
Bimo mencabik rambutnya kasar dan menghempaskan tubuhnya ke sofa. Lengannya terlipat diatas wajah menutup kedua matanya.
Reyna menatap pria itu dengan penuh rasa bersalah
"Kak Bimo marah?"
Bimo membuka lengannya, mengangkat tubuhnya dengan bertumpu pada sikunya dan tersenyum kecut.
"Tidur yuk, sudah malam" Bimo menarik selimut lalu berbalik memunggungi Reyna.
Reyna menghela napas panjang, mengelus pelan punggung Bimo. Berdiri dan berjalan menuju kamar dimana Dewa tertidur,menekan handle pintu kebawah dengan perlahan. Reyna berbalik kembali menuju sofa setelah membuka pintu kamar dibelakangnya lebar-lebar.
Reyna menekan kedua tuas di sudut sofa hingga membuat bagian sandaran punggung sejajar dengan tempat duduk. Bimo membuka mata saat Reyna memasukkan tubuh lalu bergelung dalam selimut.
"Aku tidur sini saja, lebih hangat"
Bimo merapikan rambut Reyna yang menutupi wajahnya lalu melingkarkan tangan memeluk perut Reyna.
"Sini aku peluk biar tambah hangat"
Lama mereka terdiam, masing-masing memejamkan mata berusaha menghitung domba memaksakan tidur dalam suasana canggung.
"Kak?"
"Hemm.."
"Sudah tidur?"
"Sudah"
"Kak?"
"Yaaa.."
"Aku nggak bisa tidur" tiba-tiba Reyna membalikkan badannya, kedua mata itu bertumbukkan.
__ADS_1
"Kak Bimo juga nggak bisa tidur?"
Bimo menyisipkan rambut Reyna kebelakang telinganya dan mengelus pelan pipinya.
"Kamu yakin semua karena Om Alex?" tanyanya lembut
"Kak..Maaf"
"Ssttt..it's okay Rey" Bimo menarik tubuh Reyna mendekat
"Kamu pasti sangat menyayanginya Rey"
Reyna menatapa Bimo yang seakan bisa membaca pikirannya saat bayangan wajah Bram kembali terlintas.
"Sudah pasti ia pria baik hingga bisa merebut hatimu sedalam ini"
"Kak.."
Bimo mengerjab menunggu kata yang akan terucap dari bibir sensual didepannya
"Aku nggak pernah sekalipun tidur dengan Mas Bram.."
"Maksud aku tidur dalam arti...ahh Kak Bimo paham kan? Cuma Kak Bimo yang pernah ...."
Ucapan Reyna terhenti saat telunjuk Bimo menyentuh bibirnya "Rey.." panggilnya dengan suara serak "Maafkan aku" Bimo menelan ludahnya kelu "Waktu itu aku terbawa emosi, aku sadar sudah menyakitimu..sangat..aku jahat Reyna..Maaf"
"Iyaa...aku sudah maafin kok" Reyna tersenyum lega, sudah lama ia ingin mengungkapkan hal ini
"Sungguh?" mata Bimo berbinar "Jadi kita...??"
"Itu permintaan terakhir dari Mas Bram agar aku maafkan Kak Bimo, memperbaiki hubungan kita, demi Dewa " Reyna buru-buru meluruskan
"Karena itu? Kamu tak sungguh-sungguh memaafkan aku!" Bimo mencelos
"Kak..."
__ADS_1
"Aku tarik kata-kata aku tadi ternyata dia bukan pria baik"
"Kak..."
"Tapi dia pria baik-baik" Bimo tersenyum simpul sambil mengelus pipi Reyna "Dia menjagamu dan Dewa dengan baik untukku"
Reyna tersenyum lebar "Kalau Mas Bram pria baik-baik artinya Kak Bimo lelaki baik-baik. Kalian berdua mempunyai arti dan ruang tersendiri buat aku. Berbeda makna satu sama lain, tidak bisa dibandingkan atau disamakan"
Reyna menarik jemari Bimo dari pipinya dan menautkan jemarinya erat.
"Oh ya aku ingat ada lagi janji yang harus kutepati dengan Om Alex"
Bimo mendesah sektika hatinya menjadi gelisah
"Aku janji untuk belajar merelakan Mas Bram dan belajar menerima Kak Bimo sebagai takdirku, masa depanku dengan Dewa. Aku hanya butuh waktu Kak, boleh kan? Aku tidak mau menyakiti perasaanku sendiri, lebih-lebih perasaan Kak Bimo"
Jantung Bimo seperti dihujani ribuan bunga bermekaran saat ini, belum pernah ia mendengar Reyna berkata selugas ini.
"Tiga tahun lebih Mas Bram menjadi pelengkap hidupku dan Dewa. Jika bukan karena Kak Bimo mungkin sekarang aku sudah menjanda dua kali"
"Maksudmu?"
"Makin aku berusaha aku melupakan Kak Bimo justru hati aku makin sakit. Aku sadar sepenuhnya perasaan ini Kak, bukan karena ada Dewa tapi..."
Bimo tak perlu mendengar lagi ucapan Reyna, tubuhnya bergelung diatas Reyna. ******* bibir yang mengeluarkan kata-kata manis yang membuat hatinya berbunga-bunga.
Tangannya mulai nakal ketika ciuman itu kembali memanas seperti beberapa saat lalu.
"Kakk....!!!" Reyna mencubit gemas punggung tangan itu
Bimo menarik tubuhnya dari atas tubuh Reyna dan kembali berbaring disamping wanita yang menolakkan tubuh dan membelakanginya.
Bimo menarik selimut menutupi tubuh mereka lalu memeluk wanita itu dari belakang.
"Rey.. aku janji tidak akan merencanakan honeymoon di gunung, kita pilih pantai saja ya. Biar kamu kegerahan nggak pakai baju jadinya nggak repot" Bimo melantur sambil menahan kantuk.
__ADS_1
Reyna malas menanggapi, matanya sudah terlalu berat menahan kantuk.
Hanya beberapa kali menguap keduanya sudah memasuki alam mimpi masing-masing.