Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
99. Ragu


__ADS_3

Suasana kamar sepi saat Reyna menyelesaikan kegiatan mandinya. Ia melangkah keluar, tak dijumpai siapapun di teras maupun ruang tengah. Kakinya ragu saat hendak naik ke lantai dua, saat hendak berbalik tiba-tiba ia dikagetkan dengan panggilan Om Alex.


"Reyna..cari Dewa?"


"Eh.. iya Om.. "


"Ada diatas dikamar Bimo, naik saja"


Reyna mendengar gelak tawa Dewa dari


luar kamar dengan pintu yang setengah terbuka. Dilihatnya Dewa sedang melompat-lompat diatas ranjang, handuk kecil masih melilit menutup bagian bawah tubuhnya.


"Dewa... jangan seperti itu nak. Ayo turun" tegur Reyna


Anak kecil itu berhenti melompat dan melihat ke arah Bimo seakan meminta bantuan.


"Nggak apa-apa Reyna.. namanya juga anak kecil" Bimo meraih tubuh Dewa dan menggendongnya.


"Sini biar aku saja, Kak Bimo mandi saja" Reyna mengambil alih Dewa dari gendongan Bimo, melirik ke ranjang Bimo yang kacau akibat kelakuan anaknya "Nanti aku kesini lagi bereskan itu"


"Nggak perlu biar Mbok Nah saja" Bimo melangkah masuk ke kamar mandi.


Beberapa saat kemudian Dewa sudah wangi, Reyna merapikan rambut anak kecil itu dengan sisir kecil.


"Dewa.. " panggil Alex didepan pintu kamar "Ikut Opa jalan-jalan sebentar yuk" ajaknya


"Horeee...... " Dewa berteriak dengan senangnya


"Dewa jangan nakal ya" diciumnya pipi Dewa.


"Om mau pamerkan cucu Om yang ganteng ini ke tetangga, waktu pertama kemari Om belum sempat ajak dia keliling kompleks" mata Alex berbinar senang


Reyna mengayun langkahnya kembali menuju lantai 2 hendak membereskan kekacauan dikamar Bimo.


"Kak... " Reyna mengetuk pintu kamar Bimo


tak ada jawaban


"Kak... aku masuk ya" Reyna menaikkan suaranya


ditunggunya beberapa saat sampai ia memutuskan mendorong pintu itu, suara gemericik air pelan terdengar


Reyna memutuskan untuk masuk saja dan segera membereskan kamar Bimo lalu segera keluar.


Jika hanya ranjang saja pasti dalam 3 menit ia sudah dapat keluar dari kamar itu, mainan Dewa yang berceceran dilantai membuatnya membuang waktunya agak lama.


Bimo juga belum selesai dengan mandinya ketika Reyna selesai membersihkan kamar. Tangannya berkacak pinggang puas, dilihatnya kamar yang berukuran cukup luas, meja kecil disudut ruang menyatu dengan rak buku yang nampak berat dengan beban. Matanya tertuju pada potret anak kecil diapit kedua orang dewasa di meja itu. Satu-satunya potret yang ada dikamar seluas ini.


Reyna sesaat menengok ragu ke arah pintu kamar mandi, kakinya melangkah cepat kearah meja dan menatap lekat ke foto itu.


Dia bagai menatap foto anaknya saat ini, foto kecil Bimo sangat mirip dengan Dewa.

__ADS_1


Ahh ini pasti ayah dan ibu Bimo, keduanya telah berpulang sama dengan ayah dan ibunya.


Jemari Reyna bergerak di deretan buku yang tertata rapi dan berhenti pada salah satu buku bersampul tebal.


"Album Mapala Dua Dekade" dengan salah satu lambang universitas tempat Bimo menempuh ilmu.


Reyna membuka lembar demi lembar, berharap menemukan foto lama dari Bimo. Ahh... matanya menatap gambar dari tiga sekawan disana. Satria, Bimo dan Andre... dengan muka dimasa muda mereka.


Reyna menutup album itu dan tersenyum kecil, tangannya menahan deretan buku agar album itu kembali ketempat semula dengan rapi.


Dijejalkannya paksa album itu kedalam deretan buku-buku. Nampaknya dia harus berusaha lebih keras, album itu nampak belum berdiri sempurna.


Reyna kembali menarik album dan membuat ruang lebih luas lagi. Buru-buru menyambar album itu saat ruang dideretan itu dirasanya cukup luas dan upppss... selembar foto usang terjatuh keatas meja.


Reyna terpekur menatap dua pasang sejoli yang terekam digambar itu. Buru-buru dia letakkan album kembali ketempatnya lantas meraih foto itu.


Bimo sedang tertawa lepas menatap gadis yang dipeluknya mesra, dan gadis yang ada dipelukannya itu membalas dengan tatapan bahagia, dua telapak tangan menutupi mulutnya yang sedang tertawa terbahak.


Awan putih yang menutupi sebagian puncak gunung dengan semburat cahaya keemasan menjadi background keduanya.


Hati Reyna sesak melihat pemandangan di lembar usang. Nalurinya sebagai wanita bermain, mungkinkah Bimo mengajaknya ke pemondokan untuk mengenang masa lalunya. Bisa jadi bukan hanya Satria dan Andre yang melewatkan waktu bersama Bimo disana tapi....


ceklek


Suara pintu terbuka dibelakang membuat Reyna terperanjat, ia selipkan foto itu dibalik bajunya dan membalikkan tubuhnya.


Bimo hanya memakai celana rumah dan masih bertelanjang dada.


"Ehm... lihat foto Kak Bimo"


Bimo melangkah mendekat "Bapak dan Ibuku" tunjuknya pada potret yang tergantung, lalu berbalik menuju almari mengambil deretan kaos disana.


"Ehm.. iya. Kak Bimo mirip Dewa waktu kecil" tangan Reyna meraba laci kecil yang tertangkap sudut matanya, buru-buru membukanya dan meletakkan foto itu disana.


"Dewalah yang mirip aku waktu kecil" Bimo melongok dari balik pintu meralat omongan Reyna


"Iya iya, kalian mirip. Aku turun dulu Kak, siapkan makan malam"


"Dewa mana?" Bimo merapikan kaosnya


"Jalan sore sama Om Alex"


Langkah Reyna terhenti saat Bimo berlari terburu menutup pintu didepannya, berbalik mendorong tubuh Reyna dan mendudukannya ke ranjang. Mengunci gerak tubuh wanita itu dengan dua lengannya disisi ranjang.


"Kak Bimo mau apa ih" Reyna mendorong muka Bimo yang mendekat ke arah pipi.


"Ssstt.. kesempatan, mumpung pak satpam lagi keliling" Bimo mencium pipi Reyna berpindah ke bibir, ******* pelan hingga mengecapnya penuh gairah.


Bimo menghentikan aksinya saat Reyna hanya diam tak membalas.


"Kenapa?"

__ADS_1


Reyna menggeleng pelan


"Ayolah, besok kau sudah pulang. Kapan lagi?" bujuk Bimo, tangannya membelai tengkuk Reyna menariknya mendekat dan mengecup bibir itu kembali.


"Kak.. selain aku siapa wanita yang pernah kau cium seperti ini?"


"Hah??" Bimo menarik wajahnya menjauh


"Ada kan?" Reyna bertanya pelan


"Banyak" Bimo menjawab sekenanya


"Aku serius" Reyna melotot


"Aku juga jawab serius"


Reyna menatap Bimo "Yang pake ini" telunjuknya menyentuh jantung Bimo


"Ohh... "


"Mau jawab banyak juga?? " Reyna membuka mata lebar-lebar


"Penting buatmu?"


Reyna menggangguk cepat


"Ada, tapi sudahlah itu masa lalu Reyna" Bimo terduduk dengan lututnya, ia menggenggam erat tangan Reyna.


"Let me know who she is"


"Seriously? Came on Reyna, we are not teenagers any more"


Reyna mengedikkan bahunya "I just want to know, would you?"


Bimo mendesah "She was my past. You and Dewa are my present now. Both of you will be my future. Better if I'm not telling you"


Reyna beranjak dari duduknya "Don't blammed me if I doubt you then"


Bimo memandang punggung Reyna, mengepalkan tangannya, aku tak mau membuka luka lamaku Reyna, sungguh itu terlalu menyakitkan batin Bimo bergejolak.


°°°°°°°°°°°°°°°°°°°


UP dikit dikit dulu ya genks.. Author lagi sibuk merevisi PUEBI tiap episode karena ga lolos kontrak.


Hiks sedihhh....


Tinggalkan jejak kalian disini untuk kritik dan saran membangun


Terimakasih


°°°°°°°°°°°°°°°°°°°

__ADS_1


__ADS_2