
Bimo tersentak, dia mendengar dengan jelas apa yang Satria ucapkan. Niken ? Hamil ?
Satria menyulut sebatang rokok
"Aku harus segera menikahi Niken Bim.."
"Lalu Reyna?" tanya Bimo telak
"Menurutmu aku harus bagaimana lagi?" Satria memijit keningnya "Uang yang akan kukembalikan ke Bapak masih belum cukup. Belum lagi aku harus menanggung penalti sisa masa kontrak kerja Niken"
Terdengar napas berat menderu
Satria mencecap kopinya, pahit tapi tak sepahit kenyataan sekarang
"Aku sungguh tak menyangka Niken dibakar cemburu dengan Reyna hingga ia melakukan hal bodoh itu. Dia berhenti meminum pil hariannya, Niken hanya berpikir instan hal apa yang membuat mengikatkan aku dengannya. Anak! . dan keberuntungan sedang berpihak padanya"
Bimo tak bisa berkata apa-apa , dia bahkan merutuki perbuatannya semalam. Jika posisi sekarang ini Reynalah yang hamil anaknya bukankah Satria juga akan tetap mengakhiri semua ini dengan kondisi yang sama tanpa Bimo bisa berbuat lebih.
"Aku tidak bisa menyalahkan Niken yang mengambil keputusan itu toh dulu aku juga memutuskan sepihak saat aku menikahi Reyna. Harusnya dia bisa sedikit lebih bersabar beberapa bulan lagi aku berniat untuk mengakhiri semua ini. Tapi sekarang aku belum siap Bimo" keluh Satria
"Hanya ada satu solusi" lanjutnya
"Apa itu Sat?"
"Aku jual semua aset dan aku mulai lagi dari nol. Kebetulan ada kolegaku sedang ingin mencoba bisnis baru, meskipun nanti design aku pegang hak cipta tapi tentu saja dia pemiliknya"
"Sat, itu sama saja membunuh karirmu!" Bimo berteriak
Satria mengedikkan bahunya
"Hanya itu satu-satunya solusi instan!" desis Satria "Aku tak punya jalan keluar lainnya. Mungkin memang sudah saatnya Niken aku peristri dengan atau tanpa restu"
Bimo melirik Satria, lusuh dan entah berapa hari pria itu tak tidur
"Lantas kapan kau bawa Reyna pulang jika memang itu keputusanmu?"
"Akhir pekan depan, lebih cepat lebih baik."
.
.
.
Sama halnya dengan Bimo, Reynapun tak mampu berkata-kata saat malam hari Satria menjelaskan hal serupa. Tak ada yang bisa dilakukan kecuali sesegera mungkin mengkhiri drama ini,apapun resikonya.
.
.
.
Akhir pekan depan tiba. Dengan berat hati Satria mengumumkan pergantian kepemilikan usahanya kepada seluruh karyawannya.
__ADS_1
Reyna memeluk erat Bimo sebelum dia masuk ke mobil Satria. Entah dia tak bisa bayangkan apa yang akan terjadi disana nanti. Keduanya terdiam selama perjalanan, tenggelam dalam renungan masing-masing.
Drttt drtt ponsel Reyna bergetar
"Ya Mbak May,,emmm ini sebenarnya aku sama Mas Satria juga mau kesana ..ohh ya.. tapi nanti ya Mbak. Mas Satria ada urusan sebentar..Iya ..oke aku kabarin"
"Mbak May juga lagi jalan kerumah pakdhe, dijemput Mas Gandhi karena suaminya luar kota. Mbak May minta kita nyusul kesana " terang Reyna
Satria hanya mengangguk
pasti aku kesana Reyna, segera setelah menjelaskan ke orangtuaku, aku akan menyelesaikan ini baik-baik
Tiba dikediaman Pak Wiji,Satria masuk kerumah menggandeng Reyna mencari Pak Wiji.
"Eh menantuku datang, kok nggak ngabarin Nak" Bu Wiji memeluk Reyna
"Bapak mana Bu?" tanya Satria
"Tadi diruang kerjanya..eh lah itu Bapak"
Nampak Pak Wiji berjalan menuju ruang tengah
"Kejutan Sat?" sapa pria itu
iya Pak ini kejutan batin Satria
"Bapak Ibu , Satria dan Reyna mau bicara, penting!"
"Wahhhhh..jangan-jangan kita mau punya cucu Pak!" serunya sumringah
"Ibuuukkk" tegur Satria
Sunyiiiii, hanya terdengar hembusan napas Satria yang berat
"Saya akan menceraikan dengan Reyna"
Sepiiiiii
"Guyonan macam apa ini Sat, Rey" suara Pak Wiji menggelegar
"Bapak tahu kalian terpaksa menjalani pernikahan ini, tapi tidak secepat ini kalian memutuskan bercerai. Semua butuh proses Sat, lama-lama juga kalian akan saling mencintai"
"Bukan itu Pak.." Satria memejamkan matanya dan melanjutkan ucapannya "Saya menghamili Niken"
Bu Wiji refleks memegang dadanya lalu menghampiri Reyna. Memeluk menantunya erat , isak tangisnya terdengar kemudian
"Sabar Nak Rey, ini ujian rumah tangga"
"Suruh Niken gugurkan anak itu, atau berikan saja uang padanya berapapun yang dia minta asal pergi dan tidak mengganggu rumah tangga kalian lagi" jawaban Pak Wiji membuat semua mata tertuju padanya
Sungguh Reyna tidak menyangka Pak Wiji akan setega itu, Satria mengepalkan tangannya geram
"Saya akan ceraikan Reyna baik-baik Pak dan akan tetap menikahi Niken untuk bertanggung jawab"
__ADS_1
"Satria!" Pak Wiji berdiri berjalan menuju Satria, dia pegang bahu anaknya dan digoyangnya dengan kuat
"Sadar dengan apa yang kau ucapkan, cukup sudah kesalahan yang kau perbuat! Bapak Ibu akan menanggung malu sampai kau nekat. Kau tak pikirkan masa depan Reyna dan nama baik keluarganya!"
"Satria dan Reyna sudah sepakat Pak untuk bercerai"
"Tentu saja Reyna setuju, mana mau dia dimadu, Satria tolong pertimbangkan lagi. Bapak tak peduli bagaimana caramu, Bapak tak sudi punya cucu dari wanita yang tak jelas asal usulnya!"
"Pak cukup, aku kemari hanya untuk menyelesaikan rumah tanggaku dengan Reyna. Dan aku tetap menikah dengan Niken dengan atau tanpa restu Bapak Ibu"
"Kau masih ingat kan jika kau tetap pada pilihanmu kau tak berhak sepeserpun dari hak warismu dan Bapak akan tarik semua bantuan untuk usahamu"
"Satria tahu Pak" Satria menyerahkan koper yang berisi lembaran uang dan membuka dihadapan Pak Wiji
"Ini Satria kembalikan semua bantuan Bapak, Satria dan Reyna permisi, maafkan Satria Pak Bu"
Bu Wiji berlari memeluk Satria
"Ibu mohon Sat, kamu pikirkan Reyna,kasihan dia Sat. Nak Reyna tolong pikirkan lagi, perceraian bukan jalan terakhir. Satria kau bisa tetap bertanggung jawab akan anakmu tanpa harus menikahi Niken"
Tak disangka Pak Wiji menghambur menarik lengan istrinya menjauh dari Satria dan menampar Satria
.
.
.
"Ante Yeyy" tiba-tiba terdengar terikan Adam kecil menghambur masuk ke dalam ruangan yang sedang panas sambil menangis.
Dan BUUGH! bogem mentah melayang dari Mas Gandhi yang tiba-tiba muncul. Satria terhuyung kebelakang darah segar keluar dari hidung Satria. Seakan belum puas Mas Gandhi mencengkeram kerah leher
"Brengsek kau Satria, bisa-bisanya kau akan menghamili wanita lain dan hendak menceraikan Reyna"
Entah berapa lama pria itu berdiri disana mendengarkan pembicaraan itu
"Mas Gandhi tunggu biar Reyna jelaskan" seru Reyna dia hendak memisahkan dua pria itu tapi tangan Reyna dipegang erat oleh Mbak May yang sudah berada disampingnya
"Maaf Pak Wiji Bu Wiji kami lancang masuk, kami permisi pulang" pamit Mbak May
Gandhi menghempaskan Satria dan melangkah menjauh
"Nak Gandhi Nak May duduk dulu, kita bicarakan baik-baik"pinta Bu Wiji
"Kau Sat, jangan pernah lagi kau temui Reyna, pengacara Reyna yang nanti bertemu denganmu di pengadilan agama" ancam Gandhi kemudian menyeret tangan Reyna keluar dari rumah, memaksa masuk kedalam mobil. Adam menangis histeris berada digendongan Mbak May yang juga berlari dibelakang menuju mobil.
Brakkkkkk pintu mobil dibanting keras oleh Gandhi. Dia pacu mobilnya dengan kencang, Reyna memohon kembali ke rumah Pak Wiji diberikan kesempatan bicara tapi Gandhi menolak, kedua orang itu saling berteriak di mobil.
Tangis Adam yang makin menjadi seketika terhenti saat Gandhi berteriak kencang, menginjak pedal rem tibatiba, memukul setir dan menyuruh Reyna menutup mulut.
"Untung tadi Adam minta mampir kesana lebih dulu. Dan kau Reyna pikirkan baik-baik bicara hati-hati pada Bapak!" cetusnya dengan nada amarah.
Reyna hanya terdiam dalam tangisnya
__ADS_1