
Belum genap satu bulan menjalani masa cuti hamil Bianca terpaksa harus menjalani operasi caesar karena plasenta dirahimnya telah mengalami pengapuran. Reyna belum sempat menemuinya dirumah sakit karena kesibukannya.
Baru hari ini diakhir pekan Reyna berniat menengok bayi Bianca yang sudah pulang dari rumah sakit. Deru mobil berhenti didepan rumah Reyna, belum juga pengendara turun Reyna sudah menyambutnya dengan senyuman dan menghambur ke pelukannya.
"Kejutan nih ceritanya?"
"Enggak.. habis kangen tak terbendung" pria itu mencium kedua pipinya gemas
"Ayah... " pekikan Dewa melonggarkan pelukan keduanya
"Anak ayah ganteng" ciuman bertubi-tubi mendarat di wajah Dewa
"Ewa mau lihat adik ayi"
"Iya ayah tahu tadi Mama bilang mau pergi. Yuk ayah antar sekalian"
"Horeee..... " Reyna dan Dewa berteriak serempak
---
"Anak aunty Bi cowok apa cewek Ma?" tanya Dewa
"Cewek"
"Cantik?" Dewa bertanya gemas
"Ya pasti cantik.. masa iya cewek ganteng" Reyna mencubit gemas hidung anaknya
"Rey, kapan kau akan bicara ke Bianca" Bimo menoleh kearahnya sambil memutar setir bundar
"Ehm.. ya secepatnya Kak"
"Nanti itu juga kategori cepat Rey"
"Iya iya... sabar tuan raja"
---
Kehadiran mereka disambut ibu baru yang duduk tergolek tak berdaya di sofa ruang tengah. Bimo masuk bersalam ramah pada kedua orang tua baru itu.
"Halo Kak Bimo, maaf waktu itu saya belum sempat menyapa" Bianca berbasa basi sambil memandang Bimo lekat lekat
Waktu itu? Reyna mencoba mengingat kapan Bimo bertemu Bianca ahh ya saat "itu" pasti mereka telah berjumpa
Reyna mengajak Bimo dan Dewa untuk melihat bayi Bianca, reaksi Bimo sungguh tak ia sangka. Pria itu hanya berani memandang sosok kecil boks bayi tanpa berani menyentuhnya. Lain Dewa yang begitu gembira melihat bayi mungil Bianca.
"Nak... jangan pegang erat ya, adik bayinya masih kecillll sekali. Besok kalau sudah besar nanti Dewa boleh ajak main" Reyna menghalau tangan Dewa yang gemas mencubit pipi bayi itu, terbayang dibenaknya betapa repotnya jika saat ini dia punya bayi lagi. Ahh merinding dia dibuatnya.
"Ayo Mas ngobrol diluar saja, biarkan emak-ek ngerumpi" ajak suami Bianca
Bimo mengangguk, mengamit pinggang Reyna membisikkan sesuatu disana yang hanya diiyakan.
"Come On, wake up mommy" canda Reyna sambil menggoyangkan lengan Bianca yang masih menatap Bimo berlalu
__ADS_1
"Oh God Reyna! seperti ini rasanya, perutku serasa mau robek tiap kali bergerak. Heran aku dulu kau lalui ini sendirian"
Reyna terkekeh "Ya bisalah, bisa karena terpaksa!"
"He looks a good man Rey, believe he loves you. Much!" Bianca mengelus punggung tangan Reyna "Has he proposed you? You should say YES absolutely!" Bianca mencondongkan tubuhnya
"Is it too fast for me to dating someone Bi?"
"Of course not! You deserve to be happy Rey! "
Reyna menghela napas memandangi pria yang terlihat makin kurus tiap kali mereka bertemu.
"Aku masih merasa bersalah pada Mas Bram" Reyna menunduk
"Mau sampai kapan kamu seperti ini Rey?" Bianca menggeleng kepalanya dan beranjak mengambil bayinya yang mulai merengek haus "Yang pasti kamu tidak hanya menyiksa dirimu tapi juga dia" Bianca mengarahkan telunjuknya lurus pada Bimo
Keduanya berpindah menuju kamar tidur agar Bianca leluasa menyusui bayinya
Reyna duduk bersila sambil menopang dagu melihat bayi itu menyedot ASI penuh semangat
"Kamu tak takut kalau suatu hari Bimo menyerah dan... " Bianca melirik gemas Reyna yang masih saja memasang wajah datar "And he left you!" tukasnya sinis
Yes Gotcha! Seringai muncul disudut bibir Bianca melihat wajah Reyna tersentak dan menjadi muram
"Kamu boleh saja egois tapi jangan korbankan Dewa!"
.
.
.
Bagaimana jika Bimo pergi karena lelah menunggunya, lalu bagaimana dengan Dewa.
Isi kepalanya bagaikan untaian benang kusut, tak berujung pangkal.
"Reyna!" panggilan Bimo membuyarkan lamunannya
"Eh ya??"
"Kita berhenti dulu ya, biar Dewa bisa tidur agak lama" Bimo menunjuk ke kursi belakang, nampak bocah kecil itu tertidur pulas "Yuk turun"
Mobil Bimo terparkir dipinggir jalan tepat dipinggir perkebunan kopi. Setelah membuka kaca jendela mobil secukupnya Bimo menyusul Reyna ke gubug yang menjual kelapa muda.
"Satu saja pak" teriak Bimo pada pedagangnya
"Yahh.. kok satu. Dua dong Kak"
Diulurkan kelapa utuh yang hanya terpotong bagian atas lengkap dengan dua sedotan
"Biar romantis.. nanti kalau kurang beli sepuluh juga boleh" senyum manis Bimo tersungging
"Geser sini.. " tangan Bimo menarik pinggang Reyna untuk duduk mendekat, tangannya mengulurkan head set dan memasangkan ditelinga Reyna.
__ADS_1
Reyna terkikik geli waktu mendengar lantunan lagu yang terdengar ditelinganya
"Ya ampunn.. aku berasa kencan dengan kakek-kakek"
"Sssttt... Coba dengar liriknya baik-baik aku jamin kamu suka Rey"
Only you can make all this world seem right
Only you can make the darkness bright
Only you and you alone
Can thrill me like you do
And fill my heart with love for only you
Berdesir hati Reyna, ia pandangi pria disampingnya itu
"Do you like it?" Bimo membalas tatapan Reyna "Lagu ini yang sering Om Alex putar di mobil, lagu kenangannya dengan mendiang tante"
Jemari Bimo menaut erat disela jemari Reyna "Aku baru percaya cinta sehidup semati itu ada, Om Alex tidak pernah berpikir menikah lagi"
Digoyangkan pelan genggaman itu
"Jadi bagaimana, kau sudah bicara dengan Bianca?"
Pertanyaan itu menganggetkan Reyna
"Eh... belum Kak. Maaf aku janji lain kali aku kesana lagi"
Terdengar napas berat dihembuskan "Terserah kau saja Reyna"
Bimo melepas head set dan menghela napas berat . Tiba-tiba ponsel Bimo berdering, alisnya bertaut memandang sederet nomor dilayar
"Angkat saja Kak, siapa tahu penting"
"Halo..ya benar"
,, #? *(+) $) #)
"Hemm ya.. ohhh... "
Bimo berbalik dan berjalan menjauhi Reyna, lama Reyna menunggu pria itu masih saja asik berbincang, sesekali memutar badan dan melihat Reyna dengan senyuman lalu tertawa kecil.
"Siapa?" tanya Reyna saat Bimo menyelesaikan percakapan itu
"Teman" Bimo memasukkan ponsel ke sakunya
"Perempuan?"
"Bukan urusanmu Rey! " jawab Bimo ketus.
DEG!
__ADS_1