
"Reyna!" panggil seorang pria yang dudul di beranda kafe.
Reyna menoleh memicingkan matanya ,dia tak bisa melihat wajah pria tersebut dalam cahaya remang didukung mendung. Matanya terbelalak seketika saat pria tersebut makin mendekat.
Tak mungkin dia lari berbalik arah, Reyna memutuskan berjalan tergesa melanjutkan langkah kedepan.
"Hai jawab dulu dong, mau kemana manis?" pergelangan tangan kiri Reyna dipegang erat.
"Kak Andre..lepasin Kak. Aku mau pulang" pinta Rey
"Sendirian? Tumben"
"Mas Satria nunggu aku disitu tuh" tunjuk Reyna ke sudut jalan
"Panggil coba , kemarin aku belum sempat ngobrol sama dia" tantangnya
"Kak Andre mau apa sih,please Kak lepas, sakit" rintih Reyna
"Cuma mau minta nomor ponsel kamu kok, boleh kan?"
"Lepasin dulu ah" sentakan Reyna tak sedikitpun meggoyahkan lengan Andre
Andre merampas ponsel dari tangan kanan Rey yang dia genggam sedari tadi. Dipencetnya beberapa angka,ketika ponsel di saku celananya berdering dia tersenyum.
"Udah kan, siniin" Reyna berusaha mengambil ponsel miliknya tapi Andre menjauhkan dari jangkauan tangannya
"Cium dulu nanti aku kembalikan" Andre mendekatkan bibirnya ke wajah Rey
Reyna berusaha mendorong kuat-kuat badan Andre tapi tenaganya berasa sia-sia.
"Pipi aja deh kalau keberatan" Andre menarik pergelangan tangan Reyna. Tak disangka-sangka tamparan keras mendarat kuat di pipinya refleks membuatnya melepaskan pegangan pada pergelangan tangan Rey dan meraba pipinya yang terasa perih.
Reyna segera merebut ponsel ditangan Andre dan berniat kabur, tapi badannya terhuyung kebelakang saat Andre menerkam kedua lengannya kasar lalu mengunci tubuhnya ke tembok. Ponselnya terlempar dari genggaman, Reyna meronta dan berteriak saat Andre menarik tengkuknya kasar dan mencium bibirnya dengan paksa.
Reyna meradang dan mengarahkan tendangan kesegala arah beruntung dia hari ini memakai sepatu model boots.
"Arrrgh sialll" pekik Andre kesakitan saat tulang keringnya terkena benda tumpul menyakitkan
Andre menjadi semakin brutal tangan kanannya meraup baju Rey sekenanya.
__ADS_1
"Lepasss Ndree, ******* kau!" teriakan pria mengagetkan Andre yang sontak menoleh kebelakang, belum hilang rasa terkejutnya tubuh Andre dibuat terjengkang kebelakang, detik berikutnya wajahnya dihujani bogem mentah bertubi-tubi
"Kak Bimo lepas kak,sudah cukup lepas"Reyna berteriak ketakutan
Napas Bimo tersengal-sengal, dia lihat wajah dibawahnya, darah segar mengalir dari pojok bibir Andre
Bimo berdiri menjauh dari badan Andre
"Puas kau Bimo? seperti apa rasanya memukul sahabatmu karena wanita heh!" Andre bertanya sinis
"Cckk, kau sendiri apa perasaanmu berselisih dengan sahabatmu untuk kedua kalinya karena wanita?" sindir Bimo
"Aku antar pulang Rey!" Bimo melirik Reyna
"Hah,aku harap angan-anganmu bisa terkabul menjadi ipar Satria!" ejek Andre
"Aku mengantar pulang Reyna ke rumah Satria karena dia istri Satria" balas Bimo kecut
Istri??? lalu Niken??? ahhh shitttt geram Andre
Baru saja masuk ke dalam mobil ponsel Bimo berdering, ia menyerahkan ponselnya pada Reyna
"Satria" ucapnya
Reyna menggeser layar ponsel untuk menerima panggilan
"Ha..."
"Bim, ahhhh kau kemana saja. Mana Reyna!"
"Mas..ini aku"
"Reyna...dimana kamu!"
"Mau pulang..."
"Ya sudah kau pulanglah dulu. Aku masih terjebak macet"
Reyna mengembalikan ponsel Bimo,jemari keduanya tak sengaja bersentuhan
__ADS_1
"Kak Bimo panas banget.., berhenti sebentar biar aku yang nyetir"
"Nggak usah, aku nggak apa-apa kok"
Reyna mendengus menaikkan kunci pintu dan membuka handle pintu
"Aku buka nih pintunya kalau nggak berhenti"
Bimo menurut saja bertukar kursi dengan Reyna. Kepalanya memang terasa tak nyaman, dia ingin segera memejamkan matanya. Sisa-sisa tenaganya habis saat ia bergelut dengan Andre.
Reyna mengambil ponsel Bimo, membuka aplikasi maps dan menyerahkan pada Bimo untuk mengetik alamat rumah Bimo
"Aku antar Kak Bimo pulang dulu.Mas Satria masih kejebak macet kok"
Hujan mengguyur lebat saat mereka berdua tiba di kediaman Bimo. Reyna cukup kerepotan memapah Bimo menuju ke kamar, mendudukan pelan-pelan ditepi ranjang. Keringat dingjn Bimo membasahi keningnya, mata pria itu terpejam menahan pening.
"Sebentar aku siapkan kompres" Reyna berlari mencari dispenser menuang air panas mencampurnya hingga suam-suam kuku. Kembali ke kamar bertanya pada Bimo dimana letak handuk. Lalu duduk ditepi ranjang dan mulai menempelkan handuk itu dikening Bimo.
"Sudah sana pulang bawa saja mobilku" suruh Bimo dengan suara parau
Reyna menggelengkan kepalanya
"Nanti, setelah Kak Bimo makan. Aku buatin bubur dulu ya"
"Nggak usah Rey, kasih aku obat nanti juga baikan"
"Iya..aku kasih obat tapi nanti setelah makan" Reyna berdiri mengambil selimut lalu membungkuk membungkus tubuh Bimo yang mulai menggigil. Pria itu hanya pasrah sambil memandangi Reyna.
"Rey" panggil Bimo parau
"Sudah istirahat aja"
"Rey"
"Jangan keras kepala"
"Rey"
Reyna menatap Bimo, bola mata Bimo bergerak ke arah salah satu bagian tubuh Reyna. Seketika muka Reyna merah padam, bagian dadanya terekspos cukup jelas. Tanpa Reyna sadari dua benda kecil terlepas dari lubang kancing bajunya.Belum lagi cipratan air hujan membuat warna benda pembungkus dadanya itu terpampang nyata di kemeja putihnya.
__ADS_1