
#Pantang menyerah
Satu notifikasi email masuk terlihat disudut layar laptopnya. Mata Pras memicing malas, kesibukan pekerjaan benar-benar menyita waktunya untuk sekedar membuka inbox.
Selang 15 menit kemudian Radit karibnya menelepon
"Ya Dit?"
"Ikut?"
"Ikut apa?"
"Baca email Bro!"
"Ehmm... sebentar.. " tangan Pras malas mengarahkan mouse membuka kotak inbox yang hampir sebagian besar berisi notifikasi tidak penting
"Reuni?" alisnya bertemu ditengah
"Ehm..ya. Join?"
"Enggak"
"Yakin?"
"Iya"
"Okay fix!"
Ponsel itu ia putar-putar, andai saja Reyna datang di reuni kali ini pasti ia akan datang. Reyna tak menghadiri reuni tahap pertama, waktu itu ia dengar karena sibuk menggantikan posisi Bianca yang tengah cuti hamil.
Tak satupun teman yang mengetahui nomor Reyna yang terbaru, hanya Bianca seorang yang memiliki akses keberadaan Reyna
Pras tidak tertarik untuk mengetahui keberadaan Reyna, bagaimanapun dia harus menghormati keputusan Reyna yang saat ini telah menikah dan berputra. Yang ia inginkan hanyalah bertemu dan mengungkapkan isi hatinya, apapun resikonya!
Wajah cantik Reyna dengan rambut gelombang indah membayang lekat dipelupuk matanya. 6 tahun sudah memimpikan bertemu dengan wanita yang dirindunya.
6 tahun sudah ia mencoba untuk bangkit mencari sekeping hati mengisi kekosongan. Namun belum ia temukan wanita sesempurna Reyna. Wanita cantik, pintar, mandiri dan tegas.
Sepasang matanya kembali menelisik melihat daftar nama-nama panitia di brosur reuni dan memutuskan menghubungi salah satu yang ia kenal cukup baik
"Halo?"
"Ehm, halo. Dengan Leah?"
"Iya benar. Siapa ini?"
"Ini Pras, aku baru saja dapat email soal reuni"
"Oh hai Pras, apa kabar?"
"Baik, bisa bantu daftarkan aku walaupun sebenarnya aku tidak yakin bisa datan. Atau begini saja aku tetap transfer untuk donasi tapi tak perlu cantumkan namaku di daftar hadir"
"Oh okay no problem"
"Ehm, aku boleh tahu berapa orang yang sudah mendaftar?"
"Baru sedikit"
"Boleh tahu daftarnya?"
"Kamu mau tahu ya Reyna datang atau tidak ya?" wanita di ujung sana tertawa
"Hemm ya begitulah. Bisa bantu?"
"Ehm, aku kabari sehari sebelum reuni ya"
"Okay, aku tunggu kabar baiknya"
...
Tak sabar rasanya mengakhiri pekerjaannya hari ini, malam dimana reuni akan diadakan dan Reyna terdaftar sebagai salah satu alumnus yang akan hadir.
Beberapa pesan dari Radit ia balas santai, mengatakan ia tak akan hadir. Biarlah semua menjadi kejutan. Kuda besi itu ia lajukan dengan semangat menuju kota dimana ia menimba ilmu dengan wanita pujaannya
Memastikan pada Aprilia bahwa Reyna telah hadir lebih dahulu. Ia simpan nomor ponsel Reyna yang tertera di buku tamu dan selanjutnya melenggang masuk. Tak perlu susah payah mencari, salah satu meja dengan tawa riuh membahana dan disanalah matanya terpaku melihat Reyna
"Hai"
Sapaannya mengejutkan siapapun yang sedang berkerumun di meja persegi itu. Mata Radit dan Bianca membelalak terkaget melihat kedatangannya
Akhirnya ia diijinkan melihat lagi sepasang mata indah yang senantiasa meneduhkan hati.Degub jantungnya masih sama, hanya saja sangat tak pantas ia menatap wanita yang berstatuskan istri orang.
Hei! sadarlah Pras bahkan wanita itu memalingkan mata karena tatapanmu
"Hai Rey, lama tak jumpa" sapanya berbasa basi
"Sibuk apa sekarang?" mencondongkan badan meminta perhatian sesaat dari wanita yang terduduk kaku didepannya
"Sibuk ngabisin uang suaminya" cetus Bianca sengit
"Oh ya ya, aku lupa kamu sudah menikah" tawa itu pasti terlihat sangat dipaksakan keluar dari mulut Pras dan pasti terlihat konyol dimata teman-temannya saat itu
Sepanjang acara Pras lebih memilih banyak diam, berharap bisa mencuri sedikit waktu saja untuk bisa berbincang akrab dengan Reyna. Tapi Bianca senantiasa mengekori kemanapun wanita itu pergi.
Langkahnyapun terayun ke lobi mengekori Reyna yang tergesa menuju kesana
"Mau Pulang?" suara serak khas Pras terdengar ditelinga Reyna
"Oh, nunggu suami aku, mau ikut masuk antar aku pamit sama anak-anak. Kamu mau pulang?"
"Ehm, masih nanti"
"Ya sudah masuk saja dulu"
Pras hanya mengangguk dan berlalu, sungguh bukan waktu yang tepat untuk membicarakan romansa masa lalu terlebih saat ini jantungnya harus teremas sakit ketika tahu bahwa wanita itu sedang menunggu sang suami
Pras hanya bisa menatap punggung pria yang di akui sebagai suami Reyna. Rivalnya??? Tentu bukan, dia tak pantas untuk ditarungkan dengan pria yang sudah jelas berstatuskan suami Reyna
Pria yang tak lepas memeluk pinggangnya, mengukuhkan kepemilikan atas wanita nan sempurna dimatanya. Ciuman mesra pun tak segan-segan ditunjukkan di depan umum, sudah jelas mereka adalah pasangan serasi. Bahasa tubuh mereka lebih daripada pengikraran bahasa cinta dalam 20 jenis bahasa sekalipun.
Berhenti Pras! Sudah cukup mempermalukan dirimu sendiri! Dia jelas milik orang yang tak akan mungkin kau miliki!
Pulanglah!
Kau memang tak tahu malu! Foto bergambar dirimu memandanginyapun masih berani kau kirimkan ke nomornya. Semalaman menanti kiranya pesan itu berbalas meskipun singkat. Padahal wanita pujaanmu sedang berasik masyuk penuh gairah dengan suaminya.
Menyerahlah!
.
.
.
Takdir!
Tekadmu untuk melupakan Reyna seakan pupus selang sebulan dipertemukan kembali. Sorak sorai berdentang bagaikan gemuruh didada Pras saat sosok cantik itu kembali hadir. Cukup puas meskipun hanya bisa mencuri pandang setiap hari melalui bilik kaca
"Padahal kalian sudah lama menikah masih saja cemburu" Pras tertawa mengejek saat menyadari kecemburuan Bimo yang berlebihan
"Belum lama, aku baru menikah 6 bulan"
"Bukannya kamu menikah sejak dari lulus" Pras bertanya heran
"Memang" jawab Reyna enteng
"Lalu Dewa?"
__ADS_1
"Ya Dewa anakku, anak dari Kak Bimo"
"Nggak ngerti aku" Pras menggaruk kepalanya
"Makanya jangan jomblo kelamaan. Aku sampai nikah dua kali. Kamu sekali saja belum" Reyna tergelak "Pokoknya begitulah, it's so complicated"
"I want to know, if you would like to tell" bahu Pras mengedik
"Hemm ya, pernikahanku pertama karena keterpaksaan tapi aku tak menyesalinya. Karena pernikahan yang semestinya tak terjadi itu justru aku dipertemukan dengan Kak Bimo"
Reyna menarik napas panjang
"Bisa dibilang semua berawal dari kesalahan, entahlah tapi memang hal itu tak boleh terjadi terlebih aku adalah istri orang waktu itu"
Wanita itu menangkup wajahnya dengan dua tangan
"Ah aku malu sekali harus bercerita ini Pras!"
Wajah cantik itu kembali mendongak menatapnya
"Predikat wanita baik-baik menguap hanya karena terbelit nafsu..yah hingga Dewa hadir dirahimku. Maaf tapi kupikir kita sudah cukup dewasa untuk memahami"
"Reyna....!?" Pras menatapnya tak percaya
"Kau boleh manghakimiku dengan caramu. Tapi memang itulah yang terjadi"
"Jadi kau bercerai karena..... "
"Bukan! Aku bercerai karena memang kami harus bercerai. Mantan suamiku menghamili kekasihnya waktu itu"
Pras menggelengkan kepalanya "What kind of life you've been going trough!"
"But I did!" Reyna tertawa kecil
"Dan kau tahu... Aku bahkan hampir menikah dengan calon bapak sambung Dewa waktu itu tapi takdir berkata lain, takdir memang berkata jodohku adalah Kak Bimo"
"What happened with that guy?"
"He passed away"
Sepasang netra syahdu menatap jauh ke luar jendela di lantai 3 ruko Alex.
Sepenggal cerita dari bibir sensualnya seharusnya cukup bisa menampar Pras agar mengubur dalam-dalam perasaannya.
Setidaknya sudah ada dua pria yang telah memikat hati permaisurinya menandakan dirinya bukan siapa-siapa lagi dihidupnya.
Tapi nyatanya tidak, dia justru makin tenggelam dengan pesona Reyna dari hari ke hari. Dimabukkan oleh gelombang perasaan yang tak akan pernah berujung pada simpul tujuan.
#Meradang
Hiruk pikuk itu bisa Pras dengar jelas dari balik bilik kaca, nampak karyawan sedang berkumpul di area tengah lantai 2
"Mbak Rey, ya ampun mbak.. mbak kenapa" pekikan Sisil disertai langkah kaki berlari mendekat ke meja Reyna
Pras segera keluar dari ruang kerjanya, matanya seketika membelalak lebar saat melihat darah tercetak jelas di celana kerja Reyna, tangan perempuan itu memegang kencang area perutnya
Tak makan waktu lama untuk cukup memahami apa yang sedang dialami wanita beristri, ia menghalau cepat dikerumunan, menabrak tubuh Sisil yang berdiri kaku seakan bingung apa yang akan ia perbuat.
"Rey.. . " panggilnya sambil menggenggam lengannya "Tunggu sebentar, jangan bergerak. Kita ke rumah sakit sekarang"
Anak tangga ia naiki secepat-cepatnya, sekejab menuruni kembali tangga bagaikan terbang dengan selimut di tangan
"Sisil... sisil.. " teriakannya lantang ditelinga gadis yang masih saja terbelalak ketakutan melihat celana kerja yang berwarna krem kini menjadi merah darah
"Bawa ponsel dan tas Reyna lalu buka pintu mobil. Cepat!!! " perintahnya
Ia melilitkan selimut dari pinggang kebawah lalu mengangkat tubuh Reyna, menggendongnya sekuat tenaga menuruni tangga
"Maaf Rey, berpeganglah aku takut terjatuh"
Perempuan itu mengangguk dan memejamkan mata. Sungguh moment itu adalah moment terindah dalam hidupnya, berada didekat wanita pujaan. Menggendongnya ala bridal style, bayangan di sudut otak kotornya sempat terlintas.
Cinta telah-telah membuatkan mata hatinya, menutup jiwa kemanusiaan dan membangkitkan jiwa kehewanannya. Biadab!!
"Pras.. " bibirnya kelu itu memanggil namanya
"Ya, sebentar lagi.. " andai aku bisa membubuhkan panggilan sayang untukmu
Cemas melanda saat tubuh lemah itu dibawa ke ruang tindakan, ia ambil ponsel milik Reyna karena tak memiliki nomor Bimo untuk dihubungi
Foto kontak Bimo membuat sayu matanya, Reyna memajang foto saat dirinya dan suami sedang berpagutan bibir diatas jembatan yang menggantung indah bagai diatas awan
"Halo sayang.... " panggilan lembut nan mesra itu terdengar bagai genderang perang ditelinga Pras
"Ehem, maaf Mas Bimo ini Pras"
"Hei, apa yang kau lakukan dengan ponsel istriku!" bentakan kasar berbanding terbalik dengan sapaan diawal
"Maaf Mas, saya hanya ingin memberitahu Reyna dirumah sakit"
"Apa???!!!"
"Istri Mas dirumah sakit. Saya share lock lokasinya"
Berkali panggilan sayang nan mesra bahkan chat nakal layaknya suami istri menghiasi history chatmu saat jemariku mengirimkan lokasi rumah sakit.
Maaf Rey sekali lagi maaf aku terusik untuk membaca history chat dengan suamimu, entahlah hatiku meradang dan memanas dibakar cemburu. Rasa cemburu yang sungguh tak pantas karena kau memang miliknya
...
"Suamimu sudah kuhubungi, aku tunggu sampai dia datang" ucapku saat melihatmu duduk terbujur di ranjang dorong
"Bapak, bisa bantu untuk mengganti baju ibunya dengan ini" seorang suster menyodorkan baju rumah sakit ke tangannya
"Dia bukan suami saya sus" kata itu cepat meluncur dari bibirmu
Entah kenapa hatiku pilu mendengarnya. Ya kau benar bahkan aku bukan siapa siapamu!
"Mana istriku!?" suara Bimo terdengar menggelegar di lorong rumah sakit
Tangan kekar itu langsung meraup lengan baju Pras dan menghimpitnya ke pintu kamar
Gorden berwarna hijau itu terbuka lebar...
"Reyna.. Reyna.. apa yang terjadi" Bimo nampak mengguncangkan badan Reyna dan tangis wanita itu pecah seketika
"Maaf Kak.. Maaf aku tidak bisa menjaga calon anak kita"
Lama Pras berdiri di luar kamar, tak sanggup untuk melihat dua pasang manusia yang saling memeluk saling menguatkan satu sama lain. Kesedihan kehilangan sesuatu yang berharga yang pasti mereka "ciptakan" bahkan hampir disetiap malam
Langkah Pras gontai melangkah keluar dari rumah sakit, pekikan Alex masih terdengar jelas ditelinganya saat ia kabarkan kondisi Reyna. Kasih sayang seorang mertua jelas terdengar dari kecemasan pria paruh baya itu.
Tumpukan berkas di meja kerjanya berjatuhan berserakan terkena amukan tangannya. Kejadian demi kejadian hari ini benar-benar telah menyulut emosinya. Sungguh ia ingin marah tapi tak tahu harus bagaimana, ia marah dengan dirinya sendiri
Masih terbayang raut wajah Reyna yang pias menahan sakit, hatinya sakit terasa diremas
Masih terbayang foto mesra yang terpampang di ponsel Reyna dengan sederat chat nakal, hatinya panas terbakar cemburu
Masih terbayang pelukan dan tangisan dua insan yang saling menguatkan di bilik rumah sakit, hatinya pilu bagai disayat sembilu
Masih terngiang bentakan Alex ditelinganya, usaha Pras merayu Alex agar tetap mengijinkan Reyna bekerja hingga sebulan kedepan justru menyulut kemarahan pria itu
"Apa kau bodoh!" pekik Alex
Bodoh! Ya memang dia benar-benar manusia bodoh!
"Aku mau tahu sebesar apa usahamu untuk membujuk kandidat pengganti Reyna untuk segera bergabung"
__ADS_1
"Tak peduli berapa uang kuhabiskan untuk membayar ganti rugi gajinya di perusahaan sebelumnya!"
#Yang Kusuka Yang Ku Tak Suka
"Pras... " panggilan lantang yang keluar dari bibir Reyna bagaikan melodi indah yang terdengar di telinga Pras
Kedatangan Reyna siang ini, pertama kali setelah lama tak bersua dan sejak kejadian isi bilik kaca sukses porak poranda sebagai luapan emosi Pras
Dua bekal makanan yang di bawanya berhasil menyunggingkan senyum dibibir Pras. Pria itu menerka pasti ini hari keberuntungannya bisa merasakan masakan wanita pujaan, ditemani makan pula
Pras bagaikan dihembaskan ke bumi setelah terbang ke awan tinggi saat Reyna berucap bekal itu seharusnya milik suaminya. Bahkan mulut kotornya sampai harus mengumpat Bimo dengan sebutan Si Bodoh!
#Truth Or Dare
Wajah Pras hampir bersemu merah bagaikan ABG yang baru menginjak usia belasan ketika mengatakan kata "Suka Kamu" kepada Reyna. Jika boleh Pras memutar waktu pasti dia akan mengatakan "Aku Mencintaimu" atau "Aku Bernafsu Denganmu" dan sejenisnya
Hati Pras cukup terasa teduh saat Reyna mengetahui satu lapisan saja dari kejujurannya. Tak cukup punya nyali untuk mengutarakan lapisan-lapisan lain yang lebih dalam
Hati pria itu mencelos sakit saat wanita itu hanya menjawab masa romansa mereka hanya sebatas Cinta Monyet dengan mengibaskan tangan
.
.
.
❤ POV Prasetyo ❤
KAU PIKIR AKU MENYERAH?? JAWABANNYA TIDAK!!! JUSTRU AKU MAKIN TEROBSESI DENGANMU
Hingga peristiwa malam itu yang menjadi momentum melepaskanmu dari hidupku...
Wajah sendu yang basah terkena percikan air hujan, mata dan hidung berair tertangkap jelas oleh Pras saat Reyna melewati rolling door ruko
Bagaikan anak kucing yang kehilangan sosok induk, tubuh yang hanya terbalut kaos rumahan tipis itu menggigil kedinginan
Bimo menyakitimu??
Tubuhmu??
Hatimu??
Aku benci melihatmu dibuat menangis! Sumbu emosiku kian tersulut saat bibir indahmu itu masih saja bungkam tak mau bicara kejelekan suamimu
"Kau pikir pria hanya memandang sebatas kecantikan dan bentuk tubuh?" tanyaku lembut
Ingin sekali rasanya aku memelukmu waktu itu, merengkuh erat pundakmu yang terguncang karena tangis. Membelai rambut indahmu yang sedikit basah dan memberikan kesan berbeda.
"Barangkali suamimu hanya mau menolong"
Hah! Mungkin kali ini malaikat baik sedang lewat dan berbisik ditelingaku. Harusnya aku bilang sudah pasti suamimu main api dengan perempuan ular itu.
Sungguh Rey, aku tak sampai hati jika harus membuatmu menangis lagi. Aku ingin kau bahagia meski aku tak bahagia
Hujan masih saja turun dengan lebat diluar sana, terperangkap satu ruang denganmu cukup menyiksa imanku. Pikiran kotorku mulai melayang membayangkan membawa tubuhmu ke tengah ranjang lalu berbagi peluh hangat disana.
"Tunggulah sampai hujan reda. Lalu pulanglah dan selesaikan, jangan memperburuk keadaan dengan menemuiku kemari"
Lagi! Malaikat baik berbisik kata-kata bijak ditelingaku. Tak kusangka justru setanlah yang sedang mengganggu mulutmu
"Biar suamiku tahu rasanya jika istrinya bertemu pria lain"
OH! Jadi itu tujuanmu datang kemari, kenapa kau tak bilang dari tadi. Dengan suka rela aku akan membalaskan sakit hatimu itu!
Kupegang dua lenganmu, kudorong dan kukunci di tembok. Kumiringkan wajah mengikis jarak bibirmu dan bibirku. Kupejamkan mata, bayangan ciuman penuh gairah menari-nari dipelupuk mataku.
Bibirmu manis, aroma parfum yang berlomba dengan aroma tubuhmu menyeruak ke lubang hidungku dan menelisik sisi kelaki-lakianku dibawah sana
Why am I a solo player?!
Am I a good kisser?? I don't think so!!
I'd never even had a kiss with the one I love before
Bibirmu sama sekali tak bergerak bahkan ketika aku menggigit bibir bawahmu memaksamu membuka mulut untuk memainkan lidahku lebih dalam
Mataku terbuka dan bertatap dengan dua pasang matamu yang membuka lebar karena keterkejutan
"Gila kamu Pras" teriakanmu berdengung ditelingaku
Serentetan perkataan, pengakuan dan semua kejujuran terungkap malam itu!
Bahkan aku mentertawakan diriku sendiri karena terjebak perasaan dengan istri orang
Aku bisa lakukan semua ini tanpa kau minta, Memegangmu
Membelaimu
Menciummu
Bahkan lebih dari itu...
It was about madness
It was all my choice
and I don't regret a single moment of it AT ALL!
because you worth to fighting for
...
Nampaknya kesalahan beberapa detik selama masa kita saling mengenal harus dibayar cukup mahal
Kau menghindariku Reyna sama sekali tak memberiku kesempatan untuk bicara kata MAAF yang mungkin memang tak pantas lagi kuucap
7 bulan sudah dan kau cukup memberiku ruang dan waktu untuk berpikir, mengembalikan otak warasku yang bertahun-tahun mencandu dibawah bayang-bayang istri orang
Mulai terbiasa tak melihat wajah cantikmu
Mulai terbiasa tak mendengar candamu
Mulai terbiasa tak melihat molek tubuhmu
...
Tak henti aku menatap perut buncitmu yang indah, dress selutut yang kau kenakan tertarik naik dan memperlihatkan sedikit dari bagian kulit tubuh mulusmu dibawah paha
Tak ada lagi nafsu yang menggelitik, bukan karena perubahan tubuh karena kehamilanmu. Mungkin karena aku telah lelah berperang dengan ketidakwarasananku selama ini
Wajahmu berlipat kali bertambah cantik menggemaskan, hidungmu lucu mengembang khas ibu-ibu hamil dan bibir sensualmu makin tebal bagaikan stamp CV milik Pak Alex
Hampir saja aku ingin tertawa terbahak tapi kutahan hingga perutku sakit. Kata orang ibu hamil adalah gudangnya swing mood. Salah ketuk sedikit saja bisa kena bogem mentah-mentah
Entah kenapa aku sangat bahagia bertemu lagi denganmu setelah sekian lama, lebih dan teramat bahagia karena kata MAAF tulus dari hati yang meluncur dari bibirku
Hei Reyna!
Pantulan wajah pias malu-malumu itu terlihat jelas dikaca spion saat pengamen menyanyikan lagu kenangan kita. Aku hapal sekali kebiasaanmu jika sedang mengelak. Mata indahmu itu selalu kau lempar ke lain arah dan tak berani menatap lawan bicaramu
Come on! I'm just kidding and move on completely
Kau pasti juga terbahak jika menjadi diriku saat melihat wajah suami pencemburumu itu sengaja kugoda
Siapa juga yang akan melarikan istri orang yang sedang hamil besar. Yang ada malah encok. Iya kan?
Reyna, kenanglah aku dalam hatimu meskipun hanya menjadi kepingan kecil.
__ADS_1
Sebagaimana aku menjadikan dirimu kepingan kecil yang menyempurnakan hatiku ❤
Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!