
"Reyna!" panggilan Alex mengejutkannya saat ia hendak mengendap-endap naik kekamarnya
"Ya Om?" Reyna tak berani menatap
"Mana Bimo?"
"Ada perlu jadi Reyna pulang dulu"
"Kemana?"
"Nggak tahu Om, Reyna naik dulu"
---
Jam merangkak kian larut namun Bimo belum menampakkan diri. Sedari tadi Reyna hanya membolak balikkan badan di ranjang, matanya susah terpejam.
drtttt drrtt drttt
Nama satria terpampang dilayar ponselnya
"Ya Mas?" jawabnya cemas
"Bimo mabuk berat, tak mungkin ku antar kerumah Om Alex" Satria memekik suara gaduh dentuman musik terdengar dibelakanganya
Reyna menggigit bibir bawahnya, ia turun dari ranjang
"Rey!" Satria membentak
"Iya iya Mas, eh aku kesana sekarang"
"Jangan, bahaya!"
"Tolong bawa ke apartement Mas, aku tunggu disana"
"Apartment?"
"Daerah XXX, nanti aku share lock"
Sedetik kemudian Reyna sudah berlari menuruni tangga, melajukan mobilnya membelah kesunyian malam.
Memutuskan segera naik ke lantai atas ke blok miliknya setelah mengirimkan share lock ke nomor Satria. Ia tak sempat berganti baju, setelan piama tipis yang hanya ditutupi jaket menarik perhatian beberapa orang yang masih terjaga di area apartement.
Menanti dibalik pintu yang sengaja tak ia kunci, derap langkah berat ia dengar 10menit kemudian.
__ADS_1
Satria menatapnya tajam sambil memapah tubuh Bimo yang oleng kanan dan kiri, membanting tubuh suaminya ke sofa.
"Kamu bisa urus sendiri kan?"
"Iya, Mas Satria pulang saja. Makasih"
"Selesaikan urusan kalian segera!"
Reyna mengangguk dan menutup pintu setelah punggung Satria tak nampak lagi. Ia berbalik menuju sofa dimana Bimo sudah melorot terjerembab kebawah. Hatinya pilu melihat kondisi suaminya yang awut-awutan, meracau tak jelas sambil menunjuk-nunjuk ke arahnya
Bimo memegang mulutnya, berusaha berdiri dengan sisa-sisa kesadaran yang ia miliki. Kepalanya berputar hebat, ia rasakan tangan menarik lengannya berusaha memapahnya menuju kamar mandi
"Pergi kau!!!" Bimo berusaha mendorong istrinya tapi justru keduanya jatuh bersama
"Berdiri!" Reyna membentak tapi hanya dibalas dengan tertawa
Mual itu kembali menyerang, tangan dan kakinya berhasil meraih closet dengan cara merangkak. Pijatan lembut Reyna ditengkuknya sedikit melegakan, entah berapa kali ia muntahkan isi perutnya. Menenggak 5 sloki dengan kondisi perut kosong sungguh membuatnya tersiksa saat ini
Reyna melepas satu persatu baju yang melekat ditubuhnya, kemeja, ikat pinggang, celana hingga boxer. Tangan Bimo menghentak keras tubuhnya kebelakang saat air shower yang dingin menggigit di tengah malam membasahi tubuh polosnya.
Reyna tak henti-hentinya menyerah, memaksa suaminya bersimpuh dan mengguyurkan kembali air dingin ke seluruh tubuhnya. Menyeretnya keluar dan membalurkan handuk ke tubuh Bimo yang menggigil, meninggalkannya di ranjang
Melepas piamanya yang basah kuyup dan membalut tubuhnya dengan handuk lalu buru-buru kembali ke ranjang dengan satu liter kemasan air mineral
Tubuh kekar itu kembali oleng dan ambruk ke ranjang dengan napas tersengal
"Kemari " pinta pria itu sambil memejam
Reyna tak mengindahkan, beranjak hendak mengambil baju untuk mereka
"Kau tak dengar!" Bimo meninggikan suaranya memaksa tubuh istrinya berbalik dan mendekat
"Iya aku dengar" Reyna menarik handuk dari tubuh Bimo dan menggantinya dengan selimut
"Kau menyesal menikah denganku?"
"Tidak"
"Bohong! " Bimo membentak persis didepan wajahnya
"Sudah malam, tidur ya.. " Reyna menangkupkan telapaknya ke pipi suaminya
Bimo bangkit dari tidurnya dan mendorong istrinya kasar, tak butuh sekian detik tubuh kekarnya sudah menindih Reyna
__ADS_1
"Kau terpaksa menikah denganku!" tangan Bimo terulur mencekik lalu menghentak leher Reyna kasar
"Tidhhak Khakkk.." susah payah Reyna melepaskan cengkeraman tangan Bimo
Bimo mencondongkan badannya ******* bibir Reyna kasar, mengetatkan cengkraman tangan dilleher membuat Reyna membuka mulut berusaha meraup oksigen
"Aaaacchhhggg... " Bimo menggigit bibirnya hingga rasa anyir darah segar terasa dilidah Reyna
"Jangan lagi kau sebut nama pria lain dengan bibirmu!" melepas cengkraman dari leher Reyna
Reyna hanya mengangguk, sebulir air mata mengalir dari sudut matanya. Menahan perih dari luka robek dibibirnya.
"Kau hanya milikku Rey!" tangan kekar itu menarik paksa handuk yang melilit ditubuhnya hingga tubuh polosnya terekspose jelas. Mata nanar Bimo menatapnya tak berkedip.
Reyna reflek menarik selimut mencoba menutup tubuhnya, gerakannya kalah cepat. Bimo sudah mencumbu lehernya kasar, kaki Reyna menjejak jejak ke segala arah berusaha melepaskan diri.
Tenaganya tak cukup kuat, usahanya justru membuat emosi pria yang dalam kondisi setengah sadar itu menggigit keras ujung pu*ing. Reyna berteriak kesakitan, merebahkan badan kesamping memegang buah dadanya yang terasa ngilu.
Meraup bantal dan menangis sejadinya, bodoh! harusnya kau biarkan saja lelaki itu tidur dalam telernya. Kenapa kau harus mandikan dia hingga kesadarannya kembali perlahan.
Bimo menyerang pangkal pahanya, disaat tubuhnya tak siap disaat batinnya tak menginginkan. Sakit yang teramat sangat ia rasakan, hentakan itu sangat kasar
"Kak.. stop!"
"Tolong berhenti"
"Aku sakit!"
Teriakan Reyna tak digubris oleh pria yang sudah diracuni alkohol ditiap syarafnya
Hentakan itu terhenti, pertautan tubuh mereka terlepas setelah sekian lamanya. Reyna meringis kesakitan. Ia balikkan tubuhnya menelungkup ke ranjang, merapatkan paha menahan nyeri.
Bimo masih saja belum puas, ia tarik kasar pinggul istrinya dan kembali memasukinya. Teriakan kecil memintanya berhenti hanya dianggapnya angin lalu. Tubuhnya diliputi kemarahan dan nafsu yang tak terkendali.
Cairan hangat mengalir seiring dengan lenguhan puas dari bibir Bimo, tubuhnya terkulai lemas, tangannya menarik selimut menutupi bagian bawah tubuhnya. Tak lama dirinya sudah terbuai ke alam mimpi
Isak tangis Reyna masih terdengar di bekapan bantal miliknya. Sakit jiwa raga ia rasakan, hingga tertidur karena kelelahan mendera di tangisnya yang tak berujung.
❤Comment!
❤Like!
❤Vote!
__ADS_1