Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
128. Complicated


__ADS_3

Pagi harinya Reyna menjemput Bimo keatas untuk segera turun ke bawah sarapan bersama seperti biasa.


Merangkul pinggang pria yang melingkarkan lengan dilehernya. Berdua menuruni tangga bagaikan pengantin baru.


Om Alex tersenyum melihat keintiman mereka.


"Pagi Om" sapa keduanya


Alex melipat koran dan berjalan mendekati meja makan


"Reyna sudah bicara Bim?"


"Sudah"


"Kamu ijinkan dia?"


"Terpaksa" Bimo menelan makanannya "Kalaupun Bimo nggak setuju tetap saja Om Alex paksa"


"Tumben kamu pintar Bim" Alex tertawa mengejek "Om janji peak season saja, kecuali Reyna mau lanjut"


Bimo melipat bibirnya dan menggeleng tegas "Three months Rey, no more!"


.


.


.


Reyna menuruni tangga selepas mandi, tubuhnya berkeringat setelah memasak hidangan makan malam dilanjutkan bersepeda keliling rumah.


Alex mendekat saat ia menata piring dimeja makan


"Tambah satu Rey" ucap Alex


"Ada tamu Om?"


"Iya, sudah didepan"


Reyna berbalik lagi ke dapur mengambil piring, saat kembali ke meja makan nampak Bimo tergesa masuk dengan muka masam.


"Minum dulu Kak"


"Nggak usah, mau guyur badan. Panas dari kepala sampai kaki" sahutnya sewot


Meletakkan piring lalu tergesa menyusul suaminya naik


"Kenapa Kak?"


"Jangan jadikan Om Alex alasan kamu mau kerja"


"Eh, kenapa sih Kak?"


"Puas kamu tadi ketemu dia sebelum aku pulang"


"Siapa?"


"Si Pras, siapa lagi"


"Ohh.. tamunya Om Alex itu Pras. Aku malah belum tahu"


"Lihat ponsel kamu" sahutnya galak


Memberikan ponselnya terheran-heran


"Kamu hapus?"


"Apanya?"


"Fotonya si Pras"


"Foto apa?"


"Foto Pras lagi lihatin kamu waktu reuni"


"Oh itu, aku hapus. Nggak penting"


"Dia suka kamu Rey"

__ADS_1


"Apa sih!" Reyna memukul lengan Bimo "Pras itu temen aku Kak, iya kita lumayan dekat soalnya dulu sama-sama jadi asdos selama 2 tahun"


Bimo melempar kemeja kerjanya kasar dan melangkah masuk ke kamar mandi. Reyna mengusap wajahnya terduduk di sisi ranjang menunggu suaminya.


---


"Kalau Kak Bimo mau batalin ya batalin aja, aku nggak masalah" Reyna berjinjit membantu mengacak rambut Bimo yang basah dengan handuk


"Nggak, pria itu yang dipegang ucapannya. Aku kan sudah bilang boleh berarti boleh"


"Tapi nggak rela gitu" Reyna menyodorkan kaos


"Awas kamu kalau macam-macam" Bimo menatap Reyna tajam


"Duh galaknya suami aku" Reyna menangkup pipi Bimo gemas


---


Duduk berhadapan, Bimo melirik tajam Pras.


Seperti biasa Reyna menuangkan nasi untuk semua anggota keluarga.


Saat Pras hendak mengangkat piring dan menyodorkan pada Reyna, Bimo buru-buru menggeser piring miliknya yang telah terisi nasi dan merebut piring dari tangan Pras.


"Besok mulai kerja ya Rey" Alex mencoba mendinginkan suasana


"Iya Om" Reyna mengangguk sambil membantu Dewa makan


"Oh ya Pras, kapan-kapan kamu ajak calon pasanganmu kemari untuk makan malam"


Ucapan Alex menghentikan aktivitas makan Pras lalu terdiam mencuri pandang pada Reyna "Ehm.. iya Pak"


Bimo enggan berkumpul dengan Alex dan Pras diruang tengah, ia memilih menyusul istrinya ke dapur membereskan sisa makan malam


"Biar aku saja Kak, sana main dengan Dewa saja"


"Sudah ada Om Alex" Bimo mengganggu aktivitas Reyna yang tengah mencuci piring, menuangkan sabun banyak-banyak dan meremas-remas hingga busa dimana-mana, ia tempelkan ke lengan istrinya


"Kak Bimo ganggu, sana duduk saja"


"Jadi Pras sudah punya calon Rey?"


"Sedekat apa sih kalian?"


"Biasa, cuma teman. Pras orangnya pendiam"


Reyna melirik Bimo yang masih asik bermain busa sabun "Cemburu?" godanya


"Enggak. Aku yakin kamu nggak suka dia"


"Sama Mas Satria kok cemburu, Rey kan juga nggak suka"


"Habis kamu rangkul-rangkulan gitu sama Satria"


"Ish, Mas Satria kan sudah aku anggap saudara"


Bimo membasuh tangannya "Rey, pergi yuk"


"Pergi?" keheranan menatap Bimo "Sama Dewa?"


"Berdua saja. Dewa titip Om Alex, sebentar saja. Yuk, mau ya?"


"Kemana?"


"Apartement"


"Ngapain?"


"Kan aku sudah pegang janji aku, gantian kamu pegang yang lain" Bimo menempelkan badannya seduktif


"Ih.. Kak"


"Yuk"


Reyna melepas celemeknya, tak apalah pikirnya daripada pria ini berubah pikiran nantinya soal ijin yang diberikan.


Berdua lari melesat bergandengan keluar, berlalu didepan ketiga makhluk diruang tengah

__ADS_1


"Om, kita keluar sebentar. Titip Dewa ya"


"Dewa.. mama pergi sebentar. Om, Reyna tinggal sebentar aja"


"Kemana??"


"Bikin adik cantik buat Dewa. Janji Om cuma satu ronde saja. Nanti langsung pulang"


Jawaban Bimo membuat Alex menggelengkan kepalanya. Sedangkan Pras menatap mereka berdua dan tersenyum kecut.


.


.


.


Reyna diantar oleh Pak Man, membuat pekerja Alex ini bolak balik berlawanan arah karena harus mengantar Dewa ke sekolah lebih dulu. Tentu saja karena permintaan Bimo. Suaminya akan menjemputnya sepulang kerja.


Berkutat dengan bejibun benda kebutuhan para kaum ekspatriat. Orang kaya mah bebas, apapun akan mereka order, Reynapun menggelengkan kepala ketika melihat sederet permintaan klien.


Hanya untuk acara perjamuan teh saja mereka menginginkan tea set impor dari tiongkok. Kenapa juga tak beli saja keramik set buatan pribumi. Sedikit banyak Reyna memahami bagaimana kesulitan Pras untuk membujuk klien-klien supaya merubah atau mengganti permintaan mereka, menolak adalah hal tabu bagi perusahaan mereka.


Reyna juga mempelajari beberapa barang yang sama sekali tidak diperbolehkan, salah satunya adalah obat-obatan karena regulasi yang berbelit-belit.


"Makan siang diluar?" tawar Pras menjelang jam makan siang


"Ehm, lain kali. Aku dibawakan bekal dari rumah"


"Makan diatas saja denganku, aku minta OB belikan makan siang untukku"


Reyna mengangguk saja, ia penasaran seperti apa hunian Pras di lantai tiga.


---


Lantai tiga memiliki ruang yang cukup luas karena hanya ada sebuah bilik kamar, sofa panjang depan televisi dan meja minimalis yang terletak persis menghadap jendela, tempat Reyna dan Pras duduk berhadapan saat ini.


"Maaf, aku tak pernah makan bersama siapapun" katanya sambil menduduki bangku yang ia ambil dari bawah karena hanya terdapat satu kursi disana.


"Wah, aku melanggar privasimu dong" Reyna agak terkejut


"Bukan, bukan begitu. Justru aku senang ada yang temani aku makan siang. Biasanya aku makan sendiri"


"Mereka?" Reyna menunjuk ke lantai bawah


Pras mengedik "Tak ada yang pernah bersedia naik"


"Pemandangannya pasti bagus kalau malam" Reyna mengedarkan pandangan


"Iya, spot yang paling aku suka, disini sekalian beresin pekerjaan. Oh ya, sudah kusiapkan meja baru, tak keberatan kan kita berbagi ruang"


"Berbagi?" Reyna membelalak "Ah tidak, jangan. Aku duduk diluar saja" bisa gawat kalau Bimo tahu


"Tak apa. Kamu kan menantu Pak Alex. Apa kata yang lain"


"Pras, statusku disini kan cuma pelaksana sementara karena nggak enak aku nolak Om Alex. Perlakukan aku sama seperti lainnya"


"Suamimu melarang bekerja?"


"Hemmm.. "


"Padahal kalian sudah lama menikah masih saja cemburu" Pras tertawa mengejek


"Belum lama, aku baru menikah 6 bulan"


"Bukannya kamu menikah sejak dari lulus" Pras bertanya heran


"Memang" jawab Reyna enteng


"Lalu Dewa?"


"Ya Dewa anakku, anak dari Kak Bimo"


"Nggak ngerti aku" Pras menggaruk kepalanya


"Makanya jangan jomblo kelamaan. Aku sampai nikah dua kali. Kamu sekali saja belum" Reyna tergelak "Pokoknya begitulah, it's so complicated"


Pras memandang Reyna, complicated? Ya sama begitulah kira-kira untuk menggambarkan perasaanku padamu.

__ADS_1


Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!


__ADS_2