Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
82. Hitam (1)


__ADS_3

Reyna kembali mengunjungi Bram dua hari berikutnya, tubuhnya hampir menabrak perawat yang keluar tergesa dari kamar Bram.


''Maaf Mbak Rey?''


''Kenapa Mbak?''


Perawat itu berbisik takut-takut ditelinga Reyna ''Pak Bram tadi panggil-panggil saya, katanya ada yang masuk kamar, tapi saya cari tidak ada siapa-siapa''


Reyna mendengus ''Ya sudah biar saya yang temani Pak Bram''


''Tolong suapin ya Mbak Rey, siapa tahu mau kalau sama Mbak Rey. Dari pagi Pak Bram menolak makan''


Reyna mengangguk mengikuti perawat itu ke dapur untuk mengambil ransum


.


.


.


Wajah Bram nampak pucat , tatapannya menerawang lurus kedepan.


''Mas Bram makan ya, aku suapin'' rayu Reyna sambil mendekatkan sendok ke bibir


Bram menggeleng pelan ''Aku tidak  lapar''


''Biar cepet sembuh..''


''Aku mau makan diluar sambil lihat matahari terbenam'' Bram merajuk

__ADS_1


Reyna meletakkan piring dan mengambil kursi roda di sudut kamar, dengan hat-hati ia memapah tubuh Bram yang terasa sangat ringan.


Lelaki itu kehilangan hampir sepertiga masa tubuhnya dalam waktu kurang dari dua bulan ini.


Reyna mendorong pelan kursi roda itu menuju taman dekat kediaman Linda, wajah Bram nampak berseri saat hangat temaram sinar mentari senja menerpa wajahnya.


Tangan kiri Reyna ia genggam erat


''Aku boleh minta satu hal?''


Reyna yang duduk di kursi taman seketika menengadah


''Jangan lepaskan cincin ini, kecuali kalau jarimu sudah tak muat karena gendut''  Bram memaksakan tertawa sampai terbatuk


Reyna tersenyum simpul dan mengangguk pelan.


.


.


.


Reyna baru saja kembali ke meja kerja saat selesai meeting kantornya, belum juga duduk rekan kerjanya berujar ''Mbak Rey ponselnya bunyi terus dari tadi''


Reyna memang tak pernah membawa masuk ponselnya jika sedang menghadiri meeting.


Beberapa panggilan tak terjawab dari Bianca rupanya, hatinya berdesir panik seketika melingkupi. Ia segera untuk menelepon Bianca, isak tangis yang pertama ia dengar.


''Kesini Rey, cepat kesini! Mas Bram kritis. Aku share lock''

__ADS_1


panggilan terputus


Reyna termangu dan mencoba menenangkan dirinya, tak lama pesan Bianca masuk. Kakinya lemas seketika saat memahami lokasi rumah sakit yang harus ia tuju.


Dipacu motornya dengan kecepatan diatas rata-rata, napasnya tersengal menahan derai air mata yang tak kunjung mereda, meskipun sudah ia halau semua pemikiran buruk tapi tetap saja ia firasatnya berkata lain.


Tuhan..beri aku waktu, sedikit waktu , doa itu ia panjatkan sepanjang perjalanan


Reyna berlari masuk bagai atlet pelari jarak pendek di penghujung garis finish, dari jauh nampak Linda dan Bianca menangis tersedu di luar ruang ICU.


Keduanya  menghambur memeluk Reyna,


''Kenapa, ada apa? Kemarin Mas Bram baik-baik saja'' tanyanya bingung


''Mas Bram tiba-tiba sesak napas, dari rumah segera dibawa ke IGD tapi dia kehilangan kesadaran sampai sekarang'' Bianca terisak


''Tante..apa yang dokter bisa lakukan?''


Linda menggeleng pelan'' Kita belum boleh masuk Rey''


Lama ketiga wanita itu menunggu termangu di depan ruang ICU tenggelam dalam pikirannya masing-masing


Reyna sudah menghubungi pengasuh Dewa untuk tidur saja dirumahnya malam ini karena kemungkinan ia pulang larut malam.


Dokter yang menangani Bram tergesa masuk ke ruang ICU dan keluar beberapa saat kemudian, perawat meminta Linda turut bersamanya. Reyna mencegah Bianca masuk mengingat kondisi kehamilannya saat ini. Dua pasang mata menatap Linda yang keluar dari bilik konsul, mengambil duduk diantara Reyna dan Bianca.


''Kita hanya bisa berdoa semoga Bram segera melewati masa kritisnya" Linda bertutur pelan sambil memegang punggung tangan Reyna dan Bianca.


''Mama masuk dulu sebentar, setelah ini mama akan menghubungi semua keluarga.. Bianca kau pulang saja ya, ingat kondisimu sekarang sedang hamil''

__ADS_1


__ADS_2