Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
47. Pria Dingin


__ADS_3

Sudah sebulan sejak Bram tinggal dirumah itu,tak seperti biasanya pagi ini Reyna bangun kesiangan dan melewatkan sarapannya.


"Reyna berangkat sama kita saja" tawar Bram


"Enggak pernah mau dia" sahut Linda pendek


"Konveksi sama butik kan beda arah tante" seloroh Reyna sambil mencium pipi Dewa yang digendong pengasuhnya


"Yah..Rey! 10menit juga sampai" kilah Bram


"Makasih Mas, lebih cepet naik motor nggak kena macet bisa ngebut" tolak Reyna


.


.


.


Reyna berkutat dengan pekerjaannya hingga tak terasa waktu makan siang tiba, ia memilih menyelesaikan lebih dulu meskipun memangkas jam istirahatnya.


Sejak melahirkan Dewa ia berusaha menyelesaikan pekerjaan secepat-cepatnya karena tak ingin pulang lambat.


Waktu berlalu, beberapa rekan kerjanya sudah ada yang kembali ke meja kerjanya untuk sekedar bergosip atau tidur-tiduran dimeja


"Mbak Rey nggak makan?" tanya rekan diseberang meja


"Ehm sebentar tanggung"


"Mbak, Pak Bram itu tinggal dirumah Bu Linda kan ya, satu rumah sama Mbak Rey kan?" pancingnya


"Heem ya, kenapa?" mata Reyna masih melototi deretan angka dan hurud didepannya


"Tadi denger-denger dari anak produksi katanya galak orangnya mbak, emang gitu ya?"


"Nggak eh maksudmu biasa aja, jarang ngobrol kalau dirumah" jawab Rey sekenanya


"Rugi mbak membiarkan pria tampan" rekan kerjanya terkekeh


Reyna hanya diam, tidak hanya sekali ini ia dengar Bram suka berbuat huru hara di konveksi. Apalagi jika mood pria sedang tidak bagus. Sejauh ini hubungan pekerjaan mereka baik-baik saja karena Reyna berusaha untuk melakukan semuanya dengan teliti dan secepat mungkin.


Punggung wanita itu menggeliat melepas penat, waktu makan siang tersisa 10menit lagi. Saat hendak berdiri menuju pantry dia melihat sekelebat bayangan pria memasuki area kantor.


Hah panjang umur itu orang batin Reyna, nampak Bram tergesa memasuki ruang manager produksi tanpa memperdulikan siapapun di ruangan itu.

__ADS_1


Baru saja hendak menyuapkan sendok ke mulutnya tiba-tiba pintu pantry terbuka


"Mbak Rey, dipanggil Pak Bram"


Ia letakkan sendoknya dan melangkah gontai


"Ada apa Pak Bram?"


"Aku minta semua planning diubah" telunjuk Bram mengarah pada pria didepannya


"Dan kamu Reu, segera selesaikan perhitungan untuk customer baru yang datanya aku kirim via email tadi pagi"


"Iya Pak Bram, on process. Mungkin besok saya baru bisa kasih feed backnya karena beberapa material import dan saya belum mendapatkan penawaran dengan harga terbaik"


"Okay, ambil sajalah berapapun uangnya. Oh ya Pak. target output akan jauh lebih besar" telunjuk itu turun naik masih menunjuk sang manager


ishh tak sopan sungut Reyna dalam hati


"Tapi Pak Bram, maaf saat ini kuota kita penuh hingga bulan depan. Mohon kerjasama saja untuk atur masuk order bulan depan" jawab bapak manager dengan sopan


'Iya Pak Bram, saya juga setuju. Coba negosiasikan lagi untuk rencana masuk order. Saya juga punya waktu lebih untuk mencari supplier dengan harga lebih miring" dukung Reyna


"NO NO NO!!! Kamu bantu hubungi customer dengan output kecil, paksa mereka mundurkan jadwal. Kita sisihkan tempat khusus untuk customer yang baru! "


"Tidak bisa Pak Bram, untuk customer output kecil kami sudah bebankan biaya tambahan sebagai jaminan loss delay product dengan rupiah yang tidak sedikit. Bisa-bisa mereka tidak mempercayakan produknya dikelola kita lagi. Mohon dipertimbangkan"


"Reyna, berhentilah mencari ikan kecil dengan kail, ini ada jaring untuk menangkap ikan besar. Kapan lagi kita bisa untung setinggi ini"


"Tidak Pak. Tanpa kail kita tidak bisa belajar namanya menjaring ikan"


Perdebatan mereka berlangsung cukup alot dan lama.


.


.


.


Bram sangat frustasi dengan bantahan Reyna, tiba-tiba dia menarik tangan Reyna paksa


"Ikut aku temui Bu Linda. Biar dia yang putuskan"


Reyna mengendus kasar, tak tahukah Bram perutnya yang meronta minta makan. Kepalanya mulai pening mengingat tak satupun makanan masuk sejak pagi.

__ADS_1


Dia hanya diam selama dalam mobil, ocehan Bram soal customer baru yang ia yakini akan makin melesatkan bisnis mereka.


Sadar omongannya tidak digubris Bram menyentak lengan Reyna.


"Kamu dengerin aku ngomong Rey?"


Reyna yang terkejut tanpa sadar menangis tersedu, Bram menjadi panik dan menepikan mobilnya.


Tak disangka wanita tegar, keras kepala dan bisa membuatnya telak dengan berbagai sanggahan saat ini menangis.


"Rey.. sorry. Kamu kenapa menangis??"


"Lapar!!!" Reyna menjejak-jejakkan kakinya jengkel


Whattttt....!!!!!


Mobil itu terparkir di salah satu resto fast food, saat ini ia hanya memandangi Reyna yang lahab menyantap makanannya sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Reyna makin melanjutkan aksinya menjilati es krim jumbo didepannya hingga tandas. Menyenderkan tubuhnya ke kursi setelah nafsu makan sebagai busui terpuaskan.


"Yukk.." senyum jahil tanpa dosa tersungging. Puas rasanya setelah mengerjai Bram membayar semua tagihan makan yang semua ia beli dalam porsi besar. Bram mengekor dibelakangnya dengan pasrah.


Di dalam mobil Reyna masih asik makan kentang gorengnya dan menyeruput es coklat.


Busyeettt ini busui apa singa kelaparan batin Bram


Lama ia memandangi Reyna hingga perhatiannya menuju kearah dada Reyna, bukan karena bagian yang menonjol itu menggiurkan melainkan ada jejak basah disana.


"Rey...ehmm itu.." Bram bingung sesaat


"Iya santai udah aku maafin, impas sudah ditraktir" tangan Rey mengibas-ibas


"Bukan itu.. basah" telunjuk Bram menunjuk bagian yang dari tadi menyita perhatiannya


Reyna terperangah, tanpa sadar bajunya basah karena ASInya merembes keluar.


Ahh sial, bukan hanya jam makan yang ia lewatkan ia sampai melupakan jadwal memompa ASInya.


"Aku antar pulang saja, besok saja kita meeting ke butik"


"Aku balik kantor aja kalau gitu Mas" tolak Rey "Alat pompaku dikantor kok"


"Nggak usah, langsung diminumkan ke Dewa aja. Lebih enak minum dari galonnya langsung" pria dingin itu nyengir-nyengir mesum.

__ADS_1


__ADS_2