Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
46. Bramantyo


__ADS_3

Ting Tong Ting Tong


Suara bel di pintu membangunkan Reyna, ia bergegas setengah berlari karena tak ingin bel itu berbunyi lagi dan membangunkan Dewangga.


Nampak pria tegap berdiri menenteng koper, Reyna menaksir usia pria tersebut sekitar 35 tahun , paras maskulinnya terlihat jelas meskipun ada beberapa jejak kerutan mulai terlihat di pojok matanya.


''Cari siapa ya?"


''Kamu siapa?'' pria itu berbalas tanya kemudian tanpa permisi melewati Reyna


Angkuh , itu kata pertama dari Reyna untuk pria ini.


'''Mas Brammmm....'' terdengar teriakan Bianca dari lantai atas.


'''Bianca...'' pria itu tersenyum saat gadis itu menghampirinya, ia peluk gadis itu erat.


Kegaduhan yang ditimbulkan oleh keduanya memancing  suara rengekan dari arah kamar Reyna


''Shhhttttttt....'' buru-buru Reyna melotot  galak ke arah Bianca dan meletakkan telunjuknya dimulut, lalu memutar badan memasuki kamarnya lagi


Sial! ternyata  selama ini diam-diam Bianca telah punya pasangan tanpa dia ketahui gumamnya


.


.


.


Reyna baru keluar kamar setelah berhasil menidurkan kembali Dewangga,


ceklek


suara pintu terbuka dari arah kamar mandi yang diapit oleh dua ruang kamar lantai bawah rumah ini, reflek Reyna menoleh kearah suara.


Nampak sang pria angkuh keluar hanya dengan handuk dililitkan sekenanya menampakkan dada bidang yang basah. Santai melangkah memasuki kamar diseberang milik Reyna.


cegluk


Reyna sampai kesulitan menelan air liurnya, meski ia sudah beberapa kali melihat pemandangan serupa tapi yang kali ini sungguh menggiurkan.


Diayunkan langkah menuju dapur hendak memasak untuk makan malam dibantu Mbak Ayu, hal yang biasa ia lakukan di akhir pekan seperti ini


Selesai mempersiapkan makan malam, Reyna membersihkan dirinya dilanjutkan memandikan Dewangga,dia memilih untuk  berjalan keliling kompleks menghabiskan waktu berdua dengan Dewangga hingga matahari mulai terbenam.


''Nah..itu Reynanya datang..'' seru Mama Linda ketika melihat Reyna masuk kedalam rumah


''Sini Rey, kenalan sama Om-nya Bianca''

__ADS_1


*E*hh apa Om,, kok??? batin Reyna bertanya-tanya.


Reyna mendekat dan mengulurkan tangan


''Reyna..''


''Bramantyo''


''Mas Bram cakep kan Rey....'' goda Bianca


''Hush,,kamu itu Bi, hormat sedikit sama Om kamu,panggil yang sopan!'' tegur Mama Linda


''Biar Lin, aku masih pantes kok dipanggil Mas'' Bram terkekeh


''Kalian ini kan sudah berumur bukan anak-anak lagi, kamu juga Bram ,masih sungkan kamu panggil aku Mbak'' protes Mama Linda


---


Gurauan mereka berlanjut dimeja makan, Bramantyo adalah adik terakhir Mama Linda usia mereka terpaut 12tahun.


Ketika Bianca lahir Bramantyo enggan dipanggil Om hingga Bianca terbiasa memanggilnya dengan sebutan mas.


Keduanya cukup dekat hingga Bramantyo memutuskan berkarir diluar negeri hingga kini ia kembali ke tanah air untuk menggantikan posisi Bianca butik.


''Enak banget nih masakan'' cuap Bram sambil lahab menikmati makanannya


''Sepertinya bakalan betah aku disini Lin''


Bram orang pertama yang menyelesaikan makan malamnya, tanpa sungkan ia menawarkan menggendong Dewangga yang mulai merengek.


''Hai,jagoanmu ini siapa namanya Reyna?" tanya Bram


''Dewangga, panggil saja Dewa'' Reyna berubah ramah untuk segala sesuatu yang menyangkut soal putranya


''Kamu selesaikan makanmu biar aku ajak dia berkeliling rumah sebentar'' tawar Bram


Reyna mengangguk senang, dilihatnya Bram nampak luwes menggendong dan menimang bayinya.


---


Selesai makan malam Bianca permisi naik untuk segera membereskan barang-barangnya bersiap menuju bandara untuk mengejar flight terakhir.


Reyna mengambil selimut milik Dewangga dan menyusul keluar rumah, nampak Bram sedang duduk memangku Dewa di kursi taman.


'''Masuk Mas Bram, sebentar lagi antar Bianca ke bandara''


Bram mengangguk dan menyerahkan lelaki mungil itu ke dekapan Reyna

__ADS_1


''Kau ikut Rey?"'


''Iya, hitung-hitung cari angin sama Dewa''


Mereka berpapasan dengan Linda saat memasuki rumah


''Bram, aku nggak bisa ikut, ada file dari designer yang lupa aku ambil di butik untuk meeting besok. Kamu bawa mobil aku, Rey kamu ikut ya temani Bianca''


Linda menghambur keluar menuju taksi online yang sudah menunggu dipagar.


.


.


.


Reyna memeluk Bianca erat dengan tangan kanannya ,


tangan kirinya menggendong Dewangga.


''Sampai jumpa jagoan aunty'' kecup Bianca dipipi gembil bayi itu


''Titip Reyna ya Mas Bram, awas jangan kamu godain, kakaknya galak'' Bianca memukul lengan Bramantyo sambil tergelak


''Ih maaf ya, yang ada dia yang lebih dulu tergoda duda keren macam aku'' Bram balas tergelak


Reyna hanya terdiam sepanjang perjalanan, kemacetan di akhir pekan membuatnya merasa makin beku terkurung dengan pria asing


''Sudah lama berteman dengan Bianca?''


''Ehmm hampir 5 tahun''


''Bianca sedikit cerita soal Dewangga..''


''Oh ya?''


''Bukan maksud apa-apa, supaya aku nggak salah omong mungkin, takut kamu...'' omongan Bram menggantung


''Nggak masalah kok, justru aku senang tak perlu repot-repot menjelaskan"


''Anak kamu lucu''


''Ehm ya.. makasih''


---


Linda belum pulang saat keduanya tiba dirumah, Reyna permisi masuk ke kamar karena merasa canggung harus berdua saja diruang tengah dengan pria asing yang baru ia kenal.

__ADS_1


__ADS_2