Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
48. Bimbang


__ADS_3

Tak terasa Dewa telah menginjak usia satu tahun.


Cerita bahagia ia torehkan di kehidupan Reyna, celoteh pertama nya menyebut ma ma ma dan juga langkah perdananya.


Hari ini Bianca sengaja pulang untuk memberikan kado secara langsung untuk Dewa, diciuminya gemas pipi gembil.


Bertiga mereka melepas rindu di kamar Bianca, Dewa asik memainkan kado dari Bianca.


Tante Linda dan Bram sedang menghadiri acara peresmian pembukaan cabang butik baru mereka.


"Mas Bram gimana Rey?" usik Bianca


"Gimana apanya?" Reyna mengelak


"Jangan bilang kamu nggak berpikir untuk menikah lagi"


"Tidak" Bianca terbelakak kaget "Tidak dalam wakti dekat ini Bi.. " Reyna mengedip jahil


.


.


.


Sudah 3 bulan belakangan ini semenjak Dewa semakin menggemaskan dan Bram makin dekat dengannya. Siapapun akan mengira bahwa mereka adalah keluarga bahagia dan Bram adalah ayah dari Dewa ketika mereka kerap pergi bertiga di awal bulan saat Bram mengantarkan Reyna membeli kebutuhan rumah.


Bram memang memberikan perhatian khusus pada Rey, pria itu membeli mobil pribadi dengan dalih agar bisa lebih bebas saat bekerja. Padahal Bram selalu menawarkan untuk mengantar jemput Reyna bekerja yang hanya Reyna iyakan pada saat ia memang ada kepentingan di butik pagi harinya.


Reyna bukan wanita bodoh yang tidak peka dengan semua perhatian dan itikad baik dari Bram. Hanya saja dia menahan diri,menahan perasaan agar tidak terlarut dengan suasana.


Tidak di pungkiri Bram pria mapan yang makin menyempurnakan sosok maskulinnya, meskipun sikap angkuh dan sifatnya yang dingin yang sering ia perlihatkan ditempat kerja terkadang menyebalkan.


Namun pria itu menjadi lembut ketika menghabiskan waktu dengan Dewa.


Reyna hanya tidak ingin terjebak dengan perasaan semu belaka. Bukan karena semata Bram menyayangi Dewa lantas membuatnya luluh. Reyna masih terus berharap bisa bertemu dengan Bimo untuk menentukan langkah hidupnya kemudian.


.


.


.

__ADS_1


"Malah melamun!" pukulan Bianca di lengan Reyna membuyarkan lamunannya


"Kamu pengen apa lagi Reyna. Hidup kamu tuh cuma nunggu iyain Mas Bram aja jadi lengkap bahagia utuh" cecar Bianca


"Nggak ngerti Bi, aku nggak mau lantaran Mas Bram deket sama Dewa trus lalu aku memutuskan menerimanya. Aku hanya tak mau gagal kedua kalinya" Reyna menjawab gamang


"Rey.. Mas Bram juga bangkit dari keterpurukan. Sudah 5 tahun menduda, belum ada wanita membuat imannya goyah. Sampai frustasi aku ditanya Mas Bram soal kamu" terang Bianca gemas


Reyna menghela napas beratnya, selama ini dia hanya sekedar pendengar. Sedikit banyak ia tahu masa lalu Bram tanpa tak ingin sedikitpun mengoreknya. Kenapa?? Karena Reyna pun tidak akan mau bercerita jujur soal masa lalunya. Biarlah orang-orang tetap berpandangan bahwa Dewa adalah anak mantan suaminya.


.


.


.


Seperti yang Reyna tahu dari Bianca maupun dari Bram sendiri


Bram memutuskan menikah dengan kekasihnya yang ia pacari semenjak kuliah namun keduanya bercerai di tahun kedua pernikahan. Tak lama berselang sepeninggal putra mereka saat ketiganya mengalami kecelakaan lalu lintas.


Mantan istri Bram tak henti-hentinya menyalahkannya atas kejadian itu, pertengkaran demi pertengkaran tak terlelakkan sampai mereka memutuskan bercerai.


Reyna duduk di tepi jendela kamarnya setelah menidurkan Dewa. Tak hanya Bianca yang makin mendesaknya untuk membuka hati pada Bram, tante Linda apalagi. Bahkan orang searogan Mas Gandhi pun berhasil di buatnya simpatik padanya.


Pagi diakhir pekan Reyna sedang sibuk menyiapkan menu sarapannya, Dewa ditinggalkannya bersama Bram bermain seperti biasa diruang tengah.


"Mbak Rey, hape nya bunyi terus" kata Mbak Ayu sang asisten rumah tangga "Biar saya yang lanjutin masak, angkat dulu takut penting" Mbak Ayu memaksa mengambil alih penggorengan dari Reyna


Reyna buru-buru menjawab panggilan video call dari Mas Gandhi, apalagi kalau tidak mengabsennya setiap akhir pekan


"Ya Mas, aku lagi masak ganggu saja" sungut Reyna


Terlihat wajah Hermawan dilayar nampak merebut paksa ponsel


"Cucuku mana Rey?"


Reyna pura-pura cemberut


"Pakdhe nnggak kangen sama Rey" godanya


Terdengar tawa kedua pria dari seberang sana.

__ADS_1


Reyna berjalan kearah ruang tengah tapi tak didapati Dewa dan Bram disana, dia melangkah ke taman samping juga tak menemukan siapapun.


"Mana Rey??" terdengar suara pakdhe tak sabar


"Hemm iya bentar, Reyna cari dulu pakdhe"


Reyna hanya tertuju pada kamar laki-laki diseberang kamarnya, terkadang Bram mengajak Dewa kekamarnya.


"Ya ampun Mas Brammm....." pekik Reyna


Ia lihat Bram tidur terlentang di ranjang dan membiarkan Dewa merangkak kesana kemari dan asik merobek robek kertas koran.


Bram yang terkejut terbangun seketika, ia hanya nyengir-nyengir pasrah ketika melihat Reyna melotot ke arahnya dan separuh ranjangnya kotor karena sobekan koran.


"Sorry aku ketiduran"


"Kalau Dewa jatuh gimana?" semprot Reyna


"Reyna....." cicit di ponselnya terdengar


Reyna tersadar ia masih dalam sambungan video itu langsung ia mengarahkan ponselnya ke arah Dewa


Setelah puas melihat Dewa, Pakdhe menginginkan Reyna pulang pekan depan karena mobil Gandhi sedang diperbaiki di bengkel cukup lama


"Ya Pakdhe Reyna usahakan ya" jawab Reyna ragu, bisa saja dia berkendara sendiri tapi tak bisa dibayangkan jika Dewa rewel minta ASI atau mengantuk saat dijalan, bukankah itu merepotkan.


Bram yang mendengar pembicaraan itu menawarkan bantuan


"Aku antar"


"Nggak usah, aku cukup pinjam mobil Mas Bram saja"


"Kalau Dewa rewel haus gimana? Kamu mau berhenti dipinggir jalan kasih ASI? Kalau dia ngantuk atau nangis?"


Omongan Bram hanya di tanggapi dengan helaan napas berat dan anggukan pasrah


.


.


.

__ADS_1


Selepas Bianca melanjutkan studi dan mengetahui ada pria hidup satu rumah dengan Reyna, Gandhi mencecar Reyna memaksanya pindah rumah karena takut terjadi hal yang tak diinginkan. Tetapi Reyna menolak halus dia ragu dirinya sanggup merawat Dewa tanpa bantuan orang lain. Tak bisa dielakkan bantuan Bram memang sangat ia butuhkan.


Reaksi Gandhi terhadap Bram saat tiba dirumah Hermawan sangat amat tidak disangka Reyna. Sejak kapan dua pria seumuran itu bercakap akrab, entah karena status mereka yang sesama duda atau entah apalah Reyna tak mengerti yang jelas saat itu Gandhi berhenti mendesaknya pindah dari rumah Linda.


__ADS_2