
Pondok Kopi
Kopi pahit terasa getir dilidah Reyna hingga membuat matanya menyipit
"Ehhhmmmm.. it's too bitter"
"It is, but the taste is good" Bimo mengambil cangkir kopinya dari tangan Reyna "How's yours?"
"Enak.. " Reyne menyeruput espresso nya lalu mengedarkan pandangan ke segala arah. Nuansa etnik mendominasi, hamparan pepohonan menyejukkan mata, hawa dingin yang menusuk cocok dengan secangkir kopi hangat.
"Tempatnya asik Kak, bikin betah" Reyna mengeratkan jaketnya
"Dingin ya?" Bimo melirik Reyna yang menempelkan telapak tangan ke pipinya
"Ehem.." Reyna mengangguk
"Kalau mau mampir sebentar bisa nanti aku panasin" Bimo tersenyum simpul
"Mampir kemana?" Reyna menaikkan alis mulai curiga dengan tarikan di sudut bibir suaminya
"Tuh.... " Bimo menunjuk berderet bangunan kecil-kecil yang mereka lewati sewaktu perjalanan naik dan familiar dengan istilah "ADA KAMAR"
"Ih... ogah. Amit-amit"
"Kenapa? Kita kan suami istri syah"
"Ya bukan berarti ditempat seperti itu Kak, dikira perempuan apa aku nanti" Reyna menggerutu
Bimo tergelak "I'm joking Rey. Ayo cabut, kita masih berburu oleh-oleh kan"
.
.
.
"Ada lagi?? " keluh Bimo sambil menyeret kakinya lelah mengikuti langkah Reyna sambil membawa banyak kantong belanjaan ditangan
"The last one, for Bianca" berhenti didepan kios tas rotan, bingung menentukan memilih
"Bagus mana Kak?"
"Telepon saja Bianca suruh dia pilih" Bimo menyulut rokok dan memainkan ponselnya
Reyna mengikuti saja saran Bimo, lama sekali hingga panggilan video tersambung kenomor karibnya itu
"Woi... ganggu orang meeting" sembur Bianca di ujung sana
"Hahaha, sorry. Which one you like Bi?" Reyna memperlihatkan 2 tas pilihannya
"Ehmm..the round one"
"Okay bye... "
"Wait... " pekik Bianca
"Any else?"
"Berhubung sudah repot-repot bawa oleh-oleh, besok kamu masuk agak siangan deh. See you"
Reyna tersenyum senang, ahh setidaknya besok tak perlu berjibaku pulang di pagi buta.
.
.
.
Reyna hanya bisa menikmati sun set diperjalanan pulangnya meninggalkan cottage langsung menuju kediaman Alex. Keduanya sudah ditunggu untuk makan malam dan disibukkan menjawab panggilan Dewa yang merengek meminta mereka segera pulang.
"Maaamaaaa.... " Dewa menghambur ke pelukan Reyna
"Halo sayang.. " dicium buah hatinya dengan gemas
"Halo anak ayah.. " Bimo mengangkat Dewa dan menggendongnya
Alex turun dari lantai atas dan merentangkan tangan menyambut Reyna "Selamat datang menantuku"
"Halo Om.. Dewa tidak nakal kan?" Reyna menghambur ke pelukan Alex
__ADS_1
"Enggak.. ayo makan. Om sudah lapar"
"Ehm.. Reyna mandi dulu boleh?"
"Nanti saja Rey mandinya" Bimo mendekat dan mengamit pinggang istrinya lalu menggelitiknya
Ahh sudah ketebak maunya apa gerutu Reyna
.
.
.
"Besok pulang pagi Rey?"
"Setelah Kak Bimo berangkat Om, Reyna masuk agak siangan" sahut Reyna menyuapkan makanan ke mulut Dewa
"Mamaa.... "
"Ya sayang.. "
"Adik cantik mana?"
Alex terbahak "Dewa, dari tadi itu terus yang kamu tanyakan"
"Mama sama Ayah kan sudah ikah, jadi ada adik ayi cantik"
"Ya kan adik bayinya bobo diperut mamah dulu Dewa, bobonya lamaaaa. Jadi Dewa sabar ya" Reyna mengelus dagu anaknya
"Nanti malam Dewa mau bobo sama Mama"
"Uhukkk.. " Bimo tersedak "Kenapa? Dewa nggak suka kamar barunya? " tanyanya panik
duh bisa gagal uyel-uyelan malam ini sungutnya
"Dewa kangen Mama.. " bocah kecil itu mengerjab manja
"Iya, nanti Mama temenin Dewa tidur dikamar Dewa ya" Reyna menjawab santai
"Nggak mau... Dewa mau bobo sama ayah juga"
gawat gawat gawat!!!
.
.
.
Selesai makan malam mereka tak segera naik keatas, melainkan membongkar tas oleh-oleh membagikan ke penghuni di rumah Alex. Berbincang ramah sambil melihat acara televisi dan menemani Dewa bermain hingga anak itu kelelahan dan merajuk karena mengantuk.
"Bimo naik Om"
"Reyna juga Om"
"Ya silahkan" Alex mengangguk "Om belum mengantuk"
Memasuki kamar Bimo yang kini menjadi kamarnya juga.
"Mama mandi sebentar ya, Dewa sama ayah dulu"
"Rey... ikuttt.. " Bimo mengekor dari belakang
" Ayah mau kemana?" pertanyaan Dewa menghentikan langkahnya lalu kembali menuju ranjang dimana Dewa sudah bergelung dengan selimut
"Dewa bobo sama ayah dulu yuk" bujuk Bimo
"Nggak mau.. Dewa tunggu Mama"
sabar Bimo sabar tunggu giliran!
Ketiganya naik berbagi selimut, Reyna menepuk-nepuk pantat Dewa dan menciumnya. Bimo tiduran menyamping menyangga kepalanya dengan satu tangan. Tak lama Dewa sudah memejamkan mata.
"Kak Bimo mandi dulu, biar aku tunggu Dewa tidur pulas" bisik Reyna yang diangguki Bimo
Tak butuh waktu lama pria itu sudah kembali mendekat ke ranjang hanya dengan handuk dililitkan ke pinggang.
"Ih Kak Bimo pakai baju dulu" tegur Reyna
__ADS_1
"Buat apa?" tanyanya bingung
"Ya gendong Dewa pindahin dikamarnya" Reyna mendelik
"Oh.. " secepat kilat menyambar celana pendek lalu mengangkat tubuh bocah kecil itu perlahan
Dewa merengek dalam tidurnya, kaki dan tangannya bergerak. Reyna menggoyangkan kedua tangan meminta Bimo menurunkan Dewa kembali ke ranjang.
"Tak apalah biar Dewa tidur disini" Bimo turun dari ranjang dan menuntun Reyna merapat ke kursi malas didekat jendela kamar "Kita bisa disini"
"Ehm.. tapi Kak" Reyna menggigit bibir bawahnya "Kalau Dewa bangun bagaimana?"
"Enggak, aku janji nggak akan berisik" Bimo mulai menyingkap piama dress yang dikenakan Reyna. Meminta istrinya menduduki pahanya, mencium bibirnya dan menanggalkan kancing satu persatu lalu dihempaskan ke lantai.
Memulai mengecup lembut gundukan sintal
"Kakk... ahh... Stop, aku nggak bisa" Reyna menahan kepala Bimo
"Kenapa?" Bimo mendongak
Reyna menoleh kebelakang dimana Dewa tertidur pulas
"Aku nggak bisa lakukan ini didepan Dewa, kalau dia bangun dan lihat kita bagaimana?"
"Kamar mandi?" tunjuk Bimo
Reyna menggeleng "Dingin"
Bimo meminta Reyna turun lalu memasuki kamar mandi dan keluar dengan 2 handuk ditangan. Menggelarnya dilantai persis di tepi bawah ranjang. Tangannya melambai meminta Reyna mendekat
"Disini?" Reyna terpekik tertahan
"Dewa nggak kelihatan dari sini" Bimo menjawab santai
Reyna mencoba berbaring diatas tumpukan 2 handuk "It's okay, not to bad" ia terkikik geli
"How many rounds you want Rey?" Bimo mulai mengecup bahu Reyna
"As you want, ensure it's enough for next 5 days" Reyna mengecup pipi Bimo
Dan terjadi lagi....
"Kak, stop. Aduhh... " Reyna mengaduh ditengah kegiatan mereka
"Apa lagi?" Bimo nampak frustasi
"Pelan.. punggung aku sakit" rasa tak nyaman mulai dirasakan
Bimo memakai celana pendeknya lagi "Aku ambil selimut Dewa dulu" lalu berjalan menuju pintu kamar
---
"Eh Om... " Bimo sontak menutupi bagian vitalnya yang menonjol dibawah celananya
"Kemana Bim?" tanya Alex saat berpapasan akan menuju kamar
"Eh.. ambil selimut Dewa"
"Dewa sudah tidur?" Alex melongokkan kepala
"Sudah Om!" buru-buru Bimo menutup pintu kamarnya "Om mau tidur juga kan" tanyanya gelisah
"Ehm.. " Alex melangkah menjauh
Menunggu Alex masuk kekamarnya dan tergesa mengambil selimut dan kembali kekamar memastikan pintunya terkunci
"Hampir saja" Bimo menghela napas dan merentangkan selimut itu dilantai "Banyak iklan lewat"
Reyna memposisikan tubuhnya kembali dibawah bersiap menerima serangan, keduanya menahan desahan sepelan mungkin. Menautkan dan menggigit bibir disaat kenikmatan hadir berulang dipusat tubuh Reyna.
😍😍😍
"I want you stay!" Bimo menciumi pipi Reyna setelah berhasil melakukan pelepasan. Membaringkan tubuh polosnya dilantai dingin memeluk istrinya erat
"Sabar ya Kak, 3 bulan lagi aku akan stay disini" Reyna membelai kepala Bimo
Bimo mengangkat kepalanya menatap mata Reyna "I want you stay and spend the rest of my life with you"
Ahh...terasa bunga bunga bertebaran dan kupu-kupu beterbangan dihati Reyna.
__ADS_1
Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!