Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
76. Bertemu


__ADS_3

Reyna mematut wajahnya didepan cermin, akhirnya ia mendapat lampu hijau untuk bertemu Bram malam ini. Ia poleskan make up tipis hanya untuk menutupi wajahnya yang pias. Jangan tanyakan soal manajemen emosi padanya, ia sudah mengecap banyak ujian hidup yang membuatnya pernah dititik tertinggi bianglala ataupun terdampar dititik terendah perahu kora-kora.


Bimo duduk diruang tengah saat Reyna bersiap hendak pergi, wanita itu baru mengabarkannya beberapa saat lalu saat pulang dari bekerja. Memintanya menjaga Dewa malam ini..


"Kamu masih ada waktu? Aku perlu bicara sebentar saja"


Reyna melirik benda bundar yang melingkar di pergelangan tangannya lalu mengangguk


"Jangan sungkan untuk menitipkan Dewa. Aku akan lebih sering kemari. Senin depan aku sudah mulai menggantikan Om Alex" Bimo menatap Reyna mencoba membaca isi pikiran dari wanita itu dari reaksinya


datar


"Jika kau mengijinkan, biar Dewa tinggal denganku dirumah Om Alex untuk sementara" lanjut Bimo


Reyna menggeleng cepat


"Nggak Kak, aku masih mampu membagi waktuku. Jangan sekali-kali berpikir untuk memisahkan aku dengan Dewa"


"Okay Rey, aku tak mau kamu salah paham dengan niatku ini" Bimo buru-buru menenangkan


"Ya sudah aku berangkat, besok aku segera pulang jika Kak Bimo kewalahan dengan Dewa"


.


.


.


Linda sudah menunggu dikursi panjang saat Reyna tiba. Wanita itu memijit kepalanya, terlihat lelah yang teramat sangat di wajahnya.


"Bagaimana perkembangannya Tante? "


"Kita harus tunggu donor yang cocok untuk cangkok hati, 3 hari lagi kita urus kepulangan Bram dari sini"

__ADS_1


"Sampai kapan Mas Bram bisa bertahan?"


Linda menggeleng pasrah


"Mas Bram tahu kondisinya saat ini?"


"Itu keinginannya dari awal. Dia harus tahu soal kondisinya"


.


.


.


Bram terbujur lemah di atas ranjang, dia melepas selang oksigen ketika melihat Reyna melangkah masuk.


"Jangan.. " cegah Reyna


Lama dua pasang mata bertatapan, ingin rasanya menghambur memeluk melepas rindu.


Reyna melangkah perlahan berdiri terpaku di sisi ranjang, tangannya meremas besi pengaman disisi ranjang.


"I miss you both" Bram bersuara serak


"Mas Bram jahat! "


"You don't miss me huh"


Reyna duduk di kursi samping ranjang


"What do you feel? " ahh pertanyaan macam apa ini rutuknya


Menunduk dalam-dalam menahan rasa panas menyerang dua bola matanya yang hendak meneteskan bulir hangat.

__ADS_1


Tatapan Bram tak lepas dari sosok yang dirindunya, make up tipis memoles wajah pucat pasi, jelas terlihat kesedihan disana. Malam ini Reyna memilih legging hitam yang membentuk jelas lekuk tubuhnya dipadupadan blouse big size menyamarkan sisi molek tubuh bagian atas.


"Dewa?"


"Ada.. dengan ayahnya. Pokoknya aku jadi suster Mas Bram tiga hari kedepan, trus kita pulang kerumah. Semangat! " Reyna mengepalkan tangannya keatas dengan sudut bibir tertarik dipaksakan.


"Aku tak berani menjawab penggilan maupun membalas pesan dari Gandhi" Bram memaksakan bicara panjang


"Sssttt,, nggak usah bahas itu dulu" Reyna memegang pelan punggung tangan Bram


"Kamu batalkan semua Rey?"


"Tidak akan..kita hanya sedang diminta untuk menunda Mas "


.


.


.


Reyna terbangun saat mendengar gaduh, ia tertidur di sisi ranjang. Nampak tangan Bram berusaha menggapai selang oksigen,, buru-buru Reyna membantu memasangkan alat itu.


Napas Bram memburu,, matanya terpejam dan tangannya memegang perut kanannya.


"Sakit?? " tanya Reyna pelan ditelinganya


Mata Bram perlahan membuka "Just little bit"


Tangannya berpindah dari perut menuju wajah Reyna, menyibakkan anak rambut yang menghalangi wajah yang masih menahan kantuk.


"Tidurlah di sofa..aku tak apa"


Reyna menggeleng, dia hanya ingin didekat Bram selama apapun Tuhan memberikan waktu yang tersisa untuk mereka.

__ADS_1


__ADS_2