Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
114. Menjelang


__ADS_3

Hari bergulir begitu cepat, tak terasa minggu depan telah menjelang. Reyna telah menampakkan dirinya di Sabtu pagi dikediaman Pak Alex setelah dirinya dijemput oleh Pak Man.


Mbak May sedang dalam perjalanan menuju kantor WO saat Bimo melajukan mobil menuju rumah Satria untuk menitipkan Dewa disana. Ketiganya akan bergelut dengan waktu hari ini, kantor WO, toko perhiasan dan percetakan adalah 3 tempat yang harus didatangi sekaligus.


May memeluk Reyna saat melihat wanita bertubuh sintal itu memasuki kantor WO dengan menggandeng Bimo.


"Langsung aja yuk, jangan buang waktu" ajak May menemui salah satu public relation yang sebelumnya telah dikontak oleh May.


Cukup lama untuk mematangkan lokasi, busana, dekor, katering dan fotografi. Reyna dan Bimo memutuskan untuk menyelenggarakan akad dan resepsi di ballroom hotel melanjutkan bermalam untuk pengantin dan keluarga.


Berlanjut ke toko perhiasan, memilih dan menentukan ukuran. Terakhir adalah percetakan undangan yang sebelumnya telah mereka hubungi, hanya meninjau sample akhir sebelum dicetak secara massal.


DONE!


Ketiganya berada di pojok cafe & ice cream 24 hours, memanjakan punggung dan kaki mereka.


"Mbak May ikut menginap saja di rumah Om Alex" tawar Reyna


"Iya Mbak.. sudah sore banget ini. Bisa-bisa kemalaman sampai rumah" Bimo menimpali


"Nggak usah, kasihan Mas Aris sama Adam"


"Adam kan sudah besar mbak, ayolah kita sudah lama tak berbincang" rajuk Reyna


May menimang ponselnya lalu memutuskan menghubungi Aris untuk meminta ijin.


"Oke deh.. Mas Aris ijinin kok" Mbak May berkata riang


"Kita jemput Dewa dulu Rey?" tanya Bimo


"Minta Mas Satria antar aja ya Kak, aku capek. Biar Mbak Niken ikut dan nanti kenalan sama Mbak May" Reyna bergelayut manja dilengannya.


"Kamu saja yang hubungi Satria"


Reyna manggut-manggut dan menghubungi Satria diponselnya


"Apa Rey?"


"Mas.. Dewa sedang apa?"


"Main sama Rara, kenapa?"


"Eh.. aku capek. Anterin Dewa pulang ya, ajak Mbak Niken sekalian"


"Hih kamu ini, sudah nitip anak suruh aku juga yang antar"


"Hehehe.. Mau tapi kan ya?"


"Iya.. Iya.. " Satria masih bersungut-sungut diujung sana


---


"Beress..." Reyna mengangkat dua jempolnya.


"Hemm... aku ke toilet dulu" Bimo mengacak ujung rambut Reyna


May menunggu hingga punggung Bimo menghilang dan menyentil lengan Reyna


"Mas Gandhi sudah cerita kalau ternyata Bimo berteman dengan Satria, aku pusing sama kalian"


Reyna justru terbahak "Aku aja santai kok Mbak"


"Bimo nggak cemburu kamu dekat sama Satria"


"Ehmm.. enggaklah" Reyna menggigit ujung sedotannya, ahh Bimo kan hanya cemburu dengan Bram. Mana mungkin dia cemburu dengan Satria.


.

__ADS_1


.


.


"Mbak Niken, makasih ya.." Reyna menghambur memeluk Niken yang menggandeng Rara dan Dewa.


"Iya... sudah beres semua urusannya?"


"Sudah... eh ayo sini masuk aku kenalkan kakakku yang paling cantik" Reyna mengamit lengan dan mengajak ke ruang tengah


"Mbak May.. kenalkan ini Mbak Niken istri Mas Satria"


May berdiri dan menyambut uluran tangan wanita cantik dihadapannya, tak lama Satria menyusul menuju ruang tengah


"Mbak May.. Lama tak jumpa" Satria menyalami May dengan kaku


"Ngobrol dulu lah biar nggak canggung.. aku buatin minum dulu ya" Reyna berjalan menuju ke minibar yang terletak disudut ruang tengah terhalang partisi kayu.


"Sayang.. aku mau bicara sebentar sama Reyna. Kamu tak apa kan aku tinggal sebentar?" pamit Satria pada Niken "Bro.. aku pinjam calon istrimu dulu ya!" Satria menatap Bimo yang hanya mengangguk pelan


----


"Sstt.. Rey.. " Satria menjawil lengan Reyna dan menoleh kekanan kekiri memastikan tak ada orang yang bisa mendengar pembicaraan mereka


"Kenapa?" Reyna mengambil beberapa cangkir dan menatanya di nampan.


"Kamu sedang merencanakan apa?" tanya Satria berbisik


"Pernikahan" jawab Rey enteng, tangannya mengambil beberapa kantung teh dan merendamnya di teko yang terisi air panas


Satria mengekor dibelakangnya "Tadi Dewa cerita kemarin ia kamu ajak ke rumah nenek Rara, apa maksudnya"


DEG


"Eh... " ahhhh siallll


"Apa?" Satria berkacak pinggang dan menaikkan kedua alisnya


"Nggak lucu kamu Rey"


"Siapa juga yang lagi melucu"


"Ngapain kamu nemuin Ibu?"


Reyna membuang kantung teh ke tempat sampah. Menghentikan aktivitasnya dan duduk di kursi bar, diikuti Satria mengambil duduk disebelahnya.


"Mas Satria marah?"


"Buat apa aku marah, aku cuma tanya kan?"


"Masih marah sama Bapak Ibu?"


"Tidak"


"Trus kenapa nomor mereka kamu blokir? Ibu cariin Mas Satria kemana-mana. Kasihan" Reyna memegang lengan Satria


Satria mendengus " Aku cuma nggak mau Niken terluka Rey"


"Bapak Ibu ingin ketemu Mas Satria, Rara dan pastinya Mbak Niken juga"


"Kenapa?"


Reyna mengedikkan bahunya "Mungkin karena membenci membutuhkan lebih banyak energi dan kedua belah pihak nampaknya sudah lelah"


Digesernya kursi bar dan turun untuk menuang teh ke gelas "Tadinya aku mau bikin kejutan, biar Bapak Ibu ketemu Mas sekeluarga besok pas acaraku dan Kak Bimo. Tapi.. ya sudahlah Mas keburu tahu, eh Mbak Niken nggak tahu kan ya? "


Satria menggeleng "Tidak, tidak ada Niken waktu Dewa cerita"

__ADS_1


"Jadi Mas nggak keberatan kan ketemu Bapak Ibu?"


"Aku khawatirkan Niken"


"Blood is thicker than water but love is thicker than both" Reyna mendorong dada Satria dengan telunjuknya "Darah Rara darah mereka juga, darah Mbak Niken juga darah Rara. Jika Bapak Ibu bisa menyayangi Rara mereka akan menerima Mbak Niken!"


Terdiam sesaat memikirkan perkataaan Reyna


"Kamu yakin kalau pertemuan besok berjalan aman?"


"Yakin, dan aku yakin akan ada pertemuan kedua ketiga dan seterusnya. Pesona Rara pasti membuat luluh Bapak Ibu" Reyna mengangkat nampannya dan berjalan meninggalkan Satria sendiri


.


.


.


Perbincangan hangat terjadi diruang tengah kediaman Om Alex, semuanya menikmati suasana malam itu. Hingga malam bergulir dan Satria berpamit pulang.


Didepan pintu rumah Satria menarik pergelangan tangan Reyna menuju samping rumah


"Reyna, kamu yakin Bapak Ibu akan datang?"


"Pasti" Reyna mengangguk yakin


"Terimakasih ya Rey.. "


"Sama-sama. Aku ingin Mas dan keluarga bahagia seutuhnya. Terimakasih juga Mas sudah berkenan mempertemukan aku dan Kak Bimo kembali"


Keduanya berpelukan hangat layaknya kakak beradik, Reyna menepuk dada pria itu saat Satria melepaskan pelukannya


"Hei... jangan lupa satu hal!"


"Apa???"


"Jangan lupa berpura-pura terkejut saat pertemuan kelak!" keduanya terbahak


Satria mengalungkan tangan merangkul leher Reyna dan keduanya berjalan kembali ke teras


"Ah Sat, kau culik kemana lagi calon istriku" Bimo merengut marah


"Sorry.. pinjam lagi.. Nih aku kembalikan" Satria mendorong tubuh Reyna hingga menabrak Bimo didepannya


"Besok-besok jangan pegang-pegang sembarangan, aku cemburu!" Bimo menonjok lengan Satria cukup keras hingga Satria mengaduh "Kau tak takut Niken cemburu juga heh?"


Reyna membelalak "Ahh... Mbak Niken nggak mikir macam-macam kan?? "


Niken tersenyum kecut "Cemburu ada.. tapi aku tak yakin kau mau dengan Satria" gelak tawa membahana dari mulut wanita itu kemudian.


.


.


.


Dewa tidur dengan Alex dikamar atas sedangkan Reyna dan May masih terlibat perbincangan ringan ditempat tidur kamar tamu.


"Rey.. sebentar lagi kamu jadi istri sungguhan" May tertawa kecil


"Ah iya.. dulu aku hanya istri pura-pura" Reyna menutup mulutnya menahan tawa


"Rey.. pernikahan itu tidak mudah. Ibarat naik kapal banyak sekali gelombang menerpa jadi kalian berdua harus kuat" May memegang punggung tangan Reyna


"Iya Mbak, tapi Rey lihat rumah tangga Mbak dan Mas Aris baik-baik saja"


"Semua yang terlihat baik-baik saja tidak berarti ada masalah. Bijaksanalah dalam mengambil keputusan"

__ADS_1


"Mbak.. kenapa ya Mas Gandhi tidak berniat menikah lagi?"


"Karena menikah itu tidak mudah" May tersenyum penuh arti


__ADS_2