Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
33. Bersalah


__ADS_3

Reyna menggeliatkan punggungnya saat terbangun dipagi harinya, badannya terasa segar. Ia ingin meregangkan kaki tapi achhh kenapa berat sekali kaki kanannya, ia coba menariknya tapi terasa ada beban berat menindih kakinya.


Tangannya masuk kedalam selimut hendak menyingkirkan benda yang menindih kakinya..dan ehhh tangannya menyenggol bagian menggunung ditubuhnya polos tanpa penutup.


ehhh sejak kapan dia tidur telanjang


Kesadarannya perlahan terkumpul seiring dengan matanya yang membuka, ia rasakan hembusan napas teratur di leher belakangnya. Dia balikkan badan dan jantungnya berdegub dengan hebatnya, dia pejamkan matanya dan terbayang rangkaian adegan mesum semalam.


Perlahan dia singkirkan lengan Bimo yang memeluk perutnya, dia tarik kaki kanan yang tertindih sebelah kaki Bimo. Dia tarik selimut untuk menutupi dada polosnya , ohh shitttt bagian bawah tubuh Bimo terlihat jelas ketika selimut itu terangkat.


Reyna mendengus, buru-buru dia kembalikan selimut pada posisi semula. Diliriknya Bimo, tidurnya nyenyak bagai bayi yang kenyang minum susu


ehhh bukankah memang begitu !


Reyna putuskan turun perlahan lalu berjalan berjingkat tanpa busana menuju kamar mandi.


---


Ditatapnya cermin didepan wastafel, leher dan dadanya dipenuhi tanda kemerahan .Langkahnya gontai menuju shower, dadanya berkecambuk bingung untuk mengungkapkan apa yang dirasakan saat ini.

__ADS_1


Malu?? Sudah pasti, dia istri Satria tapi kehormatannya terenggut pria lain.


Bersalah?? Sudah jelas, dia tidak bisa menjaga mandat dari Satria.


Lega?? Itu juga dia rasakan, selama ini cukup tersiksa untuk menahan hasrat yang bergejolak, tiap kali berdekatan dengan Bimo tubuhnya selalu dia paksa untuk menolak dengan apa yang ia inginkan.


Pandangannya mengarah pada bath up, Reyna duduk sambil melamun di tepi bath up menunggu hingga air hangat terisi cukup untuknya berendam.


Mengerang kesakitan perih terasa di bawah tubuhnya saat ia baringkan tubuhnya di bath up.


Matanya terpejam pikirannya melayang entah kemana, bayangan wajah mendiang kedua orangtuanya, Pakdhe Hermawan, Mas Gandhi, Mbak may dan Si Kecil Adam.


Tiba-tiba dia dikejutkan dengan ketukan ehhh bukan tepatnya gedoran dipintu kamar mandi disusul teriakan Bimo memanggil namanya.


Bimo??? ahhh bagaimana aku harus hadapi pria itu setelah semua ini terjadi. Reyna hanya termangu, gedoran dan teriakan itu makin keras terdengar.


"Reyna, buka pintu atau kudobrak!!!"


Serta merta Reyna keluar menyambar jubah mandi dan membuka pintu, dilihatnya wajah Bimo yang berubah dari cemas menjadi sumringah seakan mendapat jackpot milayaran saat melihatnya. Bimo memeluk Reyna erat dan menciumi keningnya.

__ADS_1


"Kak Bimo kenapa?" tanya Reyna heran


"Akuu.. aku pikir kau...Ahhh kau baik-baik saja? kenapa kau dikamar mandi?"


"Mandi.." jawab Rey spontan "Kakkk...aku..."


Bimo menatapnya "Maaf Rey, maaf aku.. arghhh .."


Bimo mengusap kasar wajahnya , dia menoleh ke arah ranjang yang berantakan dan ternoda oleh bercak merah terpampang jelas di sprei berwarna putih bersih.


Sejenak mereka berdua berdiri mematung saling mengalihkan pandangan. Tiba-tiba saja Reyna menghambur ke pelukan Bimo, dia peluk erat dan ditumpahkannya tangis yang semenjak tadi dia tahan.


Bimo mengelus punggung Reyna, seperti inikah perasaan pria yang menghancurkan masa depan seorang wanita. Bayang-bayang Satria terlintas dimata Bimo, kini dia mengerti kenapa Satria tidak bisa begitu saja melepaskan Niken bahkan rela jika nantinya dia akan terusir oleh keluarganya sendiri. Detik ini Bimo berjanji untuk tidak akan meninggalkan Reyna apapun yang terjadi.


"Reyna..semua maafku tidak akan bisa membayar kesalahan ini" bisik Bimo "Aku berjanji bertanggung jawab"


Bimo melepaskan pelukan itu, menangkup wajah Reyna, menempelkan hidungnya ke hidung wanita itu "Maaf... "


"Kak Bimo nggak salah kok, aku cuma ingin menangis biar lega" Reyna menarik wajahnya dan memaksa tersenyum "Masak iya nanti aku jadi janda tapi perawan" bisiknya.

__ADS_1


__ADS_2