Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
80. Pupus


__ADS_3

Reyna datang sore harinya saat mendengar kabar Bram sudah pulang kerumah kembali dari Bianca, tak lagi dijumpainya mobil milik Bram digarasi. Tadi pagi Bianca memberitahukan bahwa keluarga terpaksa menjual aset Bimo untuk menutup biaya perawatannya. Mobil adalah aset pertama yang mereka jual.


Terdapat tabung oksigen besar ditempatkan di samping ranjang dikamar milik Bram. Kamar seberang yang dulu dihuni Reyna kini dihuni perawat yang dipekerjakan untuk merawatnya.


"Dewa mana?" pertanyaan pertama yang Bram ajukan ketika melihat Reyna datang


"Besok-besok ya Mas, aku tadi dari kantor langsung kemari sengaja menengokmu lebih dulu"


Nampak gurat kecewa di wajah pria itu


"Ehmm besok-besok pas Mas Gandhi datang kesini, biar aku minta tolong dia untuk jemput Dewa dulu" hibur Reyna


"Reyna.. sepertinya aku harus kerja keras dari nol setelah aku sembuh nanti"


"Eh.. apa?"


"Sebelum ada pendonor aku pasti akan sering kerumah sakit, biayanya pasti tidak sedikit" pria itu mengambil napas dengan susah payah "Belum lagi biaya untuk operasi cangkok hati padahal aku berjanji membelikannmu rumah " keluhnya


Reyna duduk dipinggir ranjang dan menggenggam tangan itu dan meletakkan di pangkuannya.


"Mas jangan pikirkan soal itu. Saat ini kesehatanmu yang utama. Semoga segera ada donor yang cocok, jadi Mas Bram bisa segera sembuh"


.


.


.


Sesuai janjinya, Gandhi datang beberapa hari setelah Bram diijinkan untuk rawat jalan. Dewa turut serta menengok Bram bersamanya.


Reyna menyusul kemudian setelah jam kerjanya berakhir.

__ADS_1


Nampak Gandhi sedang berbincang serius dengan Linda di ruang tengah saat Reyna tiba disana, Linda baru kembali dari Singapura setelah menghubungi hampir seluruh mantan rekan kerja Bram disana termasuk dokter teman Bram, berharap akan ada pendonor hati yang cocok.


"Dewa mana Mas?"


Gandhi hanya menunjuk kamar Bram dan kembali melanjutkan pembicaraannya dengan Linda.


Reyna tak langsung masuk ke kamar Bram melainkan masuk ke kamar mandi lebih dulu.


Saat kran air ia matikan sayup-sayup ia mendengar sepotong pembicaraan mereka.


"Semoga saja ya Gandhi, tak gampang mencari donor yang cocok. Tak hanya golongan darah yang cocok tapi juga postur tubuh. Bram satu-satunya dikeluarga yang mewarisi postur tubuh almarhum ayah, postur tubuhku dan adik-adik lain mewarisi almarhumah mamah. Lagipula dokter tidak menyarankan pendonor wanita" ini suara Linda


"Ya sudah mbak, besok kita bertemu disana untuk melakukan tes" Gandhi menjawab


Dewa sedang bermain diatas ranjang tepat di kedua kaki Bram


Reyna menggendongnya memintanya turun


"Papa Iyo lagi sakit, Dewa main dibawah saja ya.. "


Bram hanya memandang bisa Dewa dengan mata sayunya terkendala lemah fisiknya saat ini.


.


.


.


"Mas Gandhi yakin berniat mendonor?" pancing Reyna di mobil saat perjalanan pulang


"Kau dengar?" Gandhi melirik Reyna

__ADS_1


"Pertimbangkan kesehatannmu juga Mas, donor organ dalam itu tidak mudah"


"Usiaku masih masuk persyaratan Reyna, golongan darahku juga sama, postur tubuhku juga sebelas dua belas dengan Bram, kenapa tidak?"


"Tapi.. "


Gandhi menghentikan mobilnya saat lampu merah menyala, tangannya menepuk bahu Reyna


"Biarkan aku menebus kesalahanku dimasa lalu, tanpa Bram aku tak bisa bayangkan kau mengasuh Dewa seorang diri"


Reyna hanya melengos, dia merasa berdosa membiarkan pria itu tetap menganggap Satria sebagai ayah dari Dewa, terkukung dengan perasaan bersalah akibat perjodohan itu.


.


.


.


Hari ini Reyna sengaja menemani Gandhi ke rumah sakit untuk melakukan serangkaian tes calon pendonor.


Tahap pertama adalah pengambilan sample darah, selagi menunggu hasil laboratorium Gandhi melakukan USG untuk mengukur ukuran liver yang disyaratkan hampir sama dengan pasien.


Gandhi tersenyum puas saat dokter menyatakan ukuran livernya memenuhi persyaratan, demikian dengan Reyna.


"Pak Gandhi.. " panggil salah seorang petugas administrasi bagian laboratorium "Ini hasilnya silahkan menuju bagian penyakit dalam untuk konsultasi dengan dokter" terangnya


Reyna mengekori Gandhi yang bergegas menuju bilik dokter penyakit dalam


"Kau tunggu disini saja" cegah Gandhi


Cukup lama Reyna menunggu dengan gelisah hingga wajahnya berubah pias saat melihat Gandhi melangkah gontai keluar dari bilik putih itu.

__ADS_1


"Rhesus ku tidak cocok dengan Bramantyo" Gandhi bicara seakan napasnya tercekat di kerongkongan "Dan buruknya lagi, rhesus milik Bram termasuk jenis langka"


Reyna hanya terdiam, tak satupun kata terucap dari bibirnya. Harapannya pupus , akan semakin kecil kemungkinan kesembuhan untuk Bram.


__ADS_2