
Reyna memacu motornya kencang, isi kepalanya penuh dengan amarah. Maling... seumur hidupnya baru kali ini dia dituduh maling, keluarganya tidak pernah mendidiknya untuk mengambil apapun yang bukan haknya, tak terasa air bening menetes membasahi pipinya.
Reyna memakirkan motornya di kedai bubur ayam pinggir jalan.
"Satu mas, minumnya teh panas" pintanya
Reyna makan bubur itu dengan perlahan, ia ingin membunuh waktu dengan kesendiriannya. Reyna melirik jam di ponselnya yang menunjukkan angka 07.15, masih jauh dari waktu Satria berangkat bekerja, bisa dibilang si nenek gombel juga masih ada disana
Rey kembali melajukan motornya ke bundaran taman kota, sudah 4 kali motornya hanya berputar-putar saja sampai sudut matanya menangkap kedai es krim yang pernah dia sambangi dengan Satria.
"Coffe & Ice Cream" 24 hours available, matanya langsung membelalak tak pikir panjang dia segera memarkirkan motornya disana dan melihat menu es krim di banner yang terpampang didepan, es krim cocok sekali mendinginkan isi kepalanya yang berasa menguap.
Mata Reyna berkedip-kedip menatap daftar menu, pandangannya tertuju pada es krim berukuran jumbo. Tangannya reflek merogoh kantong jaketnya ...
ougggghhhh shittttt
Reyna baru tersadar dia tidak membawa dompet bukankah tadi dia membayar bubur dengan uang kembalian belanja.
Dengan gontai dia menyeret langkahnya kembali menuju motornya.
"Reyna!" sapaan itu membuatnya menoleh, ia nampak terkejut melihat sosok pria yang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri.
Reyna makin mempercepat langkahnya menuju motornya.
"Tunggu Reyna, sebentar..." lelaki itu berlari berusaha menjajari Reyna.
Reyna bergegas naik ke motornya memasangkan kontak namun sebelum berhasil menekan tombol starter kunci motornya berhasil di rebut lelaki tersebut.
"Kembaliin..." Reyna berteriak dan berusaha merebut kembali.
"Turun dulu aku mau bicara sebentar"
Reyna makin brutal mencakar tangan pria tersebut dia baru berhenti ketika kedua pergelangan tanganya digenggam erat oleh pria itu.
"Aku mau minta maaf"
Napas Rey tersengal-sengal, dia masih duduk diatas motornya dan enggan turun.
"Maaf maaf, pacar saya lagi ngambek! " seloroh pria itu santai kearah kerumunan orang disekitar.
Reyna mendelik ke arah pria didepannya lalu melihat sekelilingnya, banyak mata yang memandang ke mereka atas kegaduhan tadi.
tidak mungkin akan terjadi yang membahayakan dirinya ditempat seramai ini gumamnya
"Ada apa?" tanya Reyna ketus.
__ADS_1
"Ngobrol didalam yuk"
"Disini aja, aku mau pulang"
"Pleaseeee.." pinta pria itu "kenapa tadi kau tak jadi masuk?" sambungnya
"Lupa bawa uang" jawab Reyna polos.
"Yuk masuk kutraktir apapun yang kau mau"
Jiwa kekanak-kanakan Reyna seketika membuncah, bayangan es krim jumbo menari-nari di pelupuknya. Dia turun dari motor dan berjalan kembali ke kedai.
"Kau mau apa?" tanya pria itu.
"Aku saja yang pesan siniin uangnya aku nggak mau sampe kamu macem-macemin, Kak Bimo mau pesan apa?"
"Robusta" jawabnya sambil menyodorkan uang kemudian berlalu mencari tempat duduk.
.
.
.
Reyna hanya mengangguk dan menyuapkan es krim ke mulutnya. Dia melirik pria didepannya, wajahnya tampan ditunjang dengan setelan kemeja rapi.
"Kamu pergi kesini cuma mau makan es krim? Pagi-pagi begini?"
Reyna mendengus sebal kemudian menjelaskan bahwa dia sedang menghindari si nenek gombel dirumah Satria.
"Emang kenapa Niken marah-marah?" tanya Bimo dengan heran.
"Aku dibilang mer......." Reyna tersentak dan buru-buru meralat ucapanya "ehh aku dibilang merusak moment mereka lagi gitu-gitu"
shiiittttt... untung otakku bisa kompromi mikir cepat batin Reyna
"Kak Bimo sendiri ngapain disini, nggak kerja?" tanyanya mengalihkan perhatian.
"Aku nunggu klien sengaja datang pagian takut telat. Kamu ada perlu apa Rey sampai tinggal dirumah Satria?"
glekkkkkk ****** kamu Rey
"Ehhhh cari kerja Kak.. aku baru lulus diploma"
"Jurusan apa?"
__ADS_1
"Manajemen pemasaran"
"Oohhh, cocok nih. Mau kerja ditempatku? Aku lagi butuh assisten" Bimo mengambil kartu nama didompetnya dan menyerahkan ke Reyna "Bawa berkasmu ke alamat itu dan bilang saja untuk Bimo biar nanti aku atur"
Reyna memasukkan kartu nama itu ke kantong jaketnya, sekaligus mengambil ponselnya untuk menghubungi Satria memastikan apakah dia sudah bisa pulang kerumah tapi dia urungkan niatnya.
"Kenapa?" tanya Bimo
"Mau pulang nggak bisa hubungi mas Satria" sahut Rey sambil memperlihatkan ponselnya yang mati kehabisan baterai.
"Ohh.." jawab Bimo
percuma saja jika dia yang menghubunginya pasti tidak akan dihiraukan , diam-diam dia mengambil gambar Reyna yang sedang melahab es krimnya lalu mengirimkan ke Satria dia ketik "adik kesayanganmu bersamaku" dan benar dugaanya sedetik kemudian video panggilan masuk ke ponselnya
"brengsek kamu Bim, mana Reyna!!??"
wajah gusar Satria terlihat memerah di ponsel Bimo. Pria hanya terkekeh dan memberikan ponselnya pada Reyna.
"Kamu dimana Rey!!! aku jemput sekarang!!" tanya Satria saat melihat Rey di ponselnya
"ngademmm" Reyna mengarahkan ponsel ke arah sekitar cafe.
"mas sudah di kantor?" Reyna bisa melihat deretan motor dan mobil dibelakang Satria.
"jangan kemana-mana, aku kesitu!"
"nggak usah aku bisa pulang sendiri!"
tuuuuttt tuuutttt tutttttt
"Kalau Mas Satria telepon nggak usah diangkat" pintanya pada Bimo sambil menyerahkan ponselnya kembali.
"Kemarin saja kau lari dariku, sekarang saja malah lari dari Satria" ejek Bimo.
Reyna tersenyum sinis
"Kan nggak mungkin Kak Bimo bisa macem-macemin aku disini"
"Macem-macem apaan sih Reyna?"
"Yah kaya tadi itu, bisa jadi Kak Bimo pesen naruh apaaa gitu di es krim aku trus aku pingsan gituuuu trus...." Reyna tidak melanjutkan ucapannya karena bergidik ngeri.
"Reyna..Ya nggak mungkin lahh" Bimo tergelak. Kedua alisnya terangkat, dia memajukan badannya dan berbisik pelan "Aku nggak nafsu kalau lawanku nggak sadar. Yang ada aku kasih obat perangsang ke es krim kamu biar nggak perlu repot-repot"
Reyna mendelik membanting sendok es krimnya kemudian segera menyambar kontak motornya dan berlari terbirit-birit meninggalkan kedai.
__ADS_1