Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
156. Pergi (3)


__ADS_3

Waktu tidur siang panjang membuat mereka susah memejamkan mata malam harinya, jadilah keduanya berjalan santai menghabiskan malam, terdampar di angkringan yang diramaikan pengunjung home stay lainnya.


"Rey, kau tak berpikir Pak Alex dan aku terlalu mengintervensi pernikahanmu kan?"


"Ehmmm" Reyna menuntaskan mengunyah makanannya


“Aneh!”gumamnya


“Siapa yang kau bilang aneh?” Gandhi menengok kanan kiri


“Mas Gandhi, dengan siapa lagi aku bicara disini” Reyna memutar bola matanya jengah


“Aku? Aneh? Kenapa?”


“Kenapa tak kau pukul saja suamiku jika itu membuat Mas lebih puas daripada repot-repot menculikku jauh-jauh kemari?” racaunya pelan


“Haha..menculik? Begitu kejamnya kau mengataiku"


"Setelah aku pikir-pikir ada benarnya juga sesekali memberi pelajaran ke suami aku yang ceroboh"


“Reyna, ayolah bukan itu tujuanku membawamu ke pelosok antah berantah. Mas ingin membuatmu berpikir jernih, emosi hanya membuat masalahmu dengan Bimo makin rumit”


“Aku tidak emosi, aku biasa saja. Lihat!” Reyna membelalakkan matanya yang masih terlihat sembab


"Aku juga sedang menenangkan diri”


“Mas Gandhi juga punya masalah?” mata Reyna melirik


“Aku berusaha menahan diriku agar tidak membabi buta saat bertemu suamimu nanti” selorohnya santai sambil berdiri mengambil sebungkus nasi lagi


“Mas, ayolah. Aku  hanya becanda, sudah cukup Kak Bimo dipukul Om Alex”Reyna bergelayut manja merayu


“Tidak! Camkan kata-kataku dulu. Akan kukejar ke lubang semut sampai dia melukaimu”.


“Kenapa tak ada yang percaya padanya?”


“Kamu sendiri?”


“Bahkan aku sendiri belum dengar penjelasannya”


“Apa kau akan percaya jika dia jelaskan?”


“Tidak” Reyna menggeleng


“Bodoh apa yang kau pelihara?” Gandhi memandangnya heran


“Entah" Reyna mengedikkan bahu "Pelihara cinta mungkin" dia terkekeh


“Suamimu sudah coba jelaskan ke Pak Alex”


“Oh ya, apa katanya?” tanpa sadar Reyna mencondongkan tubuhnya


“Katanya dia hanya menolong dan memastikan tidak ada yang memanfaatkan wanita itu dalam


kondisi mabuk berat. Sebatas itu selebihnya Satria yang ambil alih”


“JIka Mas ada di posisi Kak Bimo apakah juga berbuat hal yang sama?"


"Entahlah"

__ADS_1


"Jika perempuan itu mantan istri Mas misal"


"Uhukkkk....!" Gandhi tersedak


"Eh maaf maaf!" Reyna memukul-mukul punggung Gandhi pelan


"Iya..mungkin saja"


"Kenapa?"


"Sebatas peduli mungkin"


"Hanya itu?"


Gandhi menggangguk, hah ternyata sesimpel itu kaum pria berpikir dan serumit ini kaum wanita mengira.


Puas mengicip semua makanan di angkringan, keduanya pulang kembai ke home stay. Berjalan beriringan bercanda dan tertawa sambil membicarakan masa kecil mereka.


Gandhi merengkuh bahu Reyna erat


"Reyna, berjanjilah ini terakhir kalinya kalian bertengkar konyol seperti ini. Kadang kaum lelaki memang suka seenaknya sendiri, kamu harus belajar memahami dan menerima"


"Mas Gandhi belain Kak Bimo nih" Reyna mencebikkan bibir


"Bukan membela, sudahlah Mas yakin Bimo tak mungkin berbuat aneh-aneh dibelakangmu"


"Alasannya?"


"Empat tahun dia masih berharap bertemu denganmu, sudah cukup jelas bukan kau adalah seseorang yang berarti untuknya, lebih-lebih ada Dewa"


Reyna melangkah lebih lebar menyamai langkah Gandhi


"Mas Gandhi sok sok jadi penasihat"


"Mas bicara begini karena tak ingin kamu mengalami kegagalan yang Mas alami" Gandhi menepuk nepuk punggung Reyna


"Berumah tangga itu sulit Rey. Jika boleh waktu berputar kembali, Mas ingin memperbaiki semua. Mengesampingkan ego sesaat untuk kebahagiaan" Gandhi tersenyum penuh arti


.


.


.


rumah Alex


“Om, ayolah! Bimo yakin Om tahu kan dimana Reyna" Bimo berdiri menahan ujung meja kerja sambil memohon


Alex yang duduk manis melipat tangan melirik jam dinding lalu tertawa mengejek


"Lihatlah, baru 12jam istrimu pergi kau sudah kebakaran jenggot" Alex berdiri


"Setidaknya lakukan ini untuk Dewa, kasihan dia menanyakan dimana Mamanya” Bimo mengekori Alex kemanapun pria itu melangkah


“Alasan! Dewa baik-baik saja dengan Om seharian ini" Alex berbalik berkacak pinggang


“Om boleh hukum aku apa saja, jangan pisahkan aku dengan Reyna! Katakan dimana istriku sekarang”


“Harusnya kau pakai otakmu itu sebelum berbuat Bimo! Kau tahu sendiri Om tak pernah main-main dengan apa yang Om ucapkan”

__ADS_1


“Pikirkan perasaan Reyna, dia pasti tersiksa berjauhan dengan suami dan anaknya” pinta Bimo memelas


“Omong kosong! Tunggulah sampai istrimu itu siap untuk pulang ke rumah”


“Tapi kapan?”


“Mana Om tahu. Pikir saja sendiri”


"Om.. semalam Reyna demam. Bimo khawatir dia kenapa-kenapa!"


"Istrimu sudah sehat waktu pamit tadi. Pergilah, dinginkan isi kepalamu


Brakk...Bimo mendorong meja sudut hingga terjungkal dan isinya berhamburan


"Calm down Bimo!" pekik Alex histeris


"I’m totally calm down now!" Bimo menendang angin lalu pergi berlalu


---


Mondar mandir di kamar tidurnya, guyuran air dingin tidak bisa meredam kepalanya yang panas. Ayo Bimo berpikirlah kira-kira dimana istrimu berada


Ah! Mbak May, pasti Reyna pergi kesana


"Ya Bim..." suara kantuk terdengar diujung sana


"Eh Mbak, maaf telepon malam-malam begini. Apakah Reyna ada dirumah Mbak May?"


"Eh, Rey? Tidak? Memang kenapa Bim?"


"Eh, enggak Mbak. Nggak apa-apa. Reyna belum pulang dari tadi siang. Bimo cuma khawatir. Ya sudah Mbak"


"K**alian bertengkar??"


"Ehm.. iya"


"Mbak yakin Reyna nggak akan pergi jauh kok. Anak itu cuma tahan ngambek sehari dua hari"


"Hemm.. ya Mbak"


"Sudah telepon Mas Gandhi?"


Apa!!!??? Cari mati aku kalau sampe Mas Gandhi tahu!! Mendengar namanya saja sudah membuat bergidik ngeri


"Eh.. iya Mbak, nanti Bimo telepon. Bimo coba hubungi teman-temannya dulu saja. Makasih Mbak"


Bimo menjatuhkan badannya ke ranjang, melempar bantal guling ke segala arah. Menelungkup sambil menarik-narik rambutnya


Bianca?? Ah tidak, tidak mungkin Reyna pergi sejauh itu.Tapi apa salahnya mencoba menghubunginya


Sekian lama nada sambung berbunyi tak juga di angkat oleh karib istrinya


Lelah menderanya seharian ini, apartement sudah ia sambangi tetap saja tak ada tanda-tanda kehadiran istrinya disana. Nomor Satria bahkan Niken sukses diblokir


Pusing benar memikirkan istrinya, menatap ruang kosong di ranjangnya. Tanpa sadar memukuli kepalanya hingga dirasa dengung ditelinganya.


Bodoh! Bodoh! Bodoh!


Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!

__ADS_1


__ADS_2