
Niken melambai gembira saat melihat Reyna muncul di kafe tempat bertemu yang merwka sepakati.
"Baik Rey?" tanya Niken sesaat setelah Reyna duduk
"Ya begitulah.. " Reyna mengedikkan bahu
"Kamu masih sedih?" Niken menyodorkan daftar menu makan
Reyna mengangguk, melihat seksama daftar menu ditangannya. Memilih dan menulis di secarik kertas yang telah berisi pilihan Niken lalu menyerahkan kepada salah satu pegawai kafe
"Bimo bagaimana?"
"Ya.. kecewa pasti, sedih juga. Entah... yang jelas disini aku merasa cuma aku yang kehilangan"
"Ayolah Rey, kamu bukan satu-satunya wanita yang kehilangan janinnya"
"Aku butuh waktu, setidaknya aku butuj dukungan bukan desakan" Reyna menghela napas panjang
"Kamu belum siap hamil lagi?"
Reyna mengangguk
"Bicaralah pada Bimo kalau begitu"
"Aku takut menyinggung perasaannya mbak. Aku kan tak bisa menebak dia akan berpikir apa nantinya"
"Makanya kalian perlu bicara! Siapa tahu Bimo nanti mengerti"
Pembicaraan mereka terjeda saat pegawai kafe mendekati meja mereka membawa nampan berisi pesanan mereka
Niken mulai menyuapkan makanan ke mulutnya
"Aku merasa bersalah menyiksa Kak Bimo juga selama ini"
"Makanya bicaralah.." Niken menggerak gerakkan telunjuknya ke arah Reyna
__ADS_1
"Sudah sebulan Kak Bimo belum kuijinkan menyentuhku lagi"
uhuk uhuk uhuk
Niken tersedak dan meraup air minum sebanyak banyaknya
"Gila kamu Rey!!" pekiknya setelah napasnya kembali teratur "Satu bulan, oh god! Satu minggu saja sudah cukup menyiksa bagi kaum adam!"
"Mbak... aku cuma belum siap hamil lagi"
"Pakai kontrasepsi dong!" Niken memekik gemas
"Sstt... Mbak Niken kekencengan itu. Aku malu!! " Reyna menatap sekeliling
Niken mendengus
"Aku nggak paham ya Rey jalan pikiran kamu! Yang jelas malam ini kamu harus bicara ke Bimo, aku yakin dia bisa mengerti"
.
.
.
"Rey kemari.. " Niken menarik Reyna masuk ke outlet pakaian dalam
"Beli deh buat menebus rasa bersalahmu ke Bimo* tunjuk Niken ke deretan lingerie
" Ah malu ah... " sontak Reyna melangkah kebelakang
"Ayolah... siapa tahu Bimo luluh dan mau setuju untuk menunda kehamilan" Niken mendorong lagi tubuh Reyna
Reyna tertegun, teringat bayi besarnya itu pasti mengabulkan tiap permintaannya jika servisnya memuaskan
"Mau aku pilihkan?" Niken maju dan mulai memilih satu persatu
__ADS_1
"Ini... ini.. itu.. eh satu lagi.. " meletakkan 4 pilihan di tangan Reyna "Sana... bayar... " tukasnya enteng
"Banyak banget! " sungut Reyna
"Mumpung,, sekalian malunya" Niken terkekeh kecil
.
.
.
Reyna melirik bungkusan dari outlet underware di bangku belakang dari spion tengah mobilnya. Ada benarnya ucapan Niken dia harus bicara meskipun ia ragu Bimo akan meluluskan permintaannya kali ini.
Matanya nanar melihat detik angka di traffic light, persimpangan ini terkenal dengan lamanya jeda lampu merah. Ibaratnya jika Valentino Rossie beradu balap pasti kalah karena terjeda lampu merah.
Pandangan Reyna terusik saat menangkap apotik disudut jalan. Kontrasepsi? Ah ya, kenapa tak terpikirkan olehnya selama ini. Tangannya meraih ponsel didashboard dan berselancar ria mencari info soal pil mini.
Tin.. tin..
Klakson mobil dibelakangnya membuatnya buru-buru menginjak pedal berbelok kearah area parkir apotik tersebut. Meneruskan membaca beberapa artikel yang sempat terhenti.
Mengetuk-ngetukkan jemarinya di setir, hingga akhirnya memutuskan masuk kedalam apotik. Membeli satu stripe pil mini, memasukkan ke tas dan melajukan mobil kembali menuju rumah.
.
.
.
Rumah Alex sunyi senyap saat Reyna memasuki. Sepertinya semua penghuni sudah tertidur, Reyna melangkah naik ke kamarnya.
Lampu redup nampak menyala dari kamar Dewa yang tak tertutup sempurna. Didorongnya pintu kamar anaknya pelan, nampak Bimo meringkuk disebelah Dewa. Reyna mendekat dan mencium pelan kedua lelaki berharga dalam hidupnya. Membisikkan kata maaf ditelinga suaminya dan beranjak memasuki kamarnya.
Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!
__ADS_1