
Minggu-minggu awal adalah waktu yang paling dinikmati Reyna menjadi Nyonya Bimo di rumah ini. Perannya sebagai istri terbilang sempurna dari mulai bangun tidur hingga menjelang tidur.
Waktu bersama Dewa ia manfaatkan disiang hari agar malamnya bisa "mengurus" sang bayi besar. Dewa tak lagi merengek tidur bersama mereka karena sudah puas menghabiskan waktu bersama sang mama.
Hingga hampir sebulan berlalu, rasa jenuh mulai mengganggunya, tapi selalu ia tepis. Tahun ajaran baru sekolah Dewa akan dimulai awal minggu depan, Reyna berharap dia akan kembali sibuk meski hanya mengantar dan menjemput anaknya sekolah.
Sore hari menjelang petang, Reyna berbincang dengan Alex di teras selagi menunggu Bimo pulang.
"Reyna lihat Om Alex selalu sibuk meskipun sudah pensiun"
"Haruslah Rey, kalau otak selalu kita ajak bekerja nantinya tubuh kita juga otomatis sehat"
"Pagi sore olahraga, terus sibuk ngurus tanaman dibelakang. Belum kumpul-kumpul sama teman-teman. Ah Reyna dengar dari Kak Bimo, Om Alex punya bisnis retail" Reyna menyuguhkan secangkir teh untuk teman mengobrol
"Ehmm ya Reyna, tadinya bisnis kecil-kecilan eh ternyata bagus pula pasarnya"
"Oh ya? Enak ya sudah pensiun tapi uang tetap mengalir"
"Kalau saja raga Om masih kuat bekerja pasti Om masih pergi pagi pulang malam seperti suamimu Rey"
"Lebih enak bisnis sendiri dong Om. Jadi bos sekalian jadi karyawan"
"Yah.. tapi semua tidak mudah Rey. Dari nol, jatuh bangun. Rugi dan untung harus dipertimbangkan"
"Retail Om Alex dibidang apa?"
"Tadinya nggak sengaja ada kenalan Om seorang ekspartriat baru pindah ke Indo. You know, kaum mereka kadang tidak cocok dengan barang
pribumi. Kesibukan mereka juga mengikis waktu berburu dari supermarket ke supermarket"
Alex meminum tehnya dan melanjutkan obrolan
"Mr Horst, dia berkewarganegaraan German pernah goal proyek besar dengan perusahaan kita waktu itu. Om bertemu dengannya di supermarket sedang mencari kebutuhan pokok untuk anaknya yang alergen gluten dan agak sulit dicari memang"
"Ternyata banyak merk makanan sehat yang ia cari sama dengan yang Om konsumsi setelah operasi ring jantung. Om pesan via e-bay waktu itu. Beberapa kali dia kasih tips sebagai ucapan terimakasih. Eh malah keterusan minta tolong untuk carikan ini dan itu"
"Ya akhirnya Om punya ide untuk membuka jasa online khusus memenuhi kebutuhan kaum ekspartiat. Tak sangka ternyata banyak peminat, malah sekarang ada ruko juga di dekat kawasan perumahan elit Rey"
"Wahhhh... hebat ya Om"
"Hemmm ya,, kapan-kapan Om ajak kesana ya. Karyawan yang direkrut mulai banyak. Tangan kanan Om masih muda malah seumuran kamu"
"Oh ya?? "
"Biasanya sebulan sekali dia kemari untuk laporan bulanan. Om tinggal periksa dan tanda tangan saja"
"Ah Reyna ngiri sama Om Alex" Reyna menopang dagunya
"Om lihat Reyna bosan ya dirumah? "
"Ehm.. iya eh enggak Om"
"Om paham, dulu awal-awal berhenti kerja Om juga rasakan itu. Reyna ingin kerja lagi?"
"Eh.. "
"Tapi Bimo melarang kamu?"
"Bukannya Om juga mendukung Reyna resign dari pekerjaan kemarin" Reyna melirik Alex takut-takut
"Ya iyalah Om mendukung kamu resign, kamu kan harus pindah kemari"Alex tertawa kecil
"Oh"
"Mau Om bantu bicara ke Bimo?"
"Tidak Om, jangan!" Reyna menggeleng cepat
"Reyna.. Bimo marah itu sudah biasa, tapi kamu pasti tahu hal apa yang bikin anak itu takluk lagi kepadamu" Alex menyunggingkan senyum "Kamu cobalah bicara dulu, tapi sebelumnya bikin dia senang dulu. Paham kan?" Alex mengetuk punggung tangan Reyna
Paham Om paham pake banget... bicara pake bahasa tubuh bahasa bibir bahasa nafsu baru bahasa manusia
Tapi belum saatnya Reyna bicara. Baru juga sebulan, semudah itu dia menyerah mengusir kebosanan."Rey.. "
"Ya Om?"
__ADS_1
"Kalian sedang tidak menunda kehamilan kan?"
"Nggak Om, kenapa?"
"Om berharap kamu segera hamil jadi bisa sibuk mengurus anak"
"Ehmm..Kak Bimo juga bilang begitu"
"Ahh... bilang padanya jangan keseringan"
Aihh.... tahu saja Om Alex!
.
.
.
Mengantar jemput sekolah sekarang sudah menjadi kegiatan Reyna sehari-hari. Duduk bercengkrama dengan ibu-ibu muda lainnya menghabiskan waktu hingga waktu sekolah usai.
Tak jarang dia terpaksa ikut bergabung dengan kaum soksosialita atau sejenisnya, nemplok kafe sana pindah kafe sini dan kembali ke sekolah 3 jam kemudian.
Membicarakan hal yang kurang sesuai dengan kepribadian Reyna. Tas branded, baju branded, sepatu branded. Kapan mereka bicara otak branded hihihihi!
Salon yang ini jeng, skincare yang itu cynt, sulam alis disono, tanam benang disini. Wadew itu muka apa jahitan yak. Permak sana permak sini hahaha!
Jengah! Bosan! Muak! tapi mau tak mau ia jalani demi pengabdian sebagai istri dan ibu yang baik. Menjadi silent readers di group sekolah, hanya beberapa kegiatan saja yang Reyna turut aktif. Salah satunya menyiapkan makanan atau camilan sehat untuk siswa setiap satu minggu sekali.
"Mama... " Dewa menyapanya saat turun dari lantai atas
"Halo anak Mama.. "
"Mama masak apa buat Dewa dan kawan-kawan"
"Ehmm.. macaroni schootel kesukaan Dewa dan Rara"
"Yeeee.... " Dewa berlari senang, menuju meja makan untuk sarapan bersama.
---
"Ayah... sayang itu apa?" tanya Dewa
"Kalau Ayah ke Mama sayang juga?"
"Ehmm.. iyalah"
"Mama ke Ayah sayang juga? " Dewa beralih menatap Reyna
"Iya Dewa.. "
"Tapi mama nggak pernah panggil ayah sayang itu" protesnya
"Ehmm.. " Reyna melirik Bimo. Ah mereka bukan pasangan romantis yang seringkali memanggil sayang. Seringnya hanya Bimo, itupun jika menginginkan "sesuatu"
"Kenapa Dewa tanyakan ini?"
"Kemarin Rara cerita kalau Om Satria dan Tante Niken panggil sayang-sayang"
"Oh" Bimo dan Reyna serempak membulatkan mulut
"Dewa mau Mama panggil ayah jangan Kakak"
"Eh, kenapa Dewa?"
"Kakak itu buat Dewa, kan Dewa mau punya adik cantik"
Reyna mendengus dan melihat Bimo tanpa ekspresi, masa iya aku harus panggil pria itu sayang... Oh No!
.
.
.
Reyna membenarkan dasi Bimo sebelum berangkat, Dewa dijemput Niken sekalian mengantarkan Rara, hari ini tidak ada jadwal terbang. Reyna akan menyusulnya nanti selepas Bimo berangkat.
__ADS_1
"Makasih sayang... " Bimo mengecup pipinya
"Ih... geli ah Kak"
"Dewa jadi makin suka protes ya Rey"
"Hu um, aku coba biasakan panggil Kak Bimo ayah didepan Dewa mulai sekarang"
"Tetap panggil aku Kak saat diranjang ya?" bisik Bimo ditelinga "Terdengar seksi saat kamu memanggilku seperti itu"
Hadew meremang nih bulu kuduk!
"Tiap hari jumat aku lihat kamu happy banget antar Dewa"
"Eh iya, suka lihat anak-anak makan dan lagi habis itu weekend"
"Wajah kamu murung Senin sampai Kamis" Bimo menambahkan sambil mengenakan sepatu "Jenuh?"
"Ehmm.. enggak. Cuma kurang cocok saja sama
ibu-ibu lainnya kok"
"Pulang saja setelah antar. Nanti jemput lagi"
"Eh ya.. " trus aku ngapain dong dirumah, serba salah!
"Kamu nggak ingin beli test pack Rey?" Bimo mengelus perut datarnya "Kayaknya sudah lama banget kamu nggak datang bulan"
Reyna melirik kalender, ah baru juga telat seminggu
"Iya,, nanti gampang"
"Semoga dedek cantik tumbuh disini"
"Kalau belum Kak Bimo harus siap-siap nahan ya. Kata Om Alex kita keseringan bikin malah nggak jadi"
"Ah.. masa?"
"Coba deh baca artikelnya" Reyna menyodorkan ponselnya
"Aduh.. berarti kalau malam sudah paginya nggak boleh?" Bimo membelalak
"Yap, biar Si Ontongnya re-charge dulu. Pagi malam pagi malam kaya kerja bagai kuda"
"Kasihan Ontong.... " Bimo meraup wajahnya frustasi
.
.
.
"Mbak Nikennn... " Reyna memeluk erat perempuan itu "Habis ini kita hangout ya.. Mau curcol" Reyna bermanja dilengan perempuan itu
"Iyes yuk, anak-anak biar sama pengasuh Dewa"
Ni-Na squad kini berjalan beriringan di mall
"Kenapa cantik? Galau amat"
"Bosan aku Mbak"
"Hidup kamu tuh perfect Rey, tinggal diam dirumah uang mengalir ke rekening. Aku masih kerja sana sini buat mendongkrak hidup. Tambah Rara juga kadang nggak keurus"
"Heemm??" Reyna mendongak
"Kufur nikmat kamu ah!" Niken melemparkan tissue kotor
"Ya elah Mbak, kirain bakalan dapat pendukung. Eh nyiyirin aku juga" Reyna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan "Gabut akut"
"Nikmati waktu kamu. Dulu aku kan juga sempat menganggur sampai Rara bisa ditinggal lagi kerja. Intinya aku nikmati semua prosesnya. Misal Satria minta aku berhenti kerja, mungkin bakalan aku iyain juga kok. Artinya dia sudah siap menanggung hidup kita. Ya kan?"
"Sungguh Mbak?"
Niken mengangguk "Jangan bantah suami, pamali! Ya aku doakan saja Bimo kasih kamu ijin nantinya. Jangan dibuat stress, nanti malah nggak hamil-hamil lho"
__ADS_1
Oh No, hamil lagi hamil lagi yang dibahas!
Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!