
Dua bulan berselang dan Reyna masih menjalani kesehariannya sebagai ibu rumah tangga. Berusaha menyibukkan diri ditengah kejenuhan yang melanda, dua orang assisten dirumah benar-benar tidak memberinya kesempatan untuk sekedar melakukan pekerjaan rumah.
Siang ini, Reyna melajukan mobilnya untuk menemani suaminya makan siang di salah satu resto dekat dengan area perkantoran.
Lambaian tangan Bimo mempercepat langkahnya menuju meja di pojok bangunan resto
"Sudah aku pesankan biar nggak nunggu lama" ucap Bimo sesaat setelah Reyna duduk didepannya
"Masih sama ya Kak" Reyna mengedarkan pandangannya ke area resto "Berapa kali kan kita sempet makan siang disini waktu itu"
"Hu um, bedanya sekarang kamu sudah jadi istri aku"
---
"Habis ini mau kemana Rey?" tanya Bimo disela-sela menyantap makanannya
"Mampir ke supermarket trus pulang"
"Nggak jalan sama Niken lagi?"
"Mbak Niken lagi kerja" ahh ya cuma hang out dengan Niken jadi salah satu hiburannya
"Emang nggak ada ya Ibu-ibu lain di sekolah yang cocok sama kamu"
"Ya ada sih, tapi selepas sekolah mereka kan juga harus pulang urus anak urus rumah. Rata-rata nggak ada assisten dirumah. Beda sama aku, assisten aja 2 orang, bisa pegang sapu sama jemur baju saja sudah syukur" Reyna mengerucutkan bibirnya.
drtttt drtttt
Reyna melirik ke ponsel yang bergetar di dekatnya, satu pesan masuk dari Bianca. Nampak scan foto undangan reuni alumni mahasiswa angkatannya.
Tak berselang lama masuk panggilan dari Bianca
"Halo Bi... "
"Hai Rey... kirain lagi napping" gelak tawa diujung sana
"Ehmm.. enggak"
"Join yak! Reuni 3 tahun lalu kita kan nggak bisa ikut. Waktu itu aku masih S2, kamu sendiri sibuk urus Dewa waktu bayi"
"Aku pikir-pikir dulu"
"Come On!" Bianca memekik
"Ntar deh aku telepon balik. Aku lagi nemenin Kak Bimo makan siang"
"Oh.. okay"
---
"Bianca?" tanya Bimo
"Iya"
"Pikir-pikir apa?" Bimo melirik curiga
"Emm..urusan cewek"
Reyna mencoba mengalihkan perhatian Bimo, ragu pria itu akan begitu saja meloloskan permintaannya.
.
.
.
Petang hari selepas bersepeda Reyna melirik jam dinding, masih cukup waktu sebelum Bimo pulang. Ia masuk ke kamar dan menghubungi Bianca yang diyakini sudah pulang dari tempat kerjanya.
"Ya Rey.. gimana ikut kan. Aku daftarin" cecar Bianca begitu menerima panggilannya
"Aku bicara Kak Bimo dulu ya"
"Kenapa?"
"Ah.. gimana ya, aku bingung mau cerita dari mana"
"Ada apa? Cerita gih aku dengerin. Anak aku lagi sama pengasuhnya kok"
"Kak Bimo jadi cemburuan gitu sejak menikah. Jadi posesif gitulah"
"Loh, seneng dong artinya dia sayang sama kamu. Suami aku malah dingin-dingin gitu nggak ada gereget"
"Ya.. tapi jujur aku jadi risih. Bayangin aja jogging keliling kompleks aja nggak boleh"
"Alasannya?"
"Katanya ntar banyak mata yang menelanjangi. Hah aneh kan itu"
Gelak tawa terdengar di ujung sana
"Jadi burung di sangkar emas ceritanya.. " cetus Bianca
"Gitulah.. Kemarin pas aku minta ikut kelas Muay Thai sama group ibu-ibu kompleks juga nggak boleh alasannya instrukturnya cowok nanti dipegang-pegang. Parahhhh! " napas Reyna tersengal jengkel
"Trus menurut kamu kenapa juga Kak Bimo nggak bakal ijinin kamu ikutan reuni" tanya Bianca
"Hello... Bi... kamu lupa. Geng Somplak kita kan ceweknya cuma kamu sama aku sisanya cowok semua. Nggak kebayang deh kalau Kak Bimo tahu"
"Ya nggak usah kasih tahulah. Malamnya kamu menginap saja di rumah Mbak May. Beres kan"
"Ish.. taruhan deh Kak Bimo pasti nyusulin kita-kita"
"Oh ya.. Emm kamu bujuk dulu deh. Usaha apa gitu Rey. Striptis depan dia gitu, apa sajalah kaya kamu nggak tahu kelemahan kaum adam"
Deg
Reyna teringat dengan ucapan Om Alex
"Ehmm.. iya deh aku coba" Reyna menjawab ragu
"Yakin kamu mau striptis depan Kak Bimo" pekik Bianca
"Ya nggaklah.. ah dasar kamu ini omesh" gerutu Reyna
"Hahaha, ya udah deh good luck. Dua hari lagi aku tunggu deh, batas akhir pendaftaran soalnya. Bye! "
__ADS_1
Reyna menggigit bibir bawahnya, kesempatannya malam ini dan besok malam.
.
.
.
"Mama... " panggil Dewa disaat makan malam
"Iya sayang"
"Nanti malam Dewa mau tidur sama Mama sama Ayah"
"Eh kenapa?" gawat gawat bisa gagal nih nguyel-nguyel Kak Bimo. Ia lirik suaminya, lelaki itu justru terlihat biasa saja, mungkin service terakhirnya cukup untuk stock 2 hari.
"Kan sudah lama Dewa nggak bobo sama Mama sama Ayah"
Reyna memutar otak mencari jawaban yang bisa dimengerti anak kecilnya.
"Nggak apa-apa Rey" Bimo menengahi
Arghhh sial sial sial!!!
.
.
.
Pagi harinya....
"Kak Bimo pulang jam berapa nanti?" tanya Reyna sambil merapikan dasi suaminya
"Ehm belum tahu, ada meeting dengan direksi nanti. Biasalah mau akhir tahun banyak kerjaan kejar target"
"Oh"
"Kenapa?"
"Ehm, nggak apa-apa. Kalau bisa jangan pulang malam ya"
"Mau pergi?"
"Enggak, kangen aja" ayo Kak.. ini sudah aku kasih sinyal lho
"Ya.. nanti aku usahakan ya nggak pulang terlalu malam"
"Thank you" Reyna mengecup pipi Bimo
Bimo done! Tinggal urus bocil biar nggak ganggu nanti malam.
.
.
.
Petang menjelang, Reyna baru saja pulang dari arena permainan. Sore tadi Bimo mengabarkan makan malam diluar. Sejauh ini masih berjalan rencana, Dewa yang kelelelahan tertidur awal setelah jam makan malam.
Saat ini Reyna sedang mengaduk-aduk isi lemari memilih baju yang berukuran paling minimalis dan terkesan kekurangan bahan. Ah sial semua bajunya masih dalam standar kesopanan, mana bisa bikin suaminya melek.
"Ya Rey"
"Kok nggak pulang-pulang"
"Iya sebentar lagi"
"Pulang sekarang, lanjutin besok Kak"
"Iya Iya.. aku pulang sekarang" Bimo menyerah
YES!
---
Reyna hanya mondar mandir di kamar menunggu Bimo datang, mematut matut dirinya didepan cermin. Bingung antara menggerai atau mengikat rambutnya, menyemprotkan parfum tipis-tipis ketitik titik tertentu.
ceklek
"Eh... suamiku sudah pulang" Reyna menengok ke belakang, melirik tangan Bimo yang menenteng tas kerja. Biasanya pria itu meletakkan tas lebih dahulu ke ruang kerja.
"Mau minum?" tawarnya sambil melepas kancing kemeja
"Sudah tadi dibawah. Tumben Dewa sudah tidur"
"Iya, capek tadi aku bawa dia main ke playland"
.
.
.
Reyna menelungkupkan badannya ke ranjang, memindah-mindah saluran televisi sambil berharap pintu kamar mandi segera terbuka.
ceklek
Bimo berjalan menuju sisi ranjang memakai boxer dan kaos yang sudah disiapkan Reyna. Berjalan memutar dan mengambil tas kerjanya di kursi malas. Menenteng laptop dan naik ke atas ranjang.
"Kak Bimo lanjut kerja?" tanya Reyna cemas
"Hemm, iya sebentar. Cuma review beberapa hal saja" mulai memasang kaca mata baca dan membuka layar laptop.
Tik Tok Tik Tok, setengah jam berlalu dan Bimo masih belum juga selesai.
Ihhh gemas!!!! Reyna turun dari ranjang, melepas hot pants jeans, melihat Bimo dari pantulan cermin, pria itu meliriknya dengan ekor matanya.
"Kok dilepas?" Bimo bertanya santai
Isshh.. nggak peka banget sih!
Reyna mematikan lampu utama lalu merangkak naik ke ranjang dengan gerakan sesensual mungkin "Gerah, Kak Bimo nggak gerah?" Tangannya meraih kaos Bimo dan menarik keatas melalui kepalanya
"Ehmm.. " Bimo menurut saja tapi masih menatap layar laptopnya
__ADS_1
"Kak..Mau aku pijat?" Reyna duduk diatas paha Bimo hingga pria itu mengangkat laptopnya
"Boleh"
"Berhenti dulu kerjanya" Reyna melepas kaca mata baca Bimo, menutup layar laptop dan meletakkannya ke nakas.
Bimo bersiap membalikkan badannya
"Eh... " Reyna menahan badan suaminya
"Kenapa?" Bimo menatap heran
"Gini aja"
"Hah, katanya pijat"
Reyna mengulurkan tangannya kebawah menyentuh rumah Si Ontong
"Pijat enak" Reyna berusaha menyunggingkan senyum genit, ish padahal ia yakin mukanya saat ini pasti tengah merah padam menahan malu
"Ohh... " kali ini Bimo baru tersadar "Istriku mulai nakal ya"
Bimo mulai mengaduh, mendesis, memejam saat Reyna mengeksplore pusakanya. Matanya membelalak tak berkedip saat Reyna kembali naik ke tubuhnya. Tangannya terulur meraih tubuh Reyna, angannya segera ingin menindih perempuan itu dan membuatnya menggeram nikmat dibawahnya.
"Eittt.. " Reyna menarik dua tangannya "Kak Bimo kan capek, biar Rey saja" dihentakkannya dada Bimo hingga telentang diatas ranjang. Memulai aktivitas untuk memuaskan pria yang sedang menatapnya penuh nafsu.
Bimo benar-benar dibuat kebat kebit oleh serangan Reyna "Buka bajumu Rey" Bimo meraih kasar singlet hitam dan menarik keatas
"Tunggu! ada syaratnya" Reyna menahan tangan Bimo dan memajukan wajahnya
"Ya ya, apa syaratnya?"
"Kak Bimo harus meluluskan satu permintaan aku"
"Iya iya, apa saja boleh" menarik lagi singlet itu paksa
"Janji ya!"
"Iya janji janji.. ashhhh"
Reyna tersenyum menang lalu melepas singlet dan membiarkan Bimo melakukan apa saja, terserah... silahkan tuan raja!
.
.
.
Reyna menunggu Bimo keluar dari kamar mandi membersihkan tubuh setelah pergumulan bersyarat.
"Mau tidur?" Bimo mencium ujung kepala Reyna, mengambil laptop dan memakai kaca mata
Reyna menggeleng "Nanti.. nunggu Kak Bimo" melorot menjatuhkan kepalanya ke bantal dan menarik selimut hingga ke dada. Melingkarkan lengannya ke perut Bimo
"Nggak perlu, tidurlah dulu"
Reyna menarik napas panjang dan menghembuskan pelan "Nunggu Kak Bimo mengabulkan permintaanku"
"Oh ya, memang kamu mau apa Rey? Barang apa yang tidak bisa kamu beli sendiri?"
"Bukan barang Kak"
"Trus?"
"Aku mau ikut reuni kampus"
Bimo menaruh lagi laptopnya ke nakas, merasa terjebak karena ia telah terlanjur berjanji
"Sama Bianca kan?"
"Iya" Reyna menggigit bibirnya, cemas melihat perubahan air muka Bimo
"Ehmm... mantan kamu datang tidak?"
"Aku nggak punya mantan waktu kuliah"
"Ah bohong!"
"Beneran Kak, dulu aku kuliah itu dapat beasiswa dan syaratnya nilai aku harus bagus terus. Nggak kepikiran punya pacar"
"Kalau yang suka sama kamu pasti banyak"
"Tauk!"
"Nah bener kan, banyak pasti" Bimo ngotot
"Emang aku bisa larang orang suka aku, aneh!" Reyna merengut sebal
"Ngapain sih datang ke reuni"
"Diajak Bianca Kak"
"Ketemu Bianca kan bisa kapan saja, aku antar kalau perlu"
Reyna bangun dan membanting bantalnya "Tuh kan, tadi sudah janji boleh minta apa saja. Teman aku kan nggak cuma Bianca"
"Iya iya....ya sudah boleh... " Bimo mengalah
Reyna buru-buru memeluk dan menghujani Bimo dengan ciuman "Makasih Kak"
Kembali duduk bersimpuh diranjang "Nanti Reyna menginap di rumah Mbak May ya"
"Kenapa harus menginap, aku antar saja"
Tuh kan bener... kaya bodyguard kemana aja ikut
"Acaranya habis makan siang, bisa jadi sampai petang. Kemalaman kalau pulang"
"Nggak masalah, memang kapan acaranya?"
"Sabtu, tiga minggu lagi"
Bimo mengambil ponselnya membuka menu kalender lalu mendesah
"Kamu berangkat diantar Pak Man, pulangnya aku yang jemput. Jumat aku luar kota jadi Sabtu siang aku baru sampai rumah. Kita mampir ke rumah Mbak May dulu setelah acara. Oke!"
__ADS_1
Reyna memutar bola matanya, capek mendebat lagi!
Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!