
"Om Alex cerita apa saja?" todongnya pada Gandhi sesaat setelah mobil keluar dari pelataran rumah
"Apalagi kalau bukan kelakuan konyol suamimu"
"Konyol?" bertemu dengan perempuan ular hanya dibilang konyol, dasar kaum adam! gerutu Reyna dalam hati
"Rey.." panggil Gandhi
"Hemm" tak mengalihkan pandangan dari kaca mobil
"Apa yang kau pikirkan?"
Reyna menoleh "Aku membayangkan apa yang telah mereka perbuat dibelakangku selama ini"
Gandhi tertawa terbahak "Cemburumu berlebihan!"
"Hei...berlebihan katamu Mas? Laki-laki normal bertemu perempuan dengan raga sesempurna itu. Apa lagi yang ada diotak kalian!!" bentak Reyna kesal
"Serendah itu kau memandang kaumku"
Reyna terdiam, seumur hidup ia pikir hanya Satria, Andre dan suaminya yang mempunyai kuota otak mesum melebihi kaum mereka. Tak disangkanya Pras manusia pendiam pun juga tega berbuat kurang ajar. Kenapa tidak boleh ia berpikir semua laki-laki sama saja!
Mobil Gandhi melaju tenang, setenang kondisi dalam mobil yang hanya berpenumpang dua manusia itu. Mulai memasuki jalanan berbatu melewati hamparan sawah terhampar hijau. Berbelok, menukik hingga berhenti di salah satu home stay
Reyna turun meliukkan badannya lalu berjalan mengikuti Gandhi yang menenteng 2 tas milik mereka.
"Masuk" suruhnya setelah membuka pintu pondokan
"Ah..aku mau tidur" ucap Gandhi sambil menguap lebar dan menuju salah satu kamar setelah memastikan pintu terkunci lalu memasukkan anak kunci ke kantung celananya
"Hei.." protes Reyna
"Jaga-jaga kalau kau mau kabur" potong Gandhi cepat
Kabur?? yang benar saja, kabur naik kuda?? Mana ada taksi online lewat di jalan desa seperti ini
"Jauh-jauh membawaku kemari hanya untuk tidur" Reyna memilih duduk berselonjor disofa menyalakan televisi
"Aku tak bisa tidur setelah Pak Alex menghubungiku tadi malam. Katanya kau kabur karena bertengkar dengan Bimo" ucapnya kemudian menutup pintu kamar
Reyna terdiam, sungguh dia sangat beruntung memiliki Alex dan Gandhi yang menyayanginya. Tak ada salahnya menuruti keinginan dua pria itu sekarang.
Ponselnya berdering, panggilan video dari Alex
"'Mama..." nampak muka putranya di layar
"Hai sayang. Already home?"
"Opa bilang Mama sakit, Mama pergi ke dokter"
"Eh" Reyna menegakkan duduknya "Iya,, Pak Dokter bilang Mama harus istirahat beberapa hari"
__ADS_1
"Dewa kangen Mama"
"Mama juga, sudah ya Mama mau istirahat"
Tesss...air bening hangat mengalir ke pipinya beginilah luluhnya hati emak-emak jika bersapa dengan anaknya saat berjauhan
Kepalanya ia sandarkan ke ke sandaran sofa, sudah tak lagi pening. Pikirannya menerawang selagi melihat layar televisi, kira-kira apa yang diperbuat Bimo saat mengetahui dirinya pergi dirumah. Bingung? Marah? Atau justru senang karena bisa bebas bertemu perempuan ular
.
.
.
Deringan ponsel yang terdengar sayup sayup pada awalnya berubah menjadi nyaring memaksa dua bola mata mengerjab pelan dan bangun dari alam bawah sadarnya, Reyna membuka mata dan nampak layar televisi masih menyala didepannya
Satria? dahinya terlipat melihat nama pria dalam panggilan video di ponselnya
Dia geser tombol merah, malu jika Satria melihat mata sembabnya karena efek menangis semalam, waktu telah bergulir sore hari.
Hoah...Reyna menguap, bisa-bisanya dia tertidur nyenyak disofa berjam-jam lamanya
Lagi ponselnya berdering, kali ini panggilan telepon masih dari orang yang sama
"Ya Mas"
"Kamu dimana?"
"Mau balas dendam"
"Hah?"
"Kabur kemana kamu semalam. Hit and Run!"
Reyna sontak terduduk, matanya berkedip-kedip
"Heh bodoh!" Satria memekik gemas
"Hahahaha , maaf Mas aku benar-benar lupa" Reyna terbahak menyadari kebodohannya
"Kamu dimana?"
"Nggak penting buat Mas aku dimana" Reyna beringsut turun dari sofa melangkah ke kulkas mengambil sebotol air mineral
""Pentinglah! Biar suamimu berhenti merecoki hidupku"
"Berulah apa lagi dia?"
"Kau pikir siapa yang mengurus ******* itu jika bukan aku!"
"Apa Mas bilang?" Reyna menempelkan ponselnya lebih dekat
__ADS_1
"Dasar Bimo brengsek! Dia yang berulah aku yang kena getah. Untung saja Niken mau mengerti"
"Jadi semalam??"
"Dia main tinggal saja itu perempuan dan pergi mengejarmu"
Reyna menggigit bibir bawahnya, jahatnya dia sempat berpikir suaminya akan memanfaatkan perempuan ular itu dalam kondisi mabuk
"Rey!"
"Iya?"
"Jawab kamu dimana?"
Menautkan alis,mencium ada bau-bau persengkokolan
"Hemm"
""Kelamaan kamu Sat!" Nah betul kan ada Bimo disana!
"Sayang kamu di....."
TUT
Ah! Reflek Reyna menutup panggilan itu meskipun jujur dalam hatinya ia penasaran apa yang terjadi malam itu. Sudahlah, benar kata Om Alex sesekali mengerjai suaminya yang ceroboh.
Kakinya melangkah menuju jendela belakang yang, hamparan sawah hijau terbentang dihiasa temaram cahaya mentari sore. Mengusiknya untuk membawa dirinya kesana.
"Rey" panggilan Gandhi dari jendela
"Sini Mas" tangannya melambai
Pria kekar dengan rambut ikal rapi diikat kebelakang berjalan di pematang sawah, menyusulnya naik dan duduk di batu besar
"Sudah dikunci tetap saja bisa kabur" Gandhi mengacak rambutnya
"Entenglah kalau cuma lompat dari jendela" Reyna terkikik
"He em, tadi siapa yang telepon? Bimo?" tanyanya curiga
"Mas Gandhi curi dengar!" liriknya sinis
"Ketawamu buat aku bangun" sungutnya
"Mas Satria"
"Ada masalah?"
"Biasalah, sekongkol dengan suami aku"
__ADS_1
Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!