Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
12. Andre


__ADS_3

Satria dan Reyna berjalan membelah ditengah taman kota untuk menuju ATM yang berada disebelah night club. Satria sengaja membuatkan satu ATM untuk Reyna, lebih praktis karena dia hanya cukup mengisi sebulan sekali. Reyna tersenyum-senyum riang karena Satria berujar dia diperbolehkan membeli barang kebutuhannya.


Satria mengajak Reyna ke ATM untuk mengganti pin jika diperlukan dan mengambil uang secukupnya. Reyna terhimpit dari depan dan belakang saat mereka tiba di ATM yang penuh sesak dengan antrian. Satria kembali menyalakan rokok dan menghirupnya, dia pandangi night club disebelahnya itu yang cukup lama tidak disambanginya.


Cukup lama hingga ia tak ingat lagi kapan terakhir dia nongkrong dengan teman-teman kuliahnya atau pada saat ada kolega mengundanganya, itupun hanya segelas dua gelas yang tidak akan membuatnya mabuk. Toleransi alkohol dalam tubuhnya sudah terlalu tinggi untuk ukuran Satria. Baginya sudah cukup masa kelam dia habiskan di masa mudanya. Masa depannya sekarang adalah Niken dan usahanya.


Habis disesapnya rokok sebatang Satria membalikkan badannya, giliran Reyna sebentar lagi. Dia duduk di kursi  panjang, merogoh ponsel dan memainkannya.


"Hai Brooooo....." sahutan dan tepukan di bahunya membuat mukanya terdongak, nampak dua pria berpenampilan kasual dengan wangi semerbak berdiri disampingnya


"Bimo, eh kau juga Ndre"


Ketiganya berjabatan tangan dan menepuk lengan masing-masing.


"Mau masuk kedalam?" tanya Andre.


"Enggak eh aku mau ke ATM" Satria menjadi gugup, dia berharap Reyna berlama-lama disana dan tidak bertemu dengan makhluk dihadapannya ini. Terlebih dengan makhluk bernama Andre, pemangsa wanita.


"Habis dari sana nyusul kita-kita ya broo, sudah lama nih kita nggak nongkrong bareng" sahut Andre yang hanya diangguki oleh Bimo.


---


"Mas, yuk pulang" ketiga pria tersebut menoleh ke arah suara. Reyna sudah berdiri disana sedang sibuk memasukkan dompet ke tas kecilnya sampai tidak menghiraukan jika Satria sedang berbincang.


"Ehh siapa Sat?" tanya Andre dibaregi senyum seringai


"Ehhhmm ..eh itu sepupu aku" Satria tergagap


"Sepupu atau gebetan, jangan bilang kamu sudah bosan dengan Niken" cecar Andre.


Reyna yang tersadar jadi bahan omongan hanya diam mematung, dua pria didepannya melihatnya dari ujung rambut hingga ujung kaki seakan sedang menelanjanginya.

__ADS_1


"Nggak dikenalin nih Sat" kali ini suara Bimo


"Reyna..ini Bimo dan itu Andre, mereka teman kuliahku" tunjuk Satria pada kedua makhluk buas didepannya


Keduanya serempak mengulurkan tangan, Reyna melangkah maju untuk menyambut uluran tangan tersebut tapi badannya dihalau oleh tangan kiri Satria, dua uluran tangan itu ditepiskan Satria dengan tangan kanannya.


"Udahhh nggak pake salaman-salaman segala, kaya lebaran aja. sana kalian masuk aku mau pulang"


Satria buru-buru berbalik badan memegang pergelangan tangan Reyna dan berjalan tergesa menjauhi kedua makhluk itu.


"Euyyyy, bagi nomornya Sat..." teriakan Andre terdengar nyaring ditelinga keduanya disusul kedunya tertawa terbahak.


"Masss..aduh Masss sakit ahh lepasinn" Reyna menghentakkan tarikan tangan Satria. Napasnya tersengal dia tak mampu menjajari langkah panjang pria berbadan jangkung tersebut.


Satria terhenti menoleh kebelakang dan menghela napas lega ketika tak melihat lagi dua makhluk tadi.


"Sorry Rey.."


Setan kamu bilang mereka itu setan hidup bergentayangan cari mangsa anak perawan kayak kamu geram Satria


Satria mengendarai motor dengan gusar, entah kenapa dia menjadi tak enak hati dan mengkhawatirkan Reyna. Dia hafal benar sifat kedua sahabat kelamnya terlebih tatapan Andre menerkam tubuh Reyna.


dirumah


bughhhh


Satria menghempaskan kasar tubuhnya ke sofa ditenggakkan minuman dingin yang diambilnya dikulkas. Reyna berjingkat pelan menuju kamar untuk menghindari Satria, ia tak berani berbicara sepatah katapun sepanjang perjalanan pulang.


"Rey, duduk sini aku mau bicara!" seru Satria membuat bulu kuduknya meremang buru-buru dia duduk disamping Satria.


"Rey, jika kau bertemu dengan dua temanku tadi jangan sekali kau hiraukan. Segeralah pergi menjauh"

__ADS_1


"Kenap..."


"BAHAYA.. mereka itu brengsek Rey" bentak Satria


ya brengsek seperti aku Rey


"Ya Mas" sahut Rey lirih, ia menunduk meremas-remas pinggiran celananya dan menggigit bibir bawahnya. Bentakan Satria membuat dia ciut nyali.


Satria mengangkat dagu Rey "Maaf... aku hanya takut mereka mengganggumu, takkan kubiarkan mereka menyentuhmu. Aku berjanji menjaga kesucianmu untuk suamimu kelak"


Reyna tersentak.


Satria berdiri dan mengacak rambutnya gusar lalu dia berjongkok didepan Reyna kedua telapaknya menangkup pipi gadisnya itu menatap dua manik mata yang menatapnya takut-takut.


"Kamu mau berjanji satu hal padaku?, berjanjilah untuk tidak sekalipun kau masuk tempat laknat tadi Rey apapun alasannya!"


Reyna mengangguk cepat disusul senyuman manis Satria. Lama mereka berpandangan satu sama lain.


"Mas,aku permisi mau tidur sudah malam" Reyna berkilah dan mendorong dada Satria menjauh sungguh posisi tadi membuatnya terkunci.


"emmmm..." Satria berdiri dan membiarkan Reyna melangkah.


Parfum Reyna semerbak mewangi bersinergi dengan bau tubuhnya tercium oleh hidung Satria saat jarak badan mereka hanya beberapa senti. Membangkitkan sensasi aneh dan membuat tubuhnya bereaksi. Serta merta dia raih pergelangan tangan Reyna dan berbisik pelan


"Benar kan kau masih perawan?"


dan


"AUUUUUUUUUCHHHGGHH!!"


Satria menjerit kesakitan saat kakinya diinjak kuat-kuat oleh Reyna setelah sebelunnya tangan Satria dihemaskan kasar.

__ADS_1


Gadis itu berlari cepat menuju kamar dan membanting pintu kuat-kuat.


__ADS_2