Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
133. Bodoh! (part1)


__ADS_3

Selang beberapa minggu setelah akal sehatnya tak berjalan karena klepon. Reyna merasa moodnya berubah-ubah tanpa alasan jelas.


Pras mendekat ke arah meja Reyna, melihat perempuan yang sedang berkutat dengan setumpuk berkas.


"Rey" panggilnya


"Hemm.. "


"Sudah makan?"


"Sudah"


"Sudah kenyang?"


"Ya"


"Kok masih cemberut"


Reyna mendongak "Siapa yang cemberut, apa juga hubungannya kenyang dengan cemberut"


"Calm down girl! Kamu kan kaya singa kalau lapar" Pras terkikik


"Nggak lucu"


"Ya... ini berkasnya sudah aku check dan... "


"Iya iya taruh disitu saja. Sana ah jangan ganggu!" usir Reyna


Pras menaruh dokumen yang telah ia tanda tangani lalu berbalik menuju ruangannya.


Sisil menutup mulut menahan tawanya, disusul rekan disebelahnya yang terkekeh pelan.


"Kenapa sih pada ketawa?!" tanya Reyna sengit karena konsentrasinya terpecah


"Hiburan pagi hari Mbak" Sisil menutupi mulutnya dengan dokumen dimeja


"Hiburan apaan?"


"Sekali-kali lihat Pak Pras dimarahi orang" rekan disebelahnya ikut-ikutan


"Ya ampun Mbak Rey galaknya totalitas banget" Sisil makin terkikik geli


"Ish kalian ini" Reyna mengalihkan perhatiannya kembali ke laptop


---


Siang hari kejutan manis datang, Bimo datang menemuinya tepat saat dirinya hendak keluar makan siang


"Kak Bimo kok nggak kasih kabar mau kesini?"


"Kan kejutan" pria itu membuka bungkusan yang ia tenteng


"Yuk makan, aku bawakan mie bandung kesukaanmu"


Reyna menoleh ke dua rekannya " Maaf ya aku nggak jadi gabung kalian"


"Nggak apa-apa Mbak, ini duduk di kursi saya saja" tawar Sisil sambil mendorong kursinya ke arah Bimo


Jadilah mereka santap siang bersama berdesakan di meja kerja


"Kamu kenapa Rey, akhir-akhir ini suka marah-marah"


"Masa??"


Bimo merengut "Kaya tadi pagi, kamu usir-usir aku gara-gara aku bau. Padahal aku sudah mandi sudah wangi"


"Emang Kak Bimo bau, wangi parfum kamu itu lho. Rey nggak suka"

__ADS_1


"Aku nggak pernah ganti parfum"


"Masa?? "


"Rey, nanti malam ya" jemari Bimo jahil menarik-narik kancing baju Reyna "Sudah dua hari nih Si Ontong dikurung"


"Enggak, lagi dapet" Reyna mendelik


"Yahhh.. " Bimo menarik rambutnya frustasi


.


.


.


Esok paginya Sisil mendapati Reyna sedang meletakkan kepalanya dimeja


"Kenapa Mbak, masih ngantuk?"


"Nggak enak badan"


"Mbak Rey sakit?"


"Enggak, cuma badanku pegal sakit semua"


"Sudah ke dokter?"


"Paling masuk angin. Sil, ada pembalut? Aku lupa bawa"


Sisil menuju meja kerjanya, membuka laci dan menyerahkan bungkusan ke meja Reyna


"Pulang saja Mbak, kayaknya sakit gitu" Sisil kembali bertanya saat Reyna memegang perutnya


"Perut aku rasanya aneh, ini menstruasi sudah tiga hari juga dikit-dikit. Nggak lancar gitu Sil, mungkin itu yang bikin badan aku nggak nyaman.


"Mbak Rey mau minum jamu? Aku suka nyetok dikulkas bawah kalau mau ambil saja. Dijamin lancar."


Selepas makan siang badan Reyna maki tidak karuan, ia rasakan perutnya bergejolak aneh.


"Pras kemana ya Sil?" tanyanya pada gadis yang sedang berkutat dengan kalkulator


"Biasa urus kepabeanan. Kenapa mbak? "


"Aku mau ijin pulang, badan aku nggak enak banget"


"Ehm.. telepon saja mbak"


"Ada beberapa hal yang aku mau bicarakan dulu"


Reyna menggigit bibir bawahnya menahan nyeri di perut bawahnya, mengambil ponsel dan memutuskan menghubungi Pras.


"Ya Rey?"


"Dimana Pras?"


"Ini sudah dibawah"


"Oh" ponsel ia letakkan dan mengumpulkan beberapa berkas yang akan ia diskusikan sebentar dengan Pras


Terdengar siulan dari tangga bawah "Ya, kenapa?" pria itu memanggilnya dari ujung tangga sambil memainkan kontak mobil ditangannya


"Ehmm.. ini" Reyna beranjak dari duduknya "Aaaaashhhhhh.... " reflek tangam memegang perut bawahnya yang tiba-tiba kembali bergejolak dan


syuuuurrrrrrr


Reyna membelalak saat darah segar mengalir seperti air kran membasahi celana kerja

__ADS_1


aaakkkghhhh, Reyna meremas sudut meja, matanya memejam menahan gejolak lagi dan sepertinya...


syuuuurrrrr....


lengket basah ia rasakan dikedua paha


Seketika hiruk pikuk terjadi diruangan itu


"Mbak Rey, ya ampun mbak.. mbak kenapa" Sisil berlari mendekat namun bingung entah apa yang akan ia perbuat.


"Rey.. . " Pras menggenggam lengannya "Tunggu sebentar, jangan bergerak. Kita ke rumah sakit sekarang"


Lelaki itu menaiki tangga secepat-cepatnya, sekejab menuruni kembali tangga bagaikan terbang dengan selimut di tangan


"Sisil... sisil.. " teriakan Pras lantang ditelinganya mengalihkan perhatian gadis yang terbelalak ketakutan melihat celana kerja yang berwarna krem kini menjadi merah darah


"Bawa ponsel dan tas Reyna lalu buka pintu mobil. Cepat!!! " perintahnya


Sisil mengambil tas, memasukkan ponsel Reyna lalu menyambar kontak mobil milik Pras dan menghambur menuruni tangga


Pras melilitkan selimut dari pinggang kebawah lalu mengangkat tubuh Reyna, menggendongnya sekuat tenaga menuruni tangga


"Maaf Rey, berpeganglah aku takut terjatuh"


Reyna mengangguk, ia hanya memejamkan mata. Kesadarannya belum sempurna untuk memahami apa yang terjadi pada tubuhnya saat ini.


.


.


.


Keringat dingin membasahi pelipisnya, matanya memejam setiap serangan memilukan terasa. Mengingat jelas ia rasakan hal yang sama saat menjelang kelahiran Dewa.


"Pras.. " bibirnya kelu memanggil pria disampingnya yang beberapa kali menerobos lampu merah


"Ya, sebentar lagi.. " melirik Reyna sesaat, menginjak pedas gas kencang, menukik di belokan memarkirkan mobilnya tepat di depan IGD


Ranjang dorong dan beberapa perawat membantu memapah Reyna keluar dari mobil dan membaringkannya. Dilihatnya Pras berlari ke arah petugas selagi cemas menatapnya.


Reyna dibawa ke ruang tindakan


"Sus.. saya kenapa?" tanyanya bodoh


Suster itu hanya memandangnya sambil mempersiapkan kantung infus dan beberapa ampul


"Tunggu sebentar ya Ibu"


Tak berselang lama Pras muncul sambil menenteng tas miliknya


"Suamimu sudah kuhubungi, aku tunggu sampai dia datang"


"Bapak, bisa bantu untuk mengganti baju ibunya dengan ini" suster itu menyerahkan baju rumah sakit


"Eh tapi.. " Pras tersentak


"Dia bukan suami saya sus"


"Oh maaf, kalau begitu saya bantu ibu. Bapak mohon keluar dulu" suster menutup gorden penyekat ruangan


Ribut-ribut terdengar sesaat setelah Reyna berganti baju rumah sakit


"Mana istriku!?" suara Bimo terdengar menggelegar diluar


"Sus..itu suami saya datang.. " Reyna menyuruh suster untuk membuka gorden


"Reyna.. Reyna.. apa yang terjadi" Bimo mengguncangkan badan Reyna, melihat dari ujung rambut hingga matanya membelalak melihat ceceran darah segar dilantai, celana dan selimut yang berwarna merah serta darah mengering di kaki istrinya.

__ADS_1


"Aku.. aku" ia peluk tubuh Bimo lalu tangis pecah seketika "Maaf Kak.. Maaf aku tidak bisa menjaga calon anak kita"


Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!


__ADS_2