
Reyna tersenyum-senyum sendiri didalam taksi saat perjalanan pulang, dia rasakan kebahagiaan yang membuncah hebat dihatinya setelah sekian waktu memendam rasa. Begitu sampai dirumah dicarinya sosok Satria ke penjuru rumah dan segera menghambur memeluk pria itu tak segan-segan.
‘'Makasih ya Mas''
‘'Ehmmm….'' Satria mengacaukan rambut Reyna dengan gemas ‘'Janji padaku satu hal Rey''
Reyna mendongak
‘'Berjanjilah menjaga dirimu, sebentar lagi usahaku akan berjalan normal kembali lalu kita urus perceraian kita''
‘'Alasan apa yang Mas Satria berikan untuk keluargaku keluargamu?" tanya Reyna cemas
Satria mencubit pipi Rey gemas ‘'Itu urusanku..kau tenang saja''
‘'Kalau boleh kutahu kenapa Mas Satria memutuskan untuk menjelaskan soal hubungan kita pada kak Bimo?''
‘'Selama ini kau terlalu pandai menyimpan perasaanmu pada Bimo, aku terlalu ragu untuk memastikannya. Bimo benar aku pria yang egois dan posesif tidak seharusnya aku seperti itu. Maaf..kau juga berhak bahagia''
Reyna menggangguk dan berjalan menuju kamarnya
‘'Kau paham kan Rey maksudmu untuk menjaga dirimu baik-baik?''tanya Satria dengan penakanan terdengar cemas
‘'Iya, selama ini apa aku kurang baik mengurus diri sendiri''
‘'Pastikan Bimo tidak menyentuhmu, tidak lebih dari sekedar wajar‘'
Jantung Reyna berdegub lagi mengingat kejadian beberapa saat lalu.
Flashback rumah Bimo dipagi hari
Ting Tong Ting Tong
Bimo beringsut malas membuka pintu menyunggingkan senyum tak bersahabat pada tamu didepannya
‘'Mana Reyna?!''
Bimo melongok malas kearah garasi
‘'Sudah pergi pakai mobilku, mau apa kau Sat!''
''Kamu sendiri?''
__ADS_1
''Aku ijin, tak enak badan''
Satria menghambur masuk
‘'Aku mau bicara!''
‘'Soal?''
‘'Kamu dan Reyna"'
‘'Apa pedulimu Sat'' Bimo mengurut keningnya yang masih terasa pening mengambil tablet obat yang tergeletak di atas meja dan menenggaknya.
Satria meliriknya , Reyna tak bohong soal semalam Bimo memang benar-benar sakit
‘'Semalam Reyna hanya mengurusku, tak lebih Sat. Alih-alih ucapan terimakasih kemarin Andre mengganggunya lagi, kau harus lebih hati-hati lagi menjaga istrimu'' Bimo mengehembuskan nafas
Sakit hatinya ketika mengucapkan kata istri
Satria mendelik ''Kemarin kalian bertemu Andre?''
Bimo mengangguk ''Dia pikir selama ini aku dan Reyna....ahh sudahlah, yang jelas Andre sudah tahu dia istrimu, semoga saja dia tak mengganggu Reyna lagi'' Bimo mengibaskan tangannya
''Kupikir kau dan Reyna memang ada hubungan khusus selama ini'' Satria tertawa mengejek
''Tapi kau tenang saja, jika rasa ini bisa tumbuh pasti ada cara juga untuk membunuhnya, aku hanya butuh waktu'' lanjutnya pilu "Beri aku waktu 2 bulan lagi, aku masih membutuhkan bantuan Reyna untuk menyelesaikan proyek besar. Setelahnya aku akan urus pengunduran dirinya'' Bimo menghembuskan napasnya pelan
‘'Pulanglah Sat, aku mau tidur!"' usirnya
Satria mengambil duduk disebelah Bimo, menepuk pundak lelaki itu
"Kau tak perlu repot-repot mengurus pengunduran diri Reyna, paling lama 4 atau 5 bulan lagi aku urus perceraian dengan Reyna''
‘'Apa maksudmu?'' Bimo menghentakkan tangan Satria dari pundaknya dengan kasar
Satria menghela napas dan mulai menjelaskan dari awal mula kesepakatan pernikahan mereka
‘'******* kau Satria. Kupikir cukup Niken saja yang jadi korban keegoisan dan juga sifat posesifmu itu''
‘'Bim,, aku akui aku salah soal Niken, tapi kau tahu aku tak bisa hidup tanpanya''
‘'Tapi kau peralat Reyna untuk mencapai kemauanmu itu Sat?''
__ADS_1
‘'Bimo,, please semua tidak akan terjadi jika kemarin aku terancam akan gulung tikar. Sebentar lagi aku bisa kembalikan modal usaha ke orangtuaku. Aku akan hidup dengan Niken tanpa beban''
‘'Cckk,, jadi kau kemari merelakan Reyna untukku hanya untuk mengusir rasa bersalahmu kan?"'
Telak
‘'Apakah kau juga akan melakukan semua ini jika Andre diposisiku?" tantang Bimo
‘'Tentu saja tidak!'' tukas Satria cepat
‘'Selama ini aku menjaga Reyna agar dia mendapat pasangan yang layak kelak. Sialnya dia justru tertarik padamu'' lanjut Satria
‘'Apa bedanya aku dan kau Satria,kita berdua tahu tak ada yang lebih layak untuk Reyna'' cibir Bimo ‘'Semua orang berhak berubah Sat, sama ketika kau bertemu Niken. Mungkin ini juga yang aku rasakan ketika mengenal Reyna''
Keduanya terjebak dalam diam
‘'Aku hanya ingin mengembalikan Reyna kembali ke keluarganya utuh ,sama pada saat aku menerima dia dari keluargaku hanya itu Bim. Aku percaya Reyna tapi aku tak percayakan itu padamu''
‘'Come on Sat…kemunafikan apa lagi ini. Apa kau dulu juga bisa menolak saat Niken datang padamu yang jelas-jelas belum ada ikatan syah waktu itu!''
‘'Bim,, aku hanya minta kau jaga Reyna untukku. Ayolah!''
‘'Apakah ini syarat kau lepaskan Reyna?''
‘'Yah bisa dibilang begitu. Aku tertekan melihat dia murung akhir-akhir ini"''
Bimo tersenyum penuh kemenangan, di rangkulnya pundak Satria
‘'Thanks Bro. Aku janji jaga Reyna untukmu, kecuali dia yang menawarkan dirinya sendiri padaku''
‘'******* kau Bim!''
''Sat..jujur padaku''
Satria menoleh kearah Bimo
''Kau tak pernah macam-macam dengan Reyna kan?''
Satria menggeleng ''Tidak, karena dia tak pernah merelakan dirinya untukku'' Satria terbahak
"'Sudah kutebak isi otakmu itu…dan isi otak kita itu sama Sat!"' Bimo ikut tergelak
__ADS_1
''Dia terlalu berharga untuk aku sakiti Bimo'' Satria menatap Bimo tajam ''Kuharap kau juga berpikir sama sepertiku''