
Reyna berkutat dengan tumpukan kardus didepannya, dibantu Mbok Nah dia membereskan barang-barang di kamar tamu yang jarang dirambah manusia.
Baru tersadar banyak kotak seserahan pernikahannya masih rapi dan belum tersentuh, ia memekik kaget saat melihat satu kotak berisi lingerie set berwarna hitam menerawang.
Segera ia bongkar kardusnya lalu menyembunyikan dikantongnya.
"Reyna naik dulu Mbok" menuju kamar dan meraih ponselnya, jemarinya memilih salah satu nomor melakukan panggilan video
"Halo adikku sayang.. " wajah Mbak May nampak ceria
"Mbak yang atur seserahan Reyna kan?"
"Ehmmm iya beberapa, kenapa?"
"Ini ulah Mbak May pasti" Reyna menenteng lingerie dengan ujung jarinya
May tergelak "Iya, loh kok kamu baru protes sekarang"
"Ya Reyna baru tahunya sekarang"
"Wah payah kamu, jangan-jangan selama ini kamu pakai koleksi pribadi" goda May
"Ihhh... nggak, nggak gitu-gitu. Ujung-ujungnya juga nggak pake baju" Reyna menggeliat jijik "Mbak May lagi apa?"
"Masak buat makan siang, kamu?"
"Ehm, ya gini deh. Cari-cari kesibukan"
"Bimo belum ijinin kamu kerja?"
Reyna menggeleng pasrah
"Ehmmm.. ya Mbak doain kamu buruan hamil biar ada kegiatan. Sudah pernah konsul?"
"Sudah!..Mbak.. " panggil Reyna
"Emmm, apaaa?"
"Banyak yang suruh Reyna buruan hamil justru bikin Reyna nggak tertekan. Apa itu ya yang bikin susah hamil"
"Bisa jadi Rey, Bimo sudah pengen banget ya punya anak lagi"
Reyna mengangguk
"Ya sabar...yang penting kan sudah ikhtiar. Kalau bisa jangan tiap hari. Coba dua hari sekali"
Tok Tok Tok
Ketukan dipintu kamar menghentikan aktivitas panggilan video
Setelah menaruh lingerie disalah satu sudut almari yang tak mungkin dijamah Bimo, Reyna membuka pintu kamarnya.
"Ya Om?"
"Temani Om ke ruko yuk, kamu sedang nggak ada acara kan?"
"Oh iya Om, Reyna ikut. Dewa juga tidur sepulang sekolah. Semalam tidur larut diajak Kak Bimo main PS" pelampiasan Bimo karena asetnya sedang tidak bisa digunakan semalam
"Om tunggu dibawah"
Reyna berganti baju dan melesat cepat menyusul ke dalam kursi penumpang. Mobil melaju membelah perumahan elit dikawasan pinggir kota, berhenti disalah satu ruko berlantai tiga.
"Siang Pak.. " sapa karyawan Alex hormat
Reyna memilih melihat-lihat barang yang terpajang rapi di rak-rak serta etalase. Semua barang import sudah pasti selangit harganya, lantai dasar rupanya difungsikan sebagai gudang.
"Rey.. " Alex melambaikan tangan "Kita naik keatas"
Berdua memasuki ruangan kaca dan merebahkan tubuh di sofa, Alex menghadap ke arah pintu masuk dan Rey memilih duduk diseberangnya.
"Orangnya lagi keluar, tunggu sebentar tak apa ya" Alex menunjuk meja kerja disampingnya.
"Iya Om" Reyna mengedarkan pandangan, terlihat jelas kinerja para staff dari bilik kaca ini "Lantai paling atas buat apa Om?"
"Oh, buat tidur tangan kanan Om, sudah Om sarankan tinggal ditempat yang lebih layak tapi menolak. Mungkin karena bujangan jadi tidak masalah"
Alex berdiri dan melangkah keluar "Rey mau kopi? Om minta OB buatkan"
"Ya boleh Om"
Reyna melirik meja kerja disampingnya, paper try dengan tumpukan file, kertas berserakan diatas laptop seperti ditinggalkan begitu saja.
Derap langkah berat terdengar mendekat, sayup-sayup Reyna dengar perbincangan dua pria didepan pintu kaca
"Maaf Pak Alex, harusnya tidak perlu repot-repot datang kemari"
"Dari mana kamu?"
"Urus klien Pak"
"Anak buah kamu kan bisa, tidak perlu kamu sendiri yang turun lapangan"
krekkk
Suara pintu terbuka dan dua pria melangkah masuk
__ADS_1
"Soalnya kemampuan bahasa inggris mereka dibawah rata-rata Pak Alex, saya takut akan terjadi kesalahpahaman jika mereka yang temui klien. Lagipula semua sudah ter-plot dengan beban kerja masing-masing"
Dua pria itu masih berbicara di belakang Reyna
"Kamu rekrut saja karyawan yang aktif berbahasa asing"
"Sudah Pak, tapi belum ada yang memenuhi kualifikasi"
Alex berjalan memutar
"Oh ya, kenalkan ini menantu saya"
Lelaki itu mendekat ke kursi Rey
"Rey, kenalkan ini... "
"Pras???!?! " Reyna memekik tertahan
Lelaki itu menarik tangannya yang tadinya terulur untuk berjabat tangan "Reyna... "
"Loh.. kalian saling kenal?" Alex terheran
"Iya Om, ini Pras teman kuliah Reyna. Belum juga sebulan kita bertemu di acara reuni"
"Ah ya sudah kebetulan, kita keluar saja sekarang. Kamu tak apa kan Rey kalau Om bicarakan pekerjaan dengan Pras sekalian makan siang. Kalian kan nanti bisa ngobrol juga"
Reyna dan Pras mengangguk.
---
Reyna bisa menangkap ekor mata Pras menatapnya melalui spion tengah, pria itu segera membuang muka ketika aksinya diketahui.
"Dunia sempit sekali ya Pak Alex, tak sangka saya bisa bertemu kawan lama yang ternyata menantu anda" ucap Pras ditengah kegiatan makannya sambil menatap Reyna
"Kalian dekat?" tanya Alex
"Emm ya begitulah" Pras menjawab santai
"Dulu kami pernah jadi asdos di mata kuliah yang sama" Reyna menerangkan
"Oh ya" Alex mengelap bibirnya dengan serbet makan "Pras bagaimana dengan permintaan akhir tahun?"
"Membludak Pak Alex, saya sampai kewalahan membagi waktu"
"Ehm Rey.. " Alex menepuk punggung tangan Reyna "Bagaimana kalau kamu bantu Pras dulu, sementara dia belum dapat karyawan. Kemampuan bahasa inggrismu tak diragukan, kamu juga sudah sering temui klien WNA kan"
Reyna terdiam, ia meletakkan sendok garpunya ke piring.
"Hanya bantu di peak season saja. Kami banyak permintaan untuk customer dinatal dan tahun baru. Biar Pras fokus untuk legalisasi logisticnya"
"Reyna sih tidak masalah" ish mau menolak enggan tapi terima bimbang gerutu Reyna
"Ehmm... jangan Om. Soal Kak Bimo biar jadi urusan saya" tukas Reyna buru-buru
"Baguslah kalau begitu, rupanya kamu sudah paham titik kelemahan suamimu itu. Oh maaf Pras, kamu terpaksa dengar" Alex tergelak "Kamu sendiri kapan menikah, jangan bilang kau terforsir pekerjaan hingga melupakan kehidupan pribadimu sendiri"
"Oh..tidak Pak Alex" Pras menggeleng
"Jadi sudah ada calonnya?"
"Ehmm iya begitulah kira-kira"
Reyna melirik Pras yang hanya menunduk dan sibuk mengaduk-aduk makanannya
.
.
.
Segelas air dingin seperti biasa telah disiapkan istrinya setiap kali dirinya pulang.
"Masak apa?" Bimo mendekati Reyna tengah mengaduk-aduk masakan diwajan, yang baunya menggoda hidung.
"Cap Cay"
"Baunya heemmm....apalagi rasanya.. "
"Iyalah.. siapa dulu yang masak"
"Bau kamu... " Bimo mengecup ceruk lehernya "Malam ini sudah bisa rasain Mey-Mey belum?"
"Ih Kak Bimo geli ah" Reyna mengedikkan bahu menghalau bibir Bimo yang menempel bagai perangko
"Nanti ya, bisa kan. Sudah kisut ini Si Ontong" Bimo memeluk lebih erat tak memberi ruang untuk Reyna bergerak, mulai meraba bokong, tangannya masuk menyelip di balik celemek.
"Iya iya, mandi dulu sana" Reyna berusaha melepaskan diri "Malu kalau ada yang lihat"
"Ehemmm... " suara deheman terdengar di belakang mereka
Reyna buru-buru menyikut perut Bimo dan sengaja menginjak kaki pria itu.
"Eh Om.." Bimo meringis kesakitan
"Kalian ini, nanti dilihat Dewa" tegur Alex
__ADS_1
"Kak Bimo ini Om, nggak tahu tempat memang. Ngeselin" Reyna mendelik
Bimo berlalu cuek sambil bersiul senang menaiki tangga
Alex menunggu hingga punggung Bimo menghilang "Kayaknya malam ini moment tepat Rey, Om minta tolong ya"
Reyna mengangguk angguk pasrah
.
.
.
Bimo menutup pintu dan mengunci rapat setelah berhasil menidurkan Dewa. Mematikan lampu utama lalu menjatuhkan dirinya disamping Reyna yang sedang tidur terlentang bermain ponsel.
"Ayo sekarang.. " Bimo mulai menguyel-uyelkan kepalanya ke dada Reyna
"Kak.. tadi aku bongkar-bongkar seserahan kita. Masih banyak yang ternyata yang belum kebuka"
"Oh ya.. Aku justru nggak tahu" menggigit telinga Reyna dan meremas-remas dua gundukan sesuka hati
"Mau aku kasih lihat nggak salah satunya?"
"Emang apa?"
"Tunggu ya.. " Reyna berjingkat menuju kamar mandi, sesaat kemudian keluar memakai bathrobe
"Bathrobe? " Bimo menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia bersandar di head board
Reyna merangkak naik ke paha Bimo
"Taraaaaa..... do you like it?" membuka bathrobe dan menghempaskan ke lantai, lingerie hitam menempel erat memperlihatkan tiap lekuk tubuhnya
Beruntung mata Bimo nggak terlempar keluar dari tempatnya, jakunnya bergerak saat saliva dirasa sulit ia telan. Tangannya mulai meraba-raba
"Suka nggak?" Reyna menggoyang-goyangkan tubuhnya menggoda
"Suka suka suka banget!" Bimo merebahkan tubuh Reyna,masih melihatnya tak berkedip.
Meraba, memegang, menelusuri dan meremas tiap inchi tubuhnya. Reyna tersenyum-senyum senang tuan raja sudah masuk perangkap singa betina.
.
.
.
"Kak... " Reyna menggesekkan wajahnya kedada Bimo setelah keduanya menyelesaikan perguman panas
"Ehm.. " Bimo mengelap sisa-sisa keringat dikeningnya
"Enak?"
"Banget!" Bimo mencium gemas istrinya
"Boleh bilang sesuatu?"
Bimo menautkan alis "Ehmm.. tadi aku merasa nggak janjiin kamu apa-apa kan ya?" mengingat-ingat siapa tahu kelepasan bicara dibawah alam nafsunya 😄
"Tadi aku diajak Om Alex ke ruko. Ehm, ternyata temenku yang kerja sama Om Alex" Reyna mendongak menunggu reaksi Bimo
"Cowok?"
"Iya"
Bimo menggeser badannya menjauh "Trus?"
"Dia lagi overload, belum dapat karyawan yang memenuhi kualifikasi"
"Hemm.. " Bimo mulai melirik curiga
Reyna memeluk pinggang suaminya "Ini bukan aku lho Kak, ini dari Om Alex lho" jemarinya bergerak mengusap-usap perut Bimo "Om Alex minta tolong aku bantu di ruko selama peak season, sampai dapat karyawan tetap"
"Rey.. "
"Kak.. "
"Nggak bo... "
"Ish, kamu nolak Om Alex berarti ya!" galaknya mulai muncul
"Besok aku sendiri yang ngomong sama Om Alex"
"Kak... " Reyma menggoyangkan lengan Bimo "Cuma tiga bulan kok.. aku nggak enak sama Om Alex"
"Kalau tiga bulan belum dapat karyawan?"
"Ehm.. pasti dapat kok, pasti!"
Bimo menghela napas panjangnya "Jujur Rey kamu nggak enak sama Om Alex atau memang kamu yang ingin kembali bekerja"
Reyna mengerjab "Dua-duanya" bicara takut-takut
Bimo mengelus rambut Reyna "Ya sudah, janji ya tiga bulan. Habis itu kita bahas kira-kira usaha apa yang bisa kamu jalankan sambil mengurus suami dan anak"
__ADS_1
Reyna memeluk Bimo erat-erat dan menghujaninya dengan ciuman "Makasih Kak! "
Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!