Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
7. Niken


__ADS_3

Hari sudah gelap ketika Satria dan Reyna tiba di kediaman Satria,setelah sebelumnya mampir untuk makan malam dan ke mini market untuk membeli beberapa kebutuhan rumah. Rumah minimalis dengan aksen modern bercat hijau. Nampak sebuah motor trail terparkir digarasi saat Satria memarkiran mobilnya.


Terlihat rumah yang tertata apik saat lampu dinyalakan.


"Rey, kamu tempati kamar itu ya" tunjuk Satria pada kamar yang berukuran sedang didepan kamar utama, ditengahnya terdapat kamar mandi.


Reyna hanya menggangguk, dengan sigap ia menenteng ranselnya dan beranjak menuju kamarnya untuk membereskan barang-barangnya.


Ingin rasanya segera beranjak ke ranjang untuk tidur tapi badannya terasa lengket karena perjalanan tadi. Saat keluar kamar dengan meneteng handuk Reyna berpapasan dengan Satria.


"Ehm kamu mau mandi dulu? tanya Rey sambil menunjuk kamar mandi.


"Oh pakai saja,dikamarku ada kamar mandi dalam"


Reyna bergegas masuk ke kamar mandi namun langkahnya terhenti saat Satria memanggilnya.


"Rey...Jangan lupa panggil aku mas,untuk membisakan saja,jangan sampai kau ditegur Ibu jika suatu hari datang kemari"


"Iya Mas" sahut Reyna dengan enggan.


---


Saat Rey keluar kamar mandi dia mendengar sayup-sayup suara Satria sedang berbicara di ponselnya diruang tengah.


"Iya sayaaaang, besok aku pasti kesana. Sudah dulu ya aku capek mau istirahat"


Satria terkejut saat membalikan badan dan melihat Reyna sedang melihatnya.


hish kenapa tadi aku tidak bicara saja dikamar,belum saatnya dia berbicara soal Niken karena diapun belum memberitahu Niken soal pernikahannya


Satria hanya berlalu melewati Reyna masuk kekamarnya dan menutup pintunya, hal sama juga dilakukan Reyna.


.


.


.


Pagi hari saat Reyna terbangun rumah terasa sunyi, ia mencari Satria di seluruh isi rumah tapi sang empu rumah tidak terlihat. Saat dia melongok ke garasi dia baru menyadari jika Satria sudah berangkat bekerja. Perutnya berontak memaksanya menuju dapur untuk mengais makanan, hanya tersedia roti tawar dan selai yang mereka beli di minimarket semalam.

__ADS_1


Reyna menikmati sarapannya di ruang tengah sembari menyalakan televisi. Ponselnya berbunyi nyaring, Mbak May menghubunginya lewat panggilan video. Terlihat muka si kecil Adam lebih dulu disusul muka kakaknya itu.


"Hai Rey..." serunya


"Hai Mbak May , hai juga Adam.."


"Lagi apa kamu.."


"Sarapan" jawab Rey sambil mengunyah rotinya


"Sejak kapan kamu cukup sarapan roti?? emmmm jangan bilang kamu disuruh diet sama Satria ya"


"Emmm..enggak kok Mbak, nanti makan lagi, nanti masak" kilah Reyna, dia tak mau Mbak May berfikir yang bukan-bukan.


Cukup lama keduanya berbincang hingga Mbak May menutup panggilannya ketika Adam mulai merajuk. Reyna beralih mengimkan pesan kepada Bianca menanyakan kabarnya disana. Selebihnya dia hanya menonton televisi hingga siang menjelang.


---


Perutnya terasa lapar ketika matahari bergulir keatas, Reyna menuju dapur. Membuka kulkas yang ternyata hanya ada air mineral, beranjak menuju kabinet dapur, ia buka satu persatu hanya ada gula pasir, teh celup, kopi dan 2 bungkus mie instan.


apa yang dimakan Satria sehari-harinya jika kulkas dan seisi dapur bisa dibilang nihil


Tak terasa matahari bergulir keperaduan dan hari mulai gelap,Reyna berkeliling seisi rumah mencoba saklar-saklar lampu satu persatu. Jam dinding menunjukkan pukul 6, ia berharap Satria segera pulang dan membawa makanan. Sungguh perutnya tak bisa diajak kompromi jika belum terisi nasi.


Satu jam dua jam tiga jam dilewatinya tapi Satria tak kunjung pulang. Perutnya terasa kembung karena sedari tadi hanya dia isi dengan air putih.


Reyna tak berniat menghubungi Satria karena takut mengganggu jika Satria sedang sibuk bekerja. Tak terasa kantuk mulai menyerang ditambah kepalanya mulai pening karena lapar.


.


.


.


"Rey bangun..Rey..bangun" suara Satria dan tepukan tangan dibahu Rey membangunkannya.


"Kamu ngapain tidur disini heh"


Reyna hanya melirik jam dinding dimana jarum pendeknya mengarah ke angka 10.

__ADS_1


"Aku lapar Mas..." sahutnya dengan suara serak. Tubuhnya terasa lemas dan kepalanya masih berdenyut pening.


Satria membelalakan mata dan baru sadar ia meninggalkan Reyna tanpa pesan dan parahnya lagi dia tak terpikirkan sedikitpun. Satria segera mengambil ponsel dan memesan makanan via online.


Tak ada setengah jam pesanan datang dan segera dia bawa ke Rey, senyumnya tersungging manis ketika melihat Rey makan dengan lahab.


"Eemmmm ennaaqq, mas mauuhh" tawarnya dengan mulut penuh makanan.


"Aku sudah makan.." tolak Satria, dia melihat Reyna yang makan dengan lahabnya.


"Kenyang?" tanya Satria saat melihat Reyna memasukkan sendok untuk suapan terakhir.


Reyna hanya mengangguk angguk tersenyum dan menepuk nepuk perutnya.


''Makasih Mas''


"Maaf ya Rey aku benar-benar tidak ingat ada kamu dirumah"


"Nggak masalah'' Reyna meminum air dan mengibaskan tangannya ''Aku tahu Mas sibuk kerja"


Satria tersenyum kecut, memang ada benarnya dia bekerja tapi jam 4 sore dia sudah merampungkan pekerjaannya dan pergi ke rumah Niken lebih dulu untuk menjelaskan soal pernikahannya.


5 jam lalu di kediaman Niken


"Halooo sayang, akhirnya kamu pulang juga. Ngapain sih kamu lama-lama pulang kampung, aku rindu tauuu" sambut Niken sambil bergelayut manja dipundak Satria


Satria merangkul pinggang ramping Niken dan mencium kening wanitanya itu. Wanita yang sudah 3 tahun menemani di kota perantauan ini, wanita yang tak pernah disambut ramah di keluarga Wiji. Bapak dan Ibu nya tidak pernah menerima Niken yang tidak jelas asal-usulnya. Niken besar dipanti asuhan, tidak jelas siapa kedua orangtuanya.


Setelah mereka melepas rindu diranjang , Satria memberanikan diri untuk menguatarakan maksud Bapak Ibunya menahan dia selama satu minggu kemarin.


"Kamu gila Sat, apa kamu tak memikirkan perasaanku dengan mengambil keputusan sepihakmu itu" teriak Niken diiringi isak tangisnya.


"Niken,dengar aku dulu. Aku tak bisa menolak syarat yang Bapak ajukan. Kau tahu sendiri usahaku sedang sulit. Tak mungkin aku merumahkan karyawan bahkan lebih parahnya jika nanti usahaku gulung tikar. Aku tahu ini tak adil untukmu tapi aku tak punya pilihan lagi. Percaya padaku pernikahan ini berakhir jika keuangan sudah membaik" Satria membujuk Niken dan memeluknya erat.


"Kau pikir aku bisa percaya kalau kau dan wanita itu tidak terjadi apa-apa selama kalian tinggal serumah"


"Demi Tuhan Niken, anak itu masih bocah dia juga terpaksa menerima perjodohan ini, dia juga setuju kalau pernikahan ini hanya sebatas pura-pura"


Niken masih menangis tersedu, hatinya sakit bukan main. Selama ini dia bertahan meskipun hanya sedikit kemungkinan dan harapan dia akan menikah dengan Satria tapi dia tidak menyangka jika Satria akan memutuskan menikah dengan wanita lain. Masih terbayang dibenaknya saat Pak Wiji hanya melirik sebelah mata ketika tahu bahwa dia hanya anak panti asuhan, sangat tidak terhormat jika seorang usahawan yang cukup terkenal mendapatkan menantu wanita yang tidak jelas asal usulnya. Apa kata orang jika sang mempelai tidak mempunyai wali disaat pernikahan.

__ADS_1


Selama ini Niken bertahan karena Satria baginya adalah penyelamat hidupnya. Satria tempat dia bersandar bahkan rumah yang ia tempati sekarang adalah pemberiannya, Satria adalah segalanya baginya.


__ADS_2