
Satu minggu berselang, Pak Man sang sopir datang pagi-pagi untuk menjemput Reyna dan membawanya kekediaman Alex di hari Sabtu.
Beberapa hari sebelumnya Reyna sudah menghubungi Mbak May sekeluarga untuk datang hari ini juga tanpa menjelaskan keperluannya.
Gandhi adalah hal yang paling ditakutkan Reyna, pria yang sukar ditebak jalan pikirannya. Entah apa yang nanti akan terjadi.
---
Om Alex menyambutnya hangat, Reyna memeluk pria itu dan berbisik pelan meminta maaf. Dia tak enak hati ketika Bimo harus menjelaskan sendiri tentang rumitnya hubungan mereka dimasa lalu.
"Sudahlah, ayo kita segera berangkat. Om tidak sabar bertemu dengan keluargamu"
Bimo naik ke kursi kemudi disusul Reyna disebelahnya, Dewa duduk dibelakang dengan Om Alex.
"Ceritakan pada Om dengan siapa saja kita akan bertemu Reyna?"
"Ada Pakdhe Hermawan, wali saya dari kecil Om. Ada Mbak May kakak sepupu perempuan saya berserta suami dan anaknya yang saat ini juga sedang perjalanan kesana"
"Dan.. " Reyna melirik ke arah Bimo "Dan Mas Gandhi putra tertua dari Pakdhe, ehmm jangan kaget ya Om kalau nanti reaksi Mas Gandhi agak berlebihan"
"Berlebihan? Maksudmu?"
Reyna melirik spion tengah "Ehmm.. Mas Gandhi sayang dengan adik-adiknya jadi ya eh.. saya takut Kak Bimo dikasari"
Tak disangka Om Alex terbahak "Ah biar saja, kemarin Om juga belum puas bikin Bimo babak belur"
Pria yang menjadi topik utama pembicaraan itu fokus dengan kemudi dan hanya melirik malas.
"Om pilih kasih, kenapa cuma Bimo yang kena marah, harusnya Reyna juga kan" gerutunya
"Sudah pasti kamu yang salah, sudah tahu istri orang" Alex memukul bahu Bimo
"Reyna masuk kamar Bimo dengan suka rela kok Om.. "
"Kak, aku kan nggak tahu .. waktu itu kita kan mabuk"
plakkk
Lagi pukulan itu mendarat di bahunya membuat Bimo mengaduh
"Apa...!!!! Jadi kamu bikin Reyna mabuk juga!!! " pekik Alex
"Eh bukan Om.. maksud Reyna hampir mabuk.. bukan beneran mabuk" Reyna mengelus bahu Bimo
"Tuh kan Om, kita suka sama suka kok. Kita sadar bukan karena paksaan"
dan "adooowww".... pekik Bimo
"Kak, malu ah!" Reyna mendelik sambil mengelus hasil cubitannya di pinggang pria itu
.
.
.
Reyna menggandeng Dewa memasuki rumah Hermawan diikuti Alex dan Bimo dibelakang.
"Duduk dulu Om, saya panggil Pakdhe dulu" Reyna melenggang masuk
---
"Sudah sampai Rey... " sapaan Mbak May dari ruang tengah "Kamu bawa mobil sendiri?"
"Ehmm.. enggak diantar Kak Bimo, Pakdhe dan Mas Gandhi mana Mbak?" tanya Reyna sambil menyalami May dan Mas Aris
May menautkan alisnya "Bimo? Ehmm tetangga sebelah rumah kamu kan?"
Reyna mengangguk dan berjalan ke belakang rumah, meminta Mbok Sri menyiapkan minuman untuk tamunya.
"Pakdhe... " sambutnya riang, dipeluknya pria yang lama tak ia jenguk. "Mas Gandhi mana?"
"Ada disamping.. ada tamu siapa Rey?" rupanya Hermawan mendengar Reyna berbincang dengan Mbok Sri
"Ehmm.. pakde ganti baju ya.. " Reyna membimbing pria itu masuk kekamar dan mengganti kaos rumahnya dengan kemeja
__ADS_1
"Tamunya penting Rey?" Hermawan menurut saja saat Reyna merapikan kemejanya
"Pakdhe temui saja dulu, Reyna mau cari Mas Gandhi"
Gandhi sedang berkacak pinggang memberikan arahan pada pekerja disamping rumah. Pria itu nampak sangar dengan rambutnya yang makin panjang menyentuh tengkuk dan rambut jambang dibiarkan lebat.
"Mas .... " Reyna melingkarkan tangan ke pinggang pria itu berharap hari ini suasana hati Gandhi cerah hari ini
"Kapan datang?" Gandhi merangkul pundak Reyna dan meremas bahunya
"Barusan.. kedepan yuk.. ada tamu. Pakdhe sudah duluan" Reyna masih menggelayut manja dan melingkarkan dua tangannya
Gandhi meliriknya tajam, dia hapal sikap Reyna saat halus, lembut dan manja adalah jurusnya jika sedang menginginkan sesuatu, atau saat dirinya telah berbuat kesalahan dan disaat membujuknya agar menahan amarahnya.
"Siapa?"
"Nanti Mas juga tahu" Reyna mengamit erat pinggang lelaki itu dan menyeretnya menuju pintu depan
Rangkulan erat Gandhi dibahu Reyna mengendur saat matanya bertatap dengan Bimo saat tiba di ruang tamu. Mengangguk hormat kearah Alex lalu mengambil duduk di sebelah Hermawan setelah menyalami 2 tamu itu.
"Minumnya Mbak Rey... " Mbok Sri memegang nampan dan Reyna membantu menata gelas di meja tamu
"Makasih Mbok, minta tolong panggilkan Mbak May dan Mas Aris ya... dan titip Adam sama Dewa sebentar"
---
Ruang tamu itu penuh sesak, Alex menarik napas dan mulai membuka mulutnya
"Jadi Pak Hermawan dan keluarga, saya Alex wali dari Bimo, dia keponakan yang sudah saya anggap anak sendiri"
"Maaf sebelumnya kalau kedatangan kami yang mendadak ini mengganggu, maksud kedatangan saya kemari adalah melamar Reyna untuk Bimo"
Sunyi
Semua mata memandang kepada Reyna. Hermawan mendesah, Mbak May memegang punggung tangan Reyna yang duduk disebelahnya.
Reyna melirik ke arah Gandhi, pria itu sedang menatap tajam ke arah Bimo.
"Reyna... " panggil Hermawan
"Bapak... " Gandhi menoleh ke arah Hermawan
"Kamu sudah dipikirkan matang-matang Reyna" Hermawan menatap Reyna
"Sudah pakdhe.. " Reyna mengangguk tanpa ragu
"Tidak.. ini terlalu cepat" Gandhi menggeleng
Bimo mendesah "Saya.. "
"Bimo... " potong Alex dan menggeleng menatap Bimo menyuruh pria itu sebaiknya menutup mulutnya " Saya bisa bantu menjelaskan jika Nak Gandhi berkenan" sambungnya
"Maaf... tapi sepertinya anda datang di waktu yang kurang tepat" Gandhi masih mendominasi
"Gandhi... jaga sikapmu" tegur Hermawan
"Tapi Pak.. "
Hermawan menahan lengan anak lelakinya itu
"Pak Alex, terimakasih telah jauh-jauh datang kemari untuk melamar putri saya. Tapi saya belum mengenal putra anda. Nak Bimo, berapa lama anda mengenal Reyna?"
Bimo menatap Alex, entah kenapa tiba-tiba dia menjadi takut jika salah bicara, Alex menganggukan kepala memberinya kesempatan untuk bicara
"Sudah lama sekali Bapak Hermawan, dulu Reyna adalah asisten saya" diam sejenak melihat reaksi dari pria didepannya "Kami baru dipertemukan kembali kurang lebih satu tahun terakhir"
"Hal apa yang mendorong Nak Bimo melamar Reyna?"
"Kami terikat oleh sesuatu Bapak" susah payah Bimo menelan ludah, keringat dingin mulai terasa mengembun di dahinya
"Sesuatu? Maksudmu?" suara Gandhi meninggi
Reyna dan Bimo bertatapan, aku atau kau yang akan bicara !
"Dewa adalah putra mereka" suara Alex yang lirih tapi terdengar bagai dentuman bom ditiap telinga penghuni kamar tamu itu
__ADS_1
Lagi... semua mata memandang Reyna yang hanya bisa menunduk pasrah.
"Rey.. katakan kalau itu salah" Gandhi berteriak
"Itu benar Mas, Pakdhe... Mbak.. " Reyna menatap mereka bergantian
"Rey... " Hermawan memegang dadanya, raut kecewa nampak jelas diwajahnya
Reyna bangkit dan buru-buru bersimpuh dikedua kaki Herwaman
"Maafkan Reyna pakdhe, Reyna salah... Maaf"
"Ikut aku! Kamu bikin malu keluarga!" Gandhi berdiri dan menarik lengan Reyna yang masih bersimpuh
"Mas Gandhi jangan .. saya yang salah .. " Bimo berdiri
"Gandhi.. duduk! Biar adikmu jelaskan dulu" perintah Hermawan
Gandhi mendengus dan menarik lengan Reyna untuk kembali duduk
"Waktu itu Mas Satria dan Reyna hendak menjelaskan soal ini. Kami sama-sama terpaksa menjalani pernikahan"
"Terpaksa heh?" Gandhi meliriknya
"Reyna takut lihat usaha Pakdhe seret jika Reyna menolak lamaran waktu itu. Sedangkan Mas Satria juga terpaksa karena sedang butuh uang untuk usahanya yang dijanjikan Pak Wiji jika mau menikah dengan Reyna"
"Kalian main-main!" lagi Gandhi terpekik kesal
"Iya Iya Mas.. " Reyna merasa kesal dipojokkan
"Artinya kamu sudah hamil ketika masih berstatus istri Satria?" Mbak May bertanya pelan yang hanya diangguki Reyna.
"Ampun Reyna.... Kamu... " May menggeleng tak tahu harus bicara apa
"Kenapa tak dari awal kau minta pertanggungjawaban Bimo?" Gandhi bertanya
"Mas, tadi kan Kak Bimo sudah bilang kami baru bertemu lagi setahun terakhir. Salah Mas Gandhi sendiri buang simcard jadi aku tak bisa menghubunginya" Reyna menjawab kesal
"Dan kau kemana? Lari?" tajam mata Gandhi menatap Bimo
"Mereka saling mencari Nak Gandhi, tapi memang tidak bisa maksimal karena Bimo dipindahkan ke kantor cabang diluar pulau dan baru mengajukan pindah kembali ke kantor pusat setahun ini. Kepulangan yang hanya beberapa kali dalam waktu singkat itupun karena alasan kesehatan saya yang memburuk"
"Kenapa tak kau berusaha mencari alamat Reyna diberkas lamaran kantormu" Gandhi masih mengejar
"Sudah Mas, tapi alamat yang Reyna cantumkan adalah kediaman Satria. Saya pernah dua kali berkunjung kesini waktu libur akhir tahun tapi rumah selalu sepi. Saya meninggalkan nomor telepon untuk Mas waktu itu, saya sampaikan pesan penting berkaitan dengan Reyna"
"Kak Bimo pernah kesini?" Reyna membelalak
"Menurutmu?? Sedari tadi apa pernah aku bertanya jalan?" Bimo mendengus
Hihhh bodohnya aku Reyna menggaruk punggung tangannya kasar, dia terlalu takut membayangkan pertemuan hari ini hingga tak menyadarinya
Gandhi berdiri dan menuju pintu depan berteriak lantang mamanggil Pak Min penjaga rumah
"Ya Mas" tergopoh pria tua itu datang mendekat
"Apa Pak Min pernah merasa bertemu dengan pria itu?" tunjuk Gandhi pada Bimo
Pak Min menatap lekat-lekat, dahi tuanya tambah melipat saat berusaha mengingat "Oh ya.. Masnya yang datang titip nomor telepon buat Mbak Reyna ya"
Bimo tersenyum menang.
"Mas kemanakan nomor telepon saya?"
"Aku buang! Kupikir itu dari Satria" Gandhi menggaruk kepalanya dan kembali duduk
"Saya permisi Mas.. " Pak Min hendak berlalu
"Pak Min.. minta tolong jemput Mbah Mijan kemari" pinta Hermawan yang diangguki cepat Pak Min
"Bapak.. ini terlalu cepat" Gandhi bersikukuh
"Lebih cepat lebih baik! " Hermawan menaikkan nada suaranya
"Maaf tapi siapa yang anda panggil?" Alex bersuara
__ADS_1
"Orang yang biasa menghitung hari baik untuk pernikahan" Hermawan menjawab tegas
YES!