Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
131. Full Mother or Work Mother


__ADS_3

Alex menyambut dengan gembira saat Reyna selesai bersepeda keliling rumah, kesibukannya di kantor tidak menghalangi kegiatannya berolahraga untuk tetap menjaga kebugarannya.


"Rey, duduk sini dulu" pinta Alex


Reyna mengambil duduk disebelah Bimo yang sedang mengajari Dewa menulis angka, mengibas-ngibaskan koran yang Om Alex letakkan


"Tadi kamu temui Mr Horst?"


"Eh iya Om, kenapa ? komplain ya?"


"Justru dia puas, makanya telepon Om"


"Puas???!!" Bimo melirik Reyna


"Opsi apa yang kamu tawarkan?" tanya Alex tak menghiraukan Bimo yang menegakkan badannya, menyimak pembicaraan keduanya


"Reyna cuma kasih referensi pediatrician yang buka klinik terapi alergi untuk anaknya yang alergen gluten. Rey dapat dari wali murid group sekolah Dewa"


"That's all?" Alex menautkan alis keheranan


"Hehe, kebetulan terapinya dari tekhnologi German jadi ya ..it's so easy" Reyna menjentikkan jari kelingking


"Ehmm, Mr Horst minta sebaiknya kamu tetap bekerja disana" Alex melirik Bimo yang mendengus sebal


Hidung Reyna kembang kempis menahan ledakan rasa bangga di hatinya, tapi kembali datar saat melihat reaksi suaminya


"Nggak Om, cukup 2 bulan lagi" jawabnya sambil mengamit lengan Bimo menenangkan


---


"Kamu pasti bangga?" Bimo menyandarkan kepala di salah satu tangan dengan posisi menyamping melihat Rey yang telentang bersiap tidur


Istrinya tersenyum "Ya...begitulah. Senang, puas tapi yang jelas lega. Mr Horst kan klien pertama Om Alex, gawat kan Kak kalau kita sampai mengecewakan


"Kamu suka bekerja?"


Reyna ikut-ikutan merubah posisinya menyamping "Suka, karena aku merasa senang tiap kali ada yang menghargai hasil kerjaku. Kak Bimo ada masalah selama ini aku pilih bekerja?"


"Ehmm...yang jelas Si Ontong jadi kurang jatah" Bimo mengerucutkan bibirnya "Tapi ada senangnya..." matanya mengedip nakal "Kamu terlihat lebih total diranjang"


Plaakkk


Bantal melayang ke wajah Bimo, membenamkan wajahnya dalam-dalam ke ranjang. Bekerja memang menguras energinya tapi justru membuatnya mendapatkan suatu kepuasan yang lain, hatinya riang dan menjalani kesehariannya dengan gembira. Termasuk urusan ranjang dia menjadi lebih rileks, hanya saja ia masih malu-malu mengakui bahwa bergelut dengan suaminya sudah merupakan candu baginya, tubuhnya membutuhkannya lebih lebih dan lebih


.


.


.


Baru saja tiba di kantor saat pengasuh Dewa mengabarkan dirinya sakit dan terpaksa pulang, Reyna menyanggupi akan menjemput Dewa pulang sekolah nanti. Ponselnya berkedip dan layar menunjukkan daya baterai melemah, pesawat telepon dimejanya berdering mengurungkan niatnya untuk mengisi daya ponselnya.

__ADS_1


Kesibukannya bergulir hingga membuatnya lupa waktu, pesawat teleponnya kembali berdering kali ini teriakan dari suaminya.


''Segera kerumah sakit XXX sekarang, Dewa kecelakaaan!"


Tak peduli dengan laju kecepatan yang terpampang di speedometer mobilnya Reyna membelah jalanan yang padat. Pikirannya melayang jauh membayangkan hal yang tidak-tidak, merutuki kebodohannya melupakan janji untuk menjemput buah hatinya.


Berlari bagai kesetanan disepanjang lorong putih, berhenti di depan ruang tempat suaminya berjalan mondar mandir.


"Kak...mana Dewa" Reyna meraih lengan pria itu


Bimo menghentakkan tangan Reyna, meremas dua lengannya kasar lalu menyudutkan tubuh istrinya ke tembok


"Kemana saja kau?! Kenapa ponselmu tak bisa kuhubungi" mata Bimo membelalak penuh amarah


"Maaf Kak, aku benar-benar lupa menjemput Dewa. Ponsel aku mati kehabisan daya" Reyna menumpahkan tangis yang ia tahan sejak tadi "Dewa mana?"


"Didalam, sedang ditangani" Bimo mengendurkan genggamannya saat melihat Reyna kesakitan


"Bapak Ibu Bimo, saya wali kelas Dewa. Mohon maaf atas kejadian ini, murni ini kesalahan kami" seorang wanita bertubuh tambun tergopoh mendekati mereka


"Sebelumnya apakah ada pesan dari pihak keluarga jika Dewa akan telat dijemput?" lanjutnya


"Maaf Ibu, tadi pagi pengasuhnya mengabarkan sakit dan pulang. Harusnya saya yang menjemputnya tapi mohon maaf saya terlupa" Reyna menerangkan sambil terisak


''Tadi Dewa menunggu cukup lama, jadi saya putuskan untuk mencoba hubungi Ibu, tiba-tiba Dewa berlari ke pinggir jalan dan terserempet motor yang kebetulan melaju kencang. Maafkan kami karena lepas pengawasan" sang wali kelas menundukkan badannya


"Kondisi Dewa bagaimana?' Saya mau lihat"


"Keluarga Dewa" panggilan perawat membuat ketiganya merapat mendekat. Nampak Dewa dengan arm sling duduk dikursi roda. Bukannya menangis kesakitan anak itu justru tersenyum.


"Mama.... Ayah... " panggilnya


"Dewa tak apa?? " pekik Bimo dan Reyna hampir bersamaan


"Dewa hebat, jagoan. Keren kaya di film-film, Dewa nggak kenapa-kenapa padahal ditabrak motor" ucapnya polos membuat Dokter dan beberapa perawat tertawa melihat tingkahnya


"Bapak Ibu silahkan konsultasi dengan Dokter" perawat menunjuk salah satu bilik konsultasi


Seperti yang disampaikan sebelumnya tangan kanan Dewa hanya terkilir tapi dokter menyarankan untuk rontgen lanjutan guna memastikan tidak ada retakan tulang.


---


Reyna masih memegang dadanya terasa sakit bagai tersayat sembilu. Meskipun putranya terlihat baik-baik saja, bahkan berkali-kali meminta turun dari kursi roda.


"Maafkan Mama Dewa" berkali-kali Reyna memeluk putranya, rasa bersalah menyusup dalam


Bimo bernapas lega saat hasil rontgen tidak mengindikasikan adanya patah tulang. Dewa diperbolehkan melepas arm sling dan disarankan tetap mengenakan perban elastis dipergelangan tangan untuk menghindari cidera lebih lanjut.


Hingga malam tiba Reyna menjadi pendiam, dirinya merasa tersudutkan dengan situasi. Dia berdiam diri dikamar Dewa seusai makan malam, mengelus kepala anaknya yang tak henti berceloteh menganggap dirinya hebat bagai pahlawan super.


Bunyi ponsel memaksanya pindah ke kamarnya sendiri karena takut membangunkan Dewa.

__ADS_1


"Ya Pras?"


"Dewa baik-baik saja kan?"


"Iya, pergelangan tangannya terkilir karena menahan tubuhnya saat terjatuh, badannya juga lecet-lecet tergores aspal jalan"


ceklek


suara pintu kamarnya terbuka


"Tak perlu bekerja dulu, tunggulah sampai Dewa pulih"


"Dua hari aku absen dulu ya Pras, terimakasih" jawab Reyna sambil melirik Bimo


"Jadi kamu mau meneruskan bekerja" Bimo membuka kaosnya dan menghempaskan ke ranjang, berkacak pinggang dihadapan Reyna


"Maaf Kak"


"Minta maaflah pada Dewa!"


"Dua bulan lagi, aku janji"


"Terserah!" Bimo naik keranjang dan tidur memunggunginya


.


.


.


Sehari bersama Dewa membuat Reyna berpikir untuk meneruskan bekerja, disatu sisi dia tak enak hati jika berhenti sekarang.


Pras datang menjenguk Dewa disaat istirahat siang.


"Maaf ya Dewa, gara-gara Mama Reyna bantu Om jadi Dewa seperti ini" pria itu mengelus pergelangan tangan yang masih terbalut perban "Sakit?"


"Enggak Om" Dewa menggeleng bahkan asik berkutat dengan mainan robot yang dibelikan Pras


"Besok lagi jangan keluar dari sekolah ya sebelum Mama jemput" Pras membantu Dewa merubah mainan robot yang bisa bertransformasi menjadi mobil-mobilan


"Dewa kemarin takut kalau Dewa tidak dijemput sekolah, Dewa keluar kejalan cari Ayah cari Mama cari Opa" ucapan anak kecil itu membuat Reyna kembali tersayat


"Pras, mulai sekarang Reyna menjemput Dewa ke sekolah dan segeralah cari kandidatnya" perintah Alex


"Iya Pak Alex, sudah ada dua kandidat. Tapi keduanya masih bekerja jadi mereka membutuhkan waktu untuk mengurus resign di perusahaan sebelumnya" Pras menjelaskan


"Ya kau atur, kau nego mereka secepat apa bisa bergabung"


Reyna tersenyum lega mendengar win win solution yang ditawarkan oleh Alex dan kabar baik bahwa telah ada kandidat penggantinya.


Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!

__ADS_1


__ADS_2