
"Kak... bangunn.. " bisiknya ditelinga Bimo, Reyna berjingkat pelan menurunkan kedua kaki dari sofa meskipun kantuk masih menggelayut
"Kak... " digoyangkannya tubuh pria yang hanya menggeliat pelan
"Kakk... pindah kekamarmu" masih berusaha membangunkan dengan membuka paksa kelopak mata Bimo
"Ehhmmmppp.. " gelengan kepala Bimo membuat Reyna gemas
"Kak!" cubitnya diperut "Nanti Om Alex keburu bangun!" pekiknya tertahan
"Biarin... " satu kata akhirnya keluar dari pemilik mata yang masih terpejam
"Ish.. " diangkatnya dua tangan kekar memaksanya bangkit
Tubuh itu terbangun dan bersandar disofa
buugghh...
Tangan Reyna ditarik paksa dan jatuh kepangkuan Bimo, mata nakal itu memicing dengan senyum seringai. Dua tangannya merengkuh tubuh Reyna menguncinya kuat, menenggelamkan mukanya ke rambut harumnya.
"Lepas Kakk.., nanti Om Alex lihat"
"Nggak apa-apa" Bimo mengusap-usapkan mukanya ke lengan Reyna
"Nanti dikira kenapa-kenapa" Reyna menggeliat risih
"Ya sudah... yuk ngapa-ngapain sekalian.. daripada sekedar dikira-kira" goda Bimo
"Ah nggak lucu. Lepas ah.. aku mau mandi"
"Aku lepas tapi aku ikut mandi"
"Ih.. "
"Cium.. " rengek Bimo
"Nanti.. "
"Sekarang.. " Bimo melepas satu tangannya, menyibak rambut gelombang itu kebelakang telinga dan menarik dagu Reyna mendekatkan ke bibirnya.
"Ehemmm..... "
shittt gerutu Bimo, tanpa menoleh dia sudah tahu pemilik deheman dibelakang mereka
"Eh Om... " Reyna buru-buru berdiri
Alex mendekat dan berkacak pinggang dihadapan mereka
"Kalian keluar semalam.. ?" bertanya curiga melihat sweater melekat ditubuh keduanya
"Iya... Kak Bimo nggak bisa tidur, minta ditemani ke kafe" rupanya Reyna sudah menyiapkan jawaban jitu
"Iya Om.." Bimo menjawab sambil menguap, maunya minta ditemani tidur bisiknya dalam hati
"Ya sudah Om mau lari pagi dulu" pria itu menarik handuk kecil dari lehernya "Bimo, kamu mau temani Om?"
Bimo berdiri dengan malas "Masih ngantuk Om! Bimo mau susul Dewa saja, tidur lagi"
Alex menggelengkan kepalanya, tak disangka disabetnya bagian vital Bimo dengan handuk ditangannya, cukup keras hingga pemiliknya mengaduh
__ADS_1
"Banyaklah olahraga agar ada pelampiasan!"
.
.
.
Semprotan parfum terakhir ia tebar di rambut panjang gelombangnya, mematut-matut sebentar ke cermin, menghela napas panjangnya. Hari ini dia akan bertemu nenek gombel itu lagi.
Benar kata orang kesan pertama itu meninggalkan bekas. Tapi apa daya, Dewa merajuk sepanjang makan pagi, evorianya seakan tak terbendung hendak bertemu gadis cilik cantik anak Satria.
"Ayo Ma...hangkattt" teriak Dewa saat melihat Reyna melangkah keluar dari kamar
"Om boleh ikut?" Alex menurunkan koran yang sedang ia baca
"Boleh... " tukas Reyna cepat sebelum Bimo bersuara, lekaki itu merengut sebal
---
"Kak.." Reyna menahan lengan Bimo saat berjalan disampingnya "Om Alex nggak tahu aku dan Mas Satria itu.. " bisiknya
"Beres.... " Bimo menepuk pundak Reyna.
.
.
.
Reyna gugup saat memasuki rumah berlantai dua bergaya minimalis dengan nuansa abu.
Kedua mata Satria tak lepas menatap Reyna
"Tunggu sebentar.. " Satria menahan pergelangan tangan Reyna "Dewa masuk dulu ya, Rara ada didapur sama Tante Niken"
---
"Aku ikut berduka cita Rey.. " tangan itu lembut mengelus punggung wanita yang menoleh padanya "Aku datang waktu itu tapi tak bertemu denganmu"
"Iya.. makasih Mas. Doakan saja Mas Bram tenang disana"
"Pasti Rey, dia laki-laki yang baik. Menjagamu setelah semua kekacauan yang kubuat"
"Ahh... sudahlah. Oh ya maaf aku tak menghubungimu lagi sejak itu, aku tak enak hati.. takut ada salah paham lagi.. "
"Tak apa, Bimo sudah bantu jelaskan ke Niken. Ayo masuk, dia sudah tak sabar bertemu denganmu"
Nenek gombel itu tak sabar bertemu denganku, benarkah? gumam Reyna dalam hati
.
.
.
Kedua wanita itu saling menatap tak berkedip, memuji kelebihan masing-masing dalam hati.
Niken berdiri dan mendekat lebih dulu "Bantu aku siapkan cemilan untuk anak-anak" pintanya ramah sambil tersenyum
__ADS_1
Tubuh ramping itu cekatan memasuki dapur dan mengeluarkan adonan dari kulkas dan mengambil loyang.
"Belum selesai sudah keburu kalian datang" Niken menunjuk meja belakang Reyna "bantu masukan ke cetakan ya"
Cetakan itu ditata rapi keloyang oleh Reyna "Mbak.. " panggilnya mencairkan suasana yang canggung "Aku minta maaf, awal pertemuan kita itu..."
Niken menghentikan memarut batangan keju cheddar "Harusnya aku yang minta maaf" disentuhnya punggung tangan diseberangnya
Senyum Niken mengembang "Aku tidak menyesal cemburu dengan wanita sepertimu, kamu memang pantas dicemburui"
Reyna membalas senyuman itu "Maaf kalau aku membuat banyak kesalahpahaman diantara kalian"
"Tak apa" Niken menjumput parutan keju diatas cetakan yang sudah berisi adonan "Yuk buruan selesaikan trus kita susul Dewa dan Rara"
.
.
.
Bimo menggelitik pinggang Reyna dan menariknya mendekat ke tubuhnya. Sementara Om Alex masih disibukkan dengan kedua bocah kecil. Satria dan Niken yang duduk disofa seberang sana kompak menahan tawa melihat Bimo yang tak henti mencuri kesempatan menggoda Reyna.
"Ma... Ewa au ekolah ama Lala" rajuk pria kecil itu saat memakan macaroni schotel buatan Niken
"Ehmm.. iya besok-besok kalau sudah besar nanti bisa sekolah sama Rara" Reyna mengelus dagu anaknya
"Ewa kalang masih kecil?" tanyanya sedih
Reyna manggut-manggut
"Belum terlambat kan Rey kalau kau memang ingin Dewa dan Rara satu sekolah" Satria mengemukakan pendapat
"Ehm.. aku sudah terlanjur daftar untuk sekolah Dewa" kilah Reyna "Lagian aku kan bekerja disana Mas, masih repot juga soalnya sebentar lagi Bianca cuti hami"
"TK saja nanti mereka satu sekolah, ya Rey?" Niken menimpali
"Ehmm.. iya mungkin Mbak"
"Alamakk setahun lagi ini" Bimo berkata lantang memasang muka masam membuat semua orang menoleh
"Apanya Bim?" tanya Niken dan Satria hampir bersamaan
"LDR-an"
"Buruan kawinlah daripada kamu takut Reyna digandeng orang lagi?" Satria tergelak
"Soal kawin gampang...kapan aja.. dimana aja"
"Heh!" teriak Om Alex menggema membuat ruangan senyap seketika "Jaga bicara kalian, ada anak-anak kecil!"
"Maaf Om.. maaf" sahut Satria dan Bimo berbarengan
"Tunggulah sampai Reyna menyelesaikan semua urusannya dulu. Ya kan Reyna?"
Beruntungnya Reyna ada Om Alex yang menyelamatkan dari mulut besar Bimo
"Kalau bisa tidak harus tunggu Dewa masuk TK " lanjut Om Alex
Senyum yang tadi mengembang tiba-tiba hilang dari wajah Reyna, berganti Bimo dan Satria ber-high five didepannya
__ADS_1