
"Kenapa Rey, ada apa?" Bimo tiba-tiba panik melihat istrinya yang bergelung bagai anak kucing
"Aku nggak sengaja tekan perut kamu?" Bimo mengulurkan tangan memegang perut Reyna "Kok keras?"
"Ssshhhh.... Kak diam dulu" Reyna mendesah kesakitan
Tangannya menarik tangan Bimo "Bantu elus-elus" pintanya
Bimo kembali naik ke ranjang, tidur di samping istrinya dan mengelus perut buncit tanggung daro belakang. Pelan pelan perut yang mengeras itu kembali lembek
"Sudah Kak, sudah nggak apa-apa kok" Reyna menyingkirkan tangan Bimo lalu berbalik badan
"Aku takut" Bimo menangkup wajah istrinya "Kenapa tadi?"
"Entah, mungkin adiknya kaget" Reyna menjawab dengan wajah tak kalah cemas
Melirik ke bawah, batang tak bertulang itu masih tegak menantang. Digigitnya bibir bawahnya ragu
"Mau lanjut Kak?"
"Eh, nggak usah. Nanti kalau kenapa-napa" Bimo turun dari ranjang
"Aku bantuin deh" Reyna menahan tangan suaminya "Pakai tangan tapi" deretan gigi yang rapi terlihat saat senyum jenaka dilempar Reyna
"Ehm, ya sudah. Daripada main sama Tante Rosa" Bimo menggaruk kepalanya
"Eh eh nakal ya, siapa itu Tante Rosa?" Reyna sontak duduk dan mendelik sengit
"Ish! Pasti mikir nggak nggak lagi" Bimo mendorong pelan kening istrinya.
Mencondongkan badan berbisik pelan ditelinganya "Tangan tengen karo sabun"
(tangan kanan dengan sabun)
.
.
.
Keduanya sudah berpelukan diatas ranjang dan berbincang, salah satu dari post s-e-x activities yang selalu mereka lakukan.
"Besok ke dokter yuk, periksa si adik" Bimo mengelus lembut perut Reyna
__ADS_1
"Tiga hari lagi, sekalian kontrol bulanan"
"Aku takut kenapa napa"
"Nggak apa apa Kak"
"Seperti ini juga waktu hamil Dewa?"
"Ehm.. enggak sih. Keram kalau lagi kecapekan kerja saja"
"Oh, mungkin capek gara-gara melayani aku Rey. Aku janji besok-besok bakal lebih lembut. Tadi aku terangsa*g hebat lihat kamu ... "
Reyna menutup mulut Bimo "Malu ah Kak"
"Enak ya Rey?"
Reyna mengangguk angguk malu
"Gila! Baru kali ini aku lihat kamu.. "
"Ih sudah jangan jujur-jujur gitu" Reyna mengecup gemas bibir suaminya "Sana ngerokok dulu, aku mau tidur"
Kebiasaan Bimo adalah menghisap nikotin setelah bercinta, sejak istrinya hamil dia harus turun ke teras untuk menghindari paparan asap rokok
"Tapi sumpah bener, enaaaakk... sekali. Apalagi pas kamu teriak. Aku sampai khawatir penghuni rumah bangun" Bimo terkikik geli
"Kakkk.... " Reyna menenggelamkan kepalanya ke selimut
"Iya iya sudah aku nggak godain kamu lagi" Bimo menyingkap ujung selimut menatap wajah istrinya yang manis polos tanpa make up
"Bawaan adiknya apa ya Kak. Otakku kotor terus akhir-akhir ini" sepasang mata berbulu lentik itu mengerjab malu
"Nah... gitu dong. Aku suka kamu jujur" Bimo mencium ujung kepala Reyna
"Ada lagi yang mau dikatakan istriku??" Bimo melirik
"Soal?"
"Jujur.. " Bimo memainkan rambut Reyna, menghirup wanginya shampo
Eh apa ini kok jadi main jujur jujuran. Atau jangan-jangan Bimo tahu soal Pras. Jantung Reyna terasa berdegub dua kali lebih kencang
"Aku dengar pembicaraanmu dengan Mbok Nah didapur tadi"
__ADS_1
"Eh.. " Reyna tersentak kaget "Maaf Kak"
Flash back
Bimo mencium pipi istrinya lalu bersiul kecil menaiki anak tangga lalu masuk kekamarnya untuk mandi. Badannya berpeluh lengket keringat dan debu jalanan
Sesaat pintu kamar kembali terbuka saat menyadari ponselnya tertinggal di mobil. Langkah kakinya tertahan dianak tangga terakhir. Menurungkan niatnya saat mendengar penggalan pembicaraan Reyna dengan Mbok Nah dari arah dapur.
“Mbak Rey sedang apa?”
“Ya ampun Mbok ngagetin saja” Reyna buru-buru menyembunyikan sesuatu dibalik punggungnya
“Itu apa Mbak?”
“Sssttt..Mbok Nah jangan berisik” Reyna membuka bungkusan plastik
“Wah..parutan kelapanya sudah basi. Jangan dimakan Mbak nanti sakit perut, kasihan adiknya”
“Jangan bilang-bilang suami saya ya Mbok, kasihan pulang malam demi ini” wajah Reyna terlihat sedih
“Iya Mbak, sini biar simbok saja yang buang”
“Mbok, nanti kalau Mas Bimo minta tolong bilang sudah habis saya makan ya” Reyna menggenggam tangan Mbok Nah erat
“Iya Mbak Rey, beres”
Flash back off
"Maaf, aku takut Kak Bimo kecewa"
"Reyna.. aku belajar banyak dari peristiwa kemarin. Aku memilih kejujuran berujung kekecewaan daripada kebohongan yang menimbulkan kesalahpahaman dan masalah lebih besar"
Ah! Kata-kata Bimo terasa begitu menohoknya
"Aku tak mau kehilangan semua ini hanya karena kobohongan.Keluarga ini membuat hidupku sempurna"
Reyna memeluk tubuh Bimo erat-erat, menenggelamkan wajahnya yang pias didada bidang. Ia tak ingin suaminya menerka perubahan air mukanya.
Maaf Kak, aku janji akan jujur. Tapi aku butuh waktu yang tepat. Maaf! bisiknya lirih dalam hati
Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!
__ADS_1