Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
129. Rasa itu


__ADS_3

Bimo menjemputnya hanya selang 45 menit dari jam pulang. Reyna masih berkutat dengan beberapa berkas ditangan saat pria itu naik ke lantai dua. Hanya tinggal Reyna dan Pras dilantai atas, rekannya itu masih sibuk menelepon didalam ruang berkaca, melambai pada Bimo meski tak diacuhkan.


"Yuk pulang" ajak Bimo sambil mengedarkan pandangannya kesegala arah


"Ya sebentar, aku beres-beres meja dulu Kak"


"Karyawan lain mana. Kok sepi"


"Sudah pulang sekitar 15 menit lalu"


"Pras menunggumu?"


"Loh, Kak Bimo nggak tahu dia tinggal disini. Diatas" telunjuk Reyna menunjuk arah atap


Bimo manggut-manggut, lalu menyandarkan tubuhnya ke dinding


"Besok minta pindah meja"


"Eh" Reyna menoleh "Kenapa?"


"Dia bisa lihatin kamu leluasa dari dalam sana"


Reyna menghembuskan napasnya pelan "Kak, koneksi LAN ruang ini cuma 4" Reyna menunjuk tiap sudut ruang "Belum ada koneksi WIFI, jadi aku nggak mungkin geser ke tengah"


Sebenarnya Reyna kurang nyaman dengan tempat duduknya yang persis di dekat tangga naik, seharian ini dia risih karena beberapa kali mendapati Pras sedang mencuri pandang kearahnya.


"Ya nanti aku bilang Om Alex, besok aku sambungkan WIFI. Pokoknya kamu geser ke tengah"


"Ya terserah Kak Bimo" Reyna mengalungkan tali tas ke bahunya "Yuk pulang"


Direngkuhnya lengan Bimo dan melangkah turun setelah sebelumnya mengetuk ruang kaca dan diangguki oleh Pras seraya tersenyum.


Mereka berpapasan dengan beberapa karyawan lelaki dilantai dasar yang masih sibuk dengan bongkar muat barang.


.


.


.


Hari kedua Reyna masih merepotkan Pak Man mengantarkan berkerja. Semalam ia meminta Bimo untuk membawa mobil sendiri tapi tetap pria itu tetap tak mengijinkan. Terheran tapi malas mendebat suaminya.


"Rey, hari ini tolong kamu hubungi klien ini. Mintalah untuk mengganti dengan item lainnya karena sampai saat ini produk yang belum minta terkendala ijin dari luar" Pras menyerahkan beberapa lembar penunjang


"Eh, ya baiklah. Tapi aku tak bawa mobil Pras"


"Aku antar saja, satu arah denganku. Kebetulan ada dokumen yang aku urus"


"Aku pesan taksi online saja"


"Tak perlu, bersiaplah. 10 menit lagi berangkat"


---


"Kalau urusan kamu lama, nanti aku pulang dengan taksi online ya" ucap Reyna sambil memasang seat belt


"Ya nanti kabar-kabar saja" Pras menginjak pedal gas


"Mau kemana?"


"Kepabeanan, mengurus pembebasan pajak dan bea masuk impor untuk beberapa barang" Pras menunjuk setumpuk berkas di kursi belakang


"Oh.. harus kamu semua yang handle?"


"Ya begitulah. Sementara sampai keuangan kira-kira bisa mengijinkan untuk tambah satu personil lagi" Pras mengangguk-angguk "Pak Alex kan sedang merintis usaha, jadi ya masih berkutat dengan profit"


.


.

__ADS_1


.


Pras dan Reyna tengah menikmati makan siang mereka sebelum kembali ke ruko.


Wajah Reyna sumringah saat Bianca menyapanya melalui sambungan video


"Hai Bi... "


"Hai cantik.. Lagi dimana?"


"Makan"


"Sama Kak Bimo?"


"Ehm.. " Reyna melirik Pras lalu mengarahkan layar ponselnya


"Pras??!!!" pekikan Bianca membuat pria itu menutup telinganya


"Dasar bocor, kenceng amat suara. Habis nelen toa masjid" Reyna tergelak


"Kok bisa, kalian janjian ketemu?"


"Enggak..


tut


Sambungan Bianca terputus kala panggilan Bimo masuk ke ponselnya


"Ya Kak"


"Kok aku vicall nggak bisa?"


"Lagi nyambung sama Bianca tadi"


"Oh.. sudah makan?"


"Ehmm... ini baru makan"


"Makan diluar sama Pras sekalian jalan pulang"


"Sama Pras??!! Berdua?? " Reyna menjauhkan ponsel dari telinganya


"Rey... jawab!! " pekik Bimo lagi


"Salah Kak Bimo sendiri nggak ngijinin aku bawa mobil. Jadinya bikin repot Pras harus antar jemput kalau ada perlu keluar"


"Ya sudah, besok kamu bawa mobil sendiri!"


"Nahhh gitu dong.. " mengakhiri sambungan telepon dengan senyuman lebar.


Reyna menutup mulutnya menahan tawa, suaminya ini memang pintar-pintar bodoh


"Aku ke toilet dulu, sekalian bayar pesanan" Pras berdiri dan berlalu


Lagi ponsel Reyna berdering, kali ini Bianca ...


"Sorry tadi putus, suami aku telepon" sahut Reyna


"Gila kamu Rey, kerja sama Pras! Kak Bimo bolehin lagi"


"Nggak enak soalnya Om Alex yang minta"


"Rey, Kak Bimo nggak cemburu kan?"


"Eh, ya gitulah namanya juga Kak Bimo. Satpam kompleks aja dicemburuin"


"Ehm.. ya lebih cemburu gitu maksud aku"


"Karena Pras?" Reyna menegaskan

__ADS_1


"Hemm.. ya begitulah kira-kira. Kamu paham kan maksud aku. Kalian dulu kan sempat dekat"


"Ya kan kita ngasdos bareng, ya dekatlah"


"Wake up girls! Jangan bilang deh kamu nggak bisa meraba perasaan Pras ke kamu"


Reyna terdiam lalu menggesek hidungnya yang tak gatal "Salah dia sendiri nggak pernah menyatakan perasaan, bukan salah aku kan kalau aku juga pura-pura masa bodoh"


"Rey! Jadi kamu sudah tahu!"


"Sudahlah Bi.. itu kan masa lalu. Cinta monyet, nggak penting dibahas!"


"Ya nggak ada salahnya kamu jaga jarak. Kasihan anak orang kamu bikin baper nanti" Bianca tergelak


" Sudah ah becanda kamu! Aku ini istri orang tahu, emak satu anak. Lagian aku cuma 3 bulan aja kok bantuin"


"Okay deh, bye! Salam buat Pras"


Reyna memasukkan ponsel kembali ke tas


"Yuk pulang" Pras mencolek pundaknya dan berjalan santai ke mobil


---


Jantung Reyna berdegup kencang, samar jika Pras mendengar pembicaraannya dengan Bianca.


Sesekali ia lirik Pras disamping, pria yang ia kenal 3 tahun lamanya itu memasang wajah datar tanpa ekspresi.


Pras memang sulit sekali tersenyum, guyonannya juga tak selepas Reyna dan kawan satu geng lainnya. Pendiam dan penuh misteri....


Ingatannya melayang saat keduanya masih dijenjang kuliah, kedekatan mereka memang bukan sekedar dekat. Intensitas bertemu sempat menumbuhkan rasa hangat dihati Reyna kala itu, perhatian Pras sempat mengaduk-aduk perasaannya.


Namun entah pria itu tak pernah berusaha mengatakan isi hati yang sesungguhnya hingga membuat Reyna bersikap masa bodoh dan memilih tak menghiraukannya


Usianya masih tergolong labil dan menganggap bahwa cinta adalah suatu hal yang perlu diungkapkan.


Pras adalah pria dingin dan serius bahkan terkesan tak peduli, berbeda dengan Bimo yang lebih ekspresif dan agresif dalam mengungkapkan perasaannya.


"Melamun!" tepukan Pras dibahu menganggetkannya


"Eh enggak.. ngantuk kekenyangan habis makan" elak Reyna


Jemari Pras mengetuk-ngetuk kemudi bundar, detik di traffic light berwarna merah berpendar menunjuk angka 88


"Kamu hilang kabar sejak lulus. Aku baru dengar dari Mbak May kamu menikah setahun kemudian" Pras menoleh


"Eh iya" Reyna membuang pandangannya dari tatapan Pras yang masih sama seperti dulu, sendu..


"Aku sempat beberapa kali mencoba menghubungimu tapi tidak ada respon" lanjutnya


"Ah iya, aku berganti nomor sejak bekerja dengan Bianca"


"Bahkan sampai akhirnya aku dapat nomormu lagi, kamu juga masih tak ada respon"


"Kapan kamu hubungi aku ke nomor baru?"


"Memang banyak ya yang menghubungimu selepas reuni?? Ah ternyata diam-diam kamu punya banyak fans" Pras tertawa kecil


Reyna menautkan alis "Ah... jangan-jangan kamu yang kirim foto itu?" matanya terbelalak, ihhh kenapa justru Bimo yang jauh lebih peka dari dirinya


"Ya.. bagus kan fotonya. Kelihatan banget ya aku masih berharap" Pras mencelos


Deg!


Jantung Reyna berdetak dua kali lebih kencang


Masih???? Jadi sampai saat ini????


"Kamu bikin aku patah hati Rey!" Pras menginjak pedal gas melajukan mobil agak kencang seperti sedang meluapkan emosi

__ADS_1


Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!


__ADS_2