
Reyna mampir ke beberapa tempat saat perjalanan pulang termasuk ATM untuk mengetahui kebenaran informasi dari Satria.
Matanya terbelalak saat ia mengetahui nominal yang tertera disana senilai dengan satu unit mobil, bahkan Bimo masih mentransfer sejumlah uang 5 hari yang lalu yang artinya Satria memang belum mengabarkan soal pertemuan mereka.
Satria sempat bercerita bahwa dia mengalami kesulitas keuangan saat awal menikah dengan Niken, itu sebabnya dia terpaksa menjual rumahnya untuk mencoba kembali usahanya dari nol.
Keuangan mereka membaik setelah Humaira berusia satu tahun dan Niken memutuskan mulai kembali bekerja, sejalan dengan usaha Satria mulai berkembang dengan relasi-relasi barunya.
.
.
.
Reyna sampai dirumah sebelum senja, lelah yang ia rasakan tak sebanding dengan rasa bahagia, sebentar lagi ia akan menyelelesaikan semua ganjalan masa lalunya.
Satria
Sejak pertemuannya kembali dengan Reyna dia menjadi susah tidur, ia sangat yakin bahwa anak kecil itu adalah anak Bimo.
Jika tidak melihat kebersamaan Reyna dengan Bramantyo sudah pasti ia akan segera menguhubungi karib brengseknya itu. Satria memutuskan untuk menunggu langkah dari Reyna untuk kemudian memutuskan apakah dia akan menghubungi Bimo.
Hatinya luluh saat di hari saat melihat air mata dari mantan istri pura-puranya yang jauh-jauh bertandang untuk mencari keberadaan ayah anaknya.
Baginya Bimo berhak tahu atas keberadaan putranya meskipun dengan resiko akan berpengaruh pada kehidupan mereka saat ini, terlebih Reyna yang jelas mempunyai hubungan serius dengan Bramantyo. Bisa jadi semua akan berantakan setelah Bramantyo mengetahui tentang masa lalu Reyna yang sesungguhnya.
Bimo
Laki-laki itu baru saja beranjak dari tempat kerjanya dan menuju mobil ketika ponselnya berbunyi nyaring, nama Satria terpampang disana.
Dahinya mengeryit tak biasanya karibnya itu menelepon, biasanya mereka hanya berkirim pesan singkat seputar hasil print out buku rekening Satria.
''Halo Sat''
''Bimo, aku dimana Reyna saat ini''
jantung Bimo seakan berhenti berdetak, hampir4 tahun lamanya ia nantikan kabar ini.
''Bim...'' cicit Satria di ujung sana
''Dimana dia Sat?''
''Kau bisa atur jadwal kepulanganmu akhir pekan ini''
''Aku bisa terbang saat ini juga''
__ADS_1
''Jangan,, aku tak bisa bicara saat ini. Kutunggu kau akhir pekan ini. Tempat pertemuan aku kirim via pesan''
sambungan terputus
Bimo mengumpat kasar, Satria tak menjawab panggilan bahkan tak membalas pesan yang ia kirimkan soal tentang nomor ponsel Reyna, status Reyna sekarang dan lainnya.
Baru esok harinya ia mendapat pesan singkat lokasi pertemuan mereka nantinya. Bimo segera mengurus tiket keberangkatannya untuk akhir pekan ini.
.
.
Seminggu lebih berlalu dan Reyna mendapat pesan singkat bahwa Bimo akan datang akhir pekan ini, Satria akan mengajak keluarganya dengan alasan berlibur dan mengkomando Reyna untuk mengatur tempat pertemuan.
Tempat pertemuan telah ditentukan, di salah satu restoran kebun dan mereservasi satu pondokan agar mereka leluasa berbincang nantinya, waktunya ia pilih malam hari agar Dewa bisa ia titipkan pada Bram.
Reyna tidak bisa menebak reaksi Bimo nantinya saat mengetahui keberadaan anaknya jadi ia putuskan untuk mengatur waktu jika Bimo menginginkan bertemu Dewa,
.
.
.
Reyna , Bram dan Dewa sedang berada dikediaman Linda sejak pagi di akhir pekan, kebetulan hari ini Bianca juga akan datang berkunjung untuk makan malam.
''Oh ya, kenapa tidak ia sendiri bertemu? Kurasa kau sudah cukup membantunya''
Reyna menggigit bibir bawahnya
''Ehmm aku cuma sebentar kok Mas, hanya mempertemukan mereka saja seperlunya kemudian aku pulang'' ayolah Reyna kamu pasti punya segudang kebohongan lagi jika pertemuanmu nanti akan jauh lebih lama dari yang kau perkirakan
''Aku titip Dewa ya Mas, aku janji nggak sampai malam. Makasih'' sambung Reyna sambil mengecup manja pipi pria itu tanpa peduli Bram mengiyakan atau tidak
''Ehmm...'' Bram mengehela napas pasrah ,ia hanya sedang malas berdebat
.
.
.
Pukul 6 malam tiba, Linda turun dari lantai atas saat mendengar deru mobil suami Bianca memasuki halaman rumahnya.
''Loh Reyna mana Bram?'' tanya Linda saat hanya menemui Bram berdua saja dengan Dewa
__ADS_1
''Keluar sebentar, tak usah menunggu dia katanya, kita makan malam dulu''
''Reyna kemana Mas?'' tanya Bianca yang baru saja memasuki rumah dan memeluk Linda
''Ehmm,,pergi sebentar. Ketemu Pak Satria , ada perlu''
''Pak Satria designer itu maksud Mas'' tanya Bianca sambil melirik suaminya penuh arti.
Bram mengangguk
Selepas makan malam Reyna juga belum nampak, Bram gelisah melirik jam dinding. Bianca beranjak menggendong Dewa dan menitipkan ke suaminya.
Mendekati Bram dan mengamit lengannya
''Mas, aku mau ngomong bentar'' Bianca mengajak Bram ke teras depan dan duduk dibangku panjang
Bram menyulut rokoknya lalu duduk disebelah Bianca
''Reyna pernah cerita soal masa lalunya ke Mas Bram?''
Bram menggeleng ''Aku cukup tahu darimu,tidak penting bagiku masa lalunya Bi''
''Jadi Mas Bram juga tidak tahu siapa nama mantan suami Reyna?'' tanya Bianca hati-hati
''Tidak,kenapa?''
Bianca menghela napas panjang
''Aku khawatir Pak Satria itu mantan suami Reyna'' Bianca menelan ludah dan terbata melanjutkan ketika mata Bram melotot kearahnya '' ehh karena dia berasal dari kota yang sama tempat aku pernah diajak untuk menemuinya dan ehh nama serta pekerjaannya juga sama''
Bram tertegun sesaat, dia memang merasakan ada yang janggal dari Reyna sejak Bianca menikah, tak berapa lama dia menghambur masuk mengambil kontak mobil suami Bianca. Menjalankan mobil itu dengan kecepatan penuh setelah mengetahui keberadaan mobilnya dari GPS ponselnya.
.
.
.
Bimo menyeret kopernya terburu ketika pesawat landing di bandara, sialnya jadwal penerbangannya sempat tertunda hingga ia mendarat mepet dengan waktu pertemuan.
Tidak ada waktu lagi untuk sekedar meletakkan koper di hotel yang telah ia booking. Bimo putuskan untuk segera mencari taksi online dan segera menuju ke restoran.
Jantungnya tak berhenti berdegup ketika salah seorang pelayan resto mengantarkannya pada salah satu pondokan, dari jauh terlihat sosok pria dan wanita sedang duduk berhadapan.
Wajah Reyna mulai terlihat nyata di pelupuk matanya, ingin ia segera menghambur memeluk wanita itu jika tidak melihat tatapan dingin dari seorang Satria yang menyuruhnya untuk duduk.
__ADS_1
Kedua pasang mata itu bertemu saling , berpandangan dan enggap berkedip. Hanya deru napas yang memburu terdengar di pondokan yang dihiasi lampu temaram.