Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
20. Asisten Idaman


__ADS_3

Satria sengaja bangun lebih awal dari biasanya, saat ia keluar kamar terdengar gemericik air dari kamar mandi luar, yang tengah dipakai Reyna. Dia berjalan ke dapur dan melihat semua makanan telah terhidang. Satria buru-buru kembali masuk kamar untuk mandi dan bersiap.


Reyna yang lebih dulu menyambangi meja makan ,ia telah menyiapkan sepiring nasi beserta ca kangkung lengkap dengan ayam kecap yang dimasaknya tadi. Mendorong piring itu ke arah ke Satria saat lelaki itu menuju ke meja makan.


"Pagi Rey.. berangkat denganmu ya" cetus Satria tanpa basa-basi


"Nggak perlu Mas,kita kan tidak searah, aku naik motor saja"


"Tak apa, hanya selisih berapa menit. Aku bisa berangkat lebih pagi"


"Aku pulang kerjaya jam 4 lho, kelamaan kalau aku nunggu Mas"


"Pulang naik taksi saja kalau aku nanti tak bisa jemput"


Reyna menghela napas, dia tak mau mood nya berubah jelek pagi ini hanya gara-gara berdebat


.


.


.


Perusahaan tempat Reyna berkerja bergerak dibidang bahan baku denim dan berskala impor namun banyak juga kerjasama dengan perusahaan lokal. Team marketing di kantor Pak Alex terbagi dalam beberapa divisi, masing-masing terdiri dari 2 sampai 5 orang per team tergantung dari beban proyek yang mereka kerjakan. Bimo menjabat sebagai supervisor yang bertugas sebagai leader untuk semua team tersebut memeriksa setiap detail pengajuan produk untuk selanjutnya dipromosikan keperusahaan yang membutuhkan.


Tugas utama Reyna sebagai asisten Bimo adalah mereview setiap proposal proyek yang diajukan oleh masing-masing team sesuai dengan permintaan dari konsumen.


Setelah diajak Bimo berkeliling kantor, Reyna segera duduk dimeja samping Bimo untuk memulai pekerjaannnya.


bla bla bla bla bla


Bimo menjelaskan apa saja yang harus dikerjakannya..cukup banyak.. dan banyak , bukan yang jelas banyak sekali karena Reyna harus mengerjakan semua pekerjaan yang terkendala selama satu bulan Bimo tanpa asisten.


''Mengerti ya Reyna, sementara tugasmu check ulang proposal ini ya'' Bimo meletakkan setumpuk proposal didepan hidungnya


''Baik Pak Bimo''


''Kok panggil Pak? Aku kan masih muda, belum kelihatan seperti bapak-bapak''


"'Takutnya tidak sopan. Biar sama seperti karyawan lain''


''Khusus kamu boleh panggil Kak''


Reyna membuka mulutnya hendak membantah


''Anggap saja itu perintah. Okay'' Bimo kembali duduk ditempat duduknya semula,meja keduanya berdampingan hanya di batasi sekat kayu.


.


.


.


Tak terasa waktu bergulir, satu persatu karyawan pulang meninggalkan kursi kerja. Punggung Reyna terasa penat, selepas makan siang Bimo juga belum menampakkan kembali batang hidungnya. Selepas makan siang pria tersebut pergi melakukan kunjungan rutin ke beberapa perusahaan.


ting


Satu pesan dari Satria masuk ke ponsel Reyna : on the way


huhhhh bertemu Bimo saja belum masak iya dia harus pulang lebih dulu

__ADS_1


Reyna memutuskan kembali mengutak atik pekerjaannya yang masih segunung.


ting


Satria : aku sudah didepan


Reyna tidak segera membalas pesan Satria, sudah setengah jam lewat dari jam pulang kerja seharusnya. Dia mencari kontak Bimo diponselnya dan melakukan panggilan


"Halo, ya Rey?"


"Aku boleh pulang nggak Kak?"


"Ohh boleh, boleh kok"


"Ok bye Kak"


Di pelataran kantor terlihat Satria bersandar di mobil dengan rokok terselip di bibirnya.


"Lama amat" sungutnya "Terlalu tuh Si Bimo, karyawan baru dibikin lembur" lanjutnya sambil membuang puntung rokok dan menginjaknya


"Kak Bimo sendiri belum pulang Mas" sahut Reyna langsung masuk ke dalam mobil.


.


.


.


Tak terasa sudah satu bulan lamanya Reyna bekerja di perusahaan Bimo, berkat bimbingannya Reyna cukup handal menguasai pekerjaannya. Dikala senggang dia ikut dengan Bimo untuk melakukan kunjungan rutin ke beberapa perusahaan pengguna produk mereka, Reyna akui kemampuan Bimo dalam bernegosisasi konsumennya.


Hari ini adalah hari dia menerima gaji pertamanya, Reyna berniat untuk mentraktir Satria makan malam dan langsung diiyakan.


"Kak, nanti aku pulang on time ya gajian nih" rajuknya


"Bolehhh...yuk barengan sama Mas Satria, ini juga pulang cepet karena janjian Mas Satria traktir makan malam"


Bimo tersenyum lebar dan mengacungkan jempolnya.


---


Sudah satu jam lewat dari waktu pulang kerja tapi Satria tak kunjung datang, Bimo dan Reyna masih setia menunggu selagi menyelesaikan pekerjaan mereka. Reyna sudah berusaha menghubungi ponsel Satria tapi tidak terhubung sepertinya ponsel Satria tidak aktif.


"Kak...aku lapar, kita duluan ketempat makan yuk, ntar biar Mas Satria nyusul"


Bimo mengangguk ''Sebentar tanggung'' jemarinya masih berselancar di keypad laptopnya.


Reyna berdiri dan menutup paksa laptop Bimo ''Ayo Bapak Bimo, saya buas lho kalau kelaparan'' Reyna merajuk sambil mengelus-ngelus perutnya yang kelaparan.


Di perjalanan Reyna mengirimkan pesan untuk Satria agar segera menuju ke tempat makan. Cukup lama mereka menunggu Satria namun yang ditunggu tak kunjung tiba hingga mereka memutuskan untuk makan lebih dahulu.


"Rey, termakasih ya" ucap Bimo disela-sela makan.


"Iya,,asal nggak tiap gajian aja minta traktir"


"Maksudku makasih sudah bantuin aku,kamu asisten idaman deh Rey. Jangan kepikiran resign"


"Ohh..bisa nih naik gaji bulan depan" Reyna nyengir-nyengir kuda


Bimo hanya memonyongkan bibirnya

__ADS_1


"Beneran deh Rey, emm ..rekor terlama asistenku itu 4 bulan, parah ya'' Bimo tergelak ''Aku dengar dari anak-anak mereka aku galak, cerewet, kasar, suka marah-marah" lanjutnya


"Memang" jawab Rey cepat


"Oh ya, tapi aku lihat kamu baik-baik saja selama ini"


"Dinikmatin aja...So What?''  Reyna mengedikkan bahu ''Lebih galak Mas Satria daripada Kak Bimo"


Bimo menatap takjub wanita didepannya, sebulan ini Reyna hanya manggut-manggut jika dia mengkritik hasil kerjanya. Tak pernah dia tampakkan muka marah maupun membangkang. Wanita ini hanya menganggap omelannya layaknya angin lalu. Semua pekerjaan akan dia sempurnakan seperti yang dia minta, tak jarang Reyna membawa pulang pekerjaan yang tak sempat ia selesaikan karena Satria selalu menjemputnya setiap hari.


Bimo masih menatap lekat-lekat Reyna, meskipun sebulan mereka intens bertemu di jam kerja tapi mereka jarang sekali berbicara diluar urusan pekerjaan, jam makan siangpun lebih dipilih Reyna untuk makan dengan karyawati lain selebihnya tidur siang dimeja kerja.


Baru sekarang Bimo menyadari paras manis Reyna dibingkai dengan rambutnya bergelombang. Tak perlu make up tebal kulit wajah Reyna mulus tanpa noda ,pipinya sedikit chubby, alis matanya tegas alami. Matanya yang bulat makin menantang dengan eye liner hitam, bibirnya sesekali dia poles dengan perona warna natural.


Reyna berbeda dengan wanita-wanita yang dia kenal selama ini. Untuk selera bajupun Reyna hanya cukup dengan baju-baju kasual jauh dari kata seksi meskipun ehmmm Bimo yakin lekukan tubuh Reyna pasti menggiurkan jika lebih sedikit terekspos.


Pernah Bimo memergoki bagian menonjol tubuh Reyna yang  terlihat karena lupa menautkan kancing kemejanya.


Bahkan seharian Reyna membuatnya tak fokus bekerja karena jeans yang ia pakai menonjolkan bagian belakang tubuhnya yang indah.


Ahhhh kenapa pikirannya tiba-tiba menjadi tidak-tidak.


Reyna sedari tadi tidak menyadari bahwa dirinya sedang ditelanjangi oleh tatapan Bimo, dia gelisah memikirkan Satria yang tak kunjung bisa dihubungi. Selama satu bulan Satria tidak pernah terlambat menjemputnya.


"Hai bro..." panggilan itu membuyarkan lamunan Bimo, ia mendongak dan Reyna menoleh ke asal suara


Andre!


Seringai khas Andre tersungging saat melihat Reyna.


"Ohhh gini nggak ajak-ajak kamu Bim. Diam-diam kamu dekati juga nih bocah" Andre menarik kursi di meja sebelah menjajari Reyna dan tangannya dia rentangkan ke kursi belakang Reyna. Reyna yang merasa risih segera berdiri berpindah meja dan melipat kedua tangan didepan dada menunjukan sikap defensifnya.


"Reyna sekarang kerja sama aku Ndre, jadi asisten aku''


''Pagi asisten,sorenya kencan?'' ledek Andre


''Bukan, kita juga lagi nunggu Satria gabung'' Bimo menyodorkan rokok ke arah Andre ''Kamu sendiri?" tanya Bimo.


"Iya" Andre masih melirik ke Reyna "Bagi nomor Reyna dong Bim, dia nggak bakal kasih kalau aku yang minta"


Serta merta Reyna mendelik ke arah Andre lalu menatap Bimo dengan sinis.


"Minta aja sama kakaknya. Takut aku ah kalau dia ngambek trus kabur repot aku. Jarang-jarang nih dapet asisten idaman macam dia" seloroh Bimo terbahak.


Reyna mengabaikan dua pria itu dan merogoh tas mengambil ponselnya yang berdering


"Hall.."


"Dimana!" bentak pria di ujung sana


"Kok Mas malah marah-marah, baca pesanku dulu" balas Reyna membentak galak lalu mematikan panggilan itu.


Tak lama berselang ponsel Bimo ganti berdering, dengan malas Bimo menerima panggilan tersebut. Bisa terdengar ditelinga Reyna teriakan pria diseberang sana.


"Iya Sattt ******* aku anterin sekarang!" jawabnya


"


Yuk Rey, satpam kamu sudah marah-marah, cabut dulu Ndre!" Bimo menepuk pundak Andre

__ADS_1


"Aku aja yang antar Reyna pulang" canda Andre


"Sudah bosan hidup kamu Ndre" Bimo menggelengkan kepalanya malas.


__ADS_2