mama, Dewa sudah capek”


“Dewa ambil dulu keranjang belanja tadi” suruh Reyna


Sudut matanya mengekori Dewa, ketika cukup jauh Reyna memukul lengan Pras “Nanti kalau suamiku marah lagi gimana? Aku pulang sendiri saja”


“Marah apa lagi sih?” Pras santai berjalan menuju kassa “Kan sudah selesai semua”


“Nanti kalau Kak Bimo puk…” Reyna tak melanjutkan ucapannya karena Dewa sudah menyusul keduanya


“Nggak apa-apa, biar setimpal” sahutnya cuek


Ketiganya sudah berada dalam satu mobil, Dewa meminta duduk di bangku penumpang depan. Reyna terhimpit di bangku belakang, kanan kirinya penuh sesak dengan barang. Pras memintanya naik lebih dahulu baru melangsir satu persatu tas belanjaan.


“Sudah kabarin Mas Bimo?” tanya Pras saat mengenakan seat bealt ditubuh Dewa


“Sudah” tapi aku tak bilang pulang denganmu imbuhnya dalam hati


Reyna mengabarkan memutuskan pulang naik taksi online karena Dewa sudah rewel


Sepanjang perjalanan Pras sibuk menanggapi celotehan Dewa


“Ternyata Dewa dekat denganmu ya” Reyna baru menyadari kedekatan keduanya


“Iya, sudah beberapa bulan ini Pak Alex sering bawa Dewa ke ruko” jawab Pras enteng


“Oh ya, kapan Opa bawa Dewa ke tempat Om Pras?”


“Waktu Mama masih tidur”


“Ooohh” seringnya Reyna memang menyempatkan tidur sebentar di sore hari, di jam-jam Dewa pasti sudah terbangun dari tidur siang


Seorang pengamen mendekat ke kaca mobil saat lajunya terhenti karena lampu merah, lagu Cinta Ini Membunuhku dari D’Masiv didendangkan. Sontak muka Reyna tiba-tiba menjadi pias, bukan hanya karena lagu itu sangat fals ditelinganya melainkan memutar ingatannya saat masih berstatus mahasiswi

__ADS_1


Flashback


Liburan semester berakhir, saatnya para mahasiswa kembali ke aktivitas. Geng Somplak sudah berkumpul sedari tadi, duduk melingkar meja dibawah pohon rindang.


“Monyet ah! Cuma Rey sama Pras nih bisa ambil matkul Pak Bambang” protes Bobi


“Makanya otak kamu itu dipake Bob, nggak ngejar cewek mulu” Radit menepuk kepala Bobi dengan binder


“Bisa-bisa mereka lulus duluan” ucap Bobi lagi


“Kau membuat ku berantakan….kau membuat ku tak karuan…….” Tiba-tiba Bianca berdendang lalu D’Masiv yang sedang nge-hits (waktu itu)


“Diem kamu ah, berisik!” Bobi menyenggol lengan Bianca


“KRS itu seperti cinta, memberikan kebahagiaan saat kita mendapatkan dan membuat berantakan ketika tak bisa


mendapatkan” lanjut Bianca lagi dengan gaya khas deklamasi


“Udah ah, kebanyakan bercanda. Aku cabut duluan ngumpulin berkas, ditunggu Mbak May dirumah, aku diminta mengasuh Adam” Reyna beranjak dari kursi


“Aku antar Rey, aku nggak ada urusan kok habis ini” Pras buru-buru membereskan berkas miliknya


“Sana deh pergi kalian pacaran” dengus si Radit


“Yee….siapa juga” Reyna mendorong pelan punggung Radit


“Tembak Pras..Jadian, daripada aku samber ntar” Bobi memanas-manasi


Reyna mengerucutkan bibirnya kesal sedangkan Pras hanya tersenyum-senyum


Bianca melambai pada Reyna membiarkan keduanya menjauh


“Heh kalian denger ya, Reyna itu nggak bakal pacaran kalau belum lulus. Percuma kalian panas-panasin” Bianca menuding 3 pria didepannya


“Kenapa?” celetuk Radit ”Pras baik kok”


“Rey bilang mau konsentrasi dulu kuliah, kalau IPKnya goyang beasiswanya kan terhenti” terang Bianca


“Emang kalau pacarana trus IPK anjlog gitu. Bukannya malah tambah semangat ya” kali ini Bobi bersuara


“Semangat kalau lagi adem ayem, kalau lagi berantem. Sudah..sudah..pokoknya kalian jangan ngompor-ngomporin. Okay!”


---


”Pegangan Rey” kata Pras saat keduanya sudah berada diatas motor


“Hemm ya” Rey meremat sisi kemeja Pras


“Pelan-pelan saja bawa motornya”


“Bawa motor apa bawa becak suruh pelan”


Reyna memukul bahu Pras “Ayok ah buruan, sudah ditunggu Adam nih”


“Kamu memang ahlinya bikin aku galau kamu Rey" desah Pras pelan


"Ya?" Reyna memajukan wajahnya


"Tadi suruh pelan-pelan sekarang buruan”


Capitan jari di pinggang Pras membuat pria itu terdiam dan melajukan motornya membelah jalanan di siang hari yang panas


“Langsung pulang?” tanya Reyna setelah mereka sampai di kediaman Mbak May


“Eh, ada Pras” terdengar suara ramah Mbak May “Suruh masuk Rey sekalian makan siang” kepala wanita itu nampak dari jendela


“Nggak usah Mbak, Pras langsung pulang saja”


“Eh eh, anak kost nggak baik nolak rejeki” teriak Mbak May lagi


“Aku turun ya, dipaksa” Pras melepas helm dan masuk ke dalam rumah


Reyna melihat punggung pria jangkung yang berjalan didepannya, bukannya dia tak suka berdekatan dengannya. Pras adalah pria yang ia kagumi, sosoknya yang pendiam berbeda dengan teman lak-laki yang lain, sudah 4 semester mereka bersama dan makin dekat. Akhir-akhir ini Reyna merasakan perhatian Pras lebih dari biasanya, ia ingin sebisa mungkin membatasi karena tak ingin terlarut dengan perasaan yang mulai tumbuh perlahan.


Selepas makan siang Pras masih saja enggan pulang, beralasan cuaca yang sedang panas-panasnya


“Gitar siapa?” tanya Pras saat menemani Reyna bermain dengan si kecil Adam diruang tamu


“Punya Bobi, pas dia kesini.Titip dulu katanya mau basket”


“Bobi kesini?” pertanyaan dengan nada yang cukup menukik


“Ngapain?” lanjut Pras


“Pinjem catatan” jawab Reyna santai


“Tumben pinjem kamu, biasanya ngributin aku tuh anak”

__ADS_1


Reyna mengedikkan bahunya


“Jangan jangan Bobi lagi dekatin kamu” masih bertanya dengan tatapan mata elangnya


“Ih, ngomong apa sih!” Reyna mendengus


Pras meraih gitar, memetik asal-asalan dan bernyanyi sebisanya


“Bagaimana caranya untuk meruntuhkan kerasnya hatimu”


Sepenggal lirik lagu D’Masiz ia dendangkan, berhenti dan melirik gadis disebelahnya yang pura-pura tak mendengarkan


“Kau hancurkan aku dengan sikapmu……” lanjutnya


Reyna masih berpura-pura tak mengindahkan dan bermain dengan anak kecil dipangkuannya


“Aku pulang deh!” Pras berdiri


“Hemm,,, iya. Makasih ya sudah diantar” Reyna menggendong Adam dan mengantar Pras ke depan


“Pacar kamu diumpetin kemana Rey?”tiba-tiba Pras bertanya hal yang mengejutkanya


“Heh? Apa?”


“Pacar kamu” Pras mengulang sambil sibuk mengenakan sepatunya


“Pacar? Aku nggak punya pacar!”


“Oh” pria itu hanya menjawab pendek lalu berdiri mengambil ransel


“Berarti aku nggak lolos seleksi ya jadi calon pacar kamu” ucapnya jelas sambil menatap tajam ke mata gadis pujaannya


“Eh’” Reyna terbingung-bingung


“Habis dicuekin mulu” Pras berbalik dan melangkah pergi


Flash back off


Mata Pras menatapnya tajam melalui spion tengah, lalu tersenyum kemudian saat melihat air muka Reyna


“Kamu ingat juga ya?”


“Eh, apaan sih” Reyna cepat-cepat membuang mukanya


Pras menengok ke belakang dan berbisik “Jangan buang aku dari ingatanmu Rey. Sekedar untuk dikenang” lagi pria itu tersenyum


Bimo nampak baru juga sampai di rumah saat mobil Pras memasuki pelataran, pria itu nampak terkejut saat melihat Dewa turun dari mobil. Pras berjalan hendak membuka pintu penumpang belakang, terkejut saat pundaknya digenggam erat dan dihentak kebelakang. Tangan kekar itu mendorongnya hingga badannya membentur kap mobil


“Makasih Om Pras” teriakan Dewa menghentikan Bimo untuk mengambil tindakan lebih


“Iya Dewa, sama-sama” Pras tersenyum kearah Dewa


“Ayah, ambilkan buku Dewa” anak kecil itu menunjuk pada setumpuk barang yang berada di kursi penumpang belakang


Bimo mendengus, membuka pintu mobil, menurunkan beberapa barang. Dewa menghambur masuk kerumah setelah mendapatkan barang miliknya.


“Kak, tolong..” Reyna mengulurkan tangannya


“Pembohong!” Bimo menunjuk wajah istrinya seketika turun dari mobil


“Aku bohong atau tidak tetap saja Kak Bimo marah” Reyna membalas cuek


“Kamu!” kali ini Bimo menarik kerah baju Pras “Sampai kapan mau ganggu istriku”


“Kak Bimo apa-apaan sih” Reyna menggenggam erat tangan Bimo “Pras kasih tumpangan malah kamu kasarin”


“Sekongkol kalian” Bimo makin mengeratkan tarikan di baju Pras


“Lepas nggak, malu dilihat orang” Reyna mendorong tubuh Bimo dan menghimpitkan badannya diantar tubuh dua pria itu


“Minggir Rey, jangan ikut-ikut urusan laki-laki”


“Mundur! Atau nggak dapat jatah!” ancam Reyna sengit


Sontak Bimo melepaskan tangan dari kerah baju Pras


“PPppppfttt” Pras menutup mulutnya menahan tawa


“Apa!” Bimo mendelik “Awas, lihat saja nanti!”


“Apa sih Mas,” cetus Pras santai “Reyna nggak suka sama saya, cinta matinya buat Mas Bimo”


“Udah kamu buruan pulang, makasih ya” Reyna mengibas-ibaskan tangan lalu memeluk Bimo erat dan mendesaknya mundur teratur


Pras tersenyum lalu berjalan menuju pintu kemudi. Mobil itu mundur dan berbelok lalu melaju pelan, berhenti tepat didepan suami istri yang masih menatapnya


“Saya nggak bakal bawa lari istri Mas kok, soalnya bawa lari istri orang belum terdaftar di cabang olahraga manapun” serunya lalu menginjak pedal gas kuat-kuat

__ADS_1


Bimo mengepalkan tangan lalu menendang angin dengan konyolnya


Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!


__ADS_2