Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
89. Masih Ada


__ADS_3

Reyna sudah bersiap dengan kue ulang tahun kecil ditangannya. Dewa yang sengaja dibangunkan oleh Bimo sudah di ajak menuju pantai lebih dulu.


Ada yang menggelitik di perasaan Bimo saat melihat Reyna datang kearahnya, jeans pencil 7/8 memperlihatkan betisnya yang mulus, sweater rajut berukuran jumbo masih memperlihatkan bagian dadanya yang membulat indah. Rambutnya diambil sejumput dipilin kebelakang, sebagian yang tergerai dimainkan angin pantai.


Bimo menurunkan Dewa dari gendongannya,membantu merapikan rambut Reyna yang terkena angin dan menyisipkan ke belakang telinga, beberapa bagian rambutnya kotor terkena kue tart.


"Selamat ulang tahun Dewa anakku... " wanita itu mencium pipi anaknya dan tertawa saat melihat Bimo beberapa kali gagal menyalakan lilin dengan pemantik gas . Bimo menyusul tertawa menyadari kebodohan usahanya yang selalu diterpa angin pantai.


Ketiganya duduk tanpa alas dipasir putih dan berbagi potongan kecil kue ulang tahun. Tangan Bimo terulur membersihkan sisa cream kue dari sudut bibir Dewa, memandang Reyna dari sudut matanya.


"Ijinkan dengan sisa hidupku menemani Dewa di tiap ulang tahunnya Reyna.. " pintanya pelan penuh harap.


"Kak... " Reyna hanya terpekur tak sanggup menjawab pertanyaan dengan sejuta makna. Pandangannya beralih pada sunset yang selalu membuat sisi lemah dari dirinya, mengingatkan kembali saat terakhir ia nikmati pesona itu bersama Bram sebelum ia pergi selamanya.


Dan air mata itu kembali menetes, buru-buru ia seka dengan punggung tangannya. Bukankah ini hari bahagia Dewa, sudah pasti Bram juga bahagia melihatnya dari surga sana.


Bimo yang telah lebih dulu berdiri menyentuh pundaknya pelan sambil mengulurkan tangan "Pulang yuk..besok aku berangkat pagi-pagi sekali. Ada rapat dengan dewan direksi"


Reyna menyambut uluran tangan itu, ia tatap mata tajam pria yang selalu membuat jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya

__ADS_1


"Maaf kalau permintaanku tadi berlebihan, aku tahu kau masih berduka Reyna. Dan aku akan sabar menunggu. Kapanpun itu! " bisiknya pelan


Reyna memaksakan tersenyum, ia sadar sepenuhnya perasaan pada Bimo belum berubah sedikitpun tapi hatinya masih belum siap, ia belum rela posisi Bram tergantikan secepat ini "Makasih Kak untuk hari ini"


.


.


.


Bimo berjalan gontai memasuki rumah Reyna, kantuknya sudah tak tertahankan meskipun arlojinya masih menunjukkan pukul 8 malam.


"Kak Bimo istirahat saja, biar aku yang beres-beres" Reyna beranjak menuju bagasi dan menurunkan barang-barang bawaan mereka


"Eh.. " wajah Rey melongok dari balik bagasi


"Bangunkan aku pagi-pagi, aku takut terlambat, ya boleh ya" Bimo merajuk seperti anak kecil


"Ehmm.. ya. Kak Bimo tidur saja dikamarku. Badanmu sakit nanti kalau tidur bersama Dewa..."

__ADS_1


"Boleh??" entah angin apa berhembus laki-laki itu berteriak kesenangan


"Biar aku yang tidur dikamar Dewa" sambung


Reyna enteng


Bahu Bimo melorot turun seketika, arghhh dasar otak mesumnya. Disaat tubuh lelah saja masih saja berpikir yang tidak-tidak. Dilepaskan saja celana panjang dan kaosnya lalu menjatuhkan dirinya keranjang Reyna, diciumnya bantal yang menyisakan bau khas parfum yang bercampur bau tubuh Reyna, dipeluknya erat-erat guling Reyna dan sesekali diciumnya sebelum akhirnya ia tertidur pulas.


.


.


.


Reyna menguap lebar saat selesai membereskan semua barang dari bagasi. Baju-baju kotor serta mainan bercampur pasir sudah selesai ia bersihkan. Reyna mengambil bantal sofa dan berjalan menuju kamar Dewa, anaknya telah tertidur satu jam lalu setelah keduanya menonton kartun di kamar.


Reyna mendengus saat melihat Dewa merubah posisi tidurnya yang kali ini melintang di ranjang tak menyisakan ruang sedikitpun.


Reyna berbalik menuju ruang tengah, menggaruk kepalanya yang tak gatal. Mana mungkin ia bisa tidur di sofa kulit yang pasti dingin jika bersentuhan dengan kulitnya. Sejenak Reyna ragu menekan handle pintu kamarnya, ia hendak mengambil selimut untuk melapisi sofa.

__ADS_1


Matanya tertumbuk pada punggung polos Bimo, pria itu tidur memeluk guling mepet ke tembok. Reyna menarik pelan selimut yang berada dibawah kaki Bimo namun sia-sia, jika ia paksakan pasti pria itu akan bangun.


Masih banyak ruang diranjang tersisa untuknya, Reyna berbalik mengambil semua bantal sofa menyusun dibelakang punggung Bimo lalu menghempaskan tubuhnya disisi ranjang lain tidur membelakangi pria itu. Kantuk yang teramat sangat membawanya ke alam mimpi hanya dalam hitungan menit.


__ADS_2