Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
54. Kongsi


__ADS_3

Akhir-akhir ini Bram jarang menemui Reyna di area konveksi, padahal biasanya laki-laki itu sering wira-wiri menemuinya di jam makan siang.


Reyna tak terlalu mengkhawatirkan karena Bram masih menyempatkan waktunya beberapa hari dalam sepekan untuk berkunjung ke rumahnya diwaktu malam untuk bertemu dan bermain dengan Dewa.


Seperti malam ini Bram datang dengan wajah lelahnya. Dewa buatnya adalah obat yang tak berkesudahan, penatnya seakan hilang saat bertemu dengannya.


"Sejak kapan Rey dia jelas memanggilku Papa Iyo?" tanya Bram menggebu


"Beberapa hari ini, mungkin dia kangen, Mas tambah sibuk saja?"


Bram tak mengalihkan pandangannya dari Dewa, dengan gemas ia menggelitik tubuh kecil itu dan memintanya memanggilnya lagi.


"Panggil Papa lagi Dewa.. ayolah.. " bujuknya tak henti


"Mas...?! " Reyna menaikkan nada suaranya merasa diacuhkan


"Ehmmm..." Bram mengambil mainan meletakkan dalam genggaman Dewa dan beringsut mendekati Reyna


"Kerik Rey..., badanku nggak enak" dilepaskan kemeja kerjanya dan duduk bersila di sofa


"Mas kok sibuk terus, padahal order tidak sedang overload?"


Bram mendesah


"Tenang..aku tidak macam-macam"


Gerakan tangan Reyna terhenti, terdengar dengusan pendek "Iya aku tahu, pasti ketahuan kalau Mas macam-macam" Sejak kapan kerikan itu terasa menyakitkan dipunggungnya "Awas kalau berani!" sambung perempuan itu sinis


"Aku dan calon suami Bianca ada side job, ehm bisa jadi nanti aku mandiri dengan usahaku sendiri Rey, nggak selamanya aku tergantung dari Linda, toh nanti Bianca akan ambil alih lagi posisiku"


"Sibuk cuma diawal-awal kok nanti juga aku bisa punya waktu lagi untuk kami dan Dewa" jelas Bimo panjang lebar


"Tapi.. " Reyna menjeda

__ADS_1


"Aku yakin kamu akan berfikir jika nanti kuboyong kau ke Singapura" Bram menoleh menatap wanita yang sedang melipat bibir


"Aku ingin menetap disini.. Aku capek bekerja dengan orang, aku ingin punya usaha sendiri Rey"


"Aku cuma khawatir Mas sakit, kalau sekiranya capek nggak perlu kesini dulu. Langsung pulang, kita kan bisa ketemu weekend"


"Jaga tubuhmu Mas"


Bram merasakan pijitan ditengkuknya


"Nggak apa-apa kok, lagian aku kangen Dewa. Bisa termimpi-mimpi kalau sehari saja nggak ketemu dia Rey"


"Ooo... kangennya cuma sama Dewa.." Rey menghentikan pijitannya


Bram berbalik dan menatap Reyna jahil


"Kalau sama mamanya kangennya lain, mimpinya juga lain" Bram terkekeh


"Aku lalukan ini demi masa depan kita, sebentar lagi anakku dua Rey"


Reyna memandang Bram seksama


"Wajar kan Rey aku menginginkan teman untuk Dewa, memang kamu tidak tertarik bikin anak sama aku??" alis Bram naik turun menggoda


Bram mengaduh saat cubitan Reyna mendarat di perutnya.


"Mas Bram perutnya tambah buncit" goda Rey


"Ohya?..tapi agak sakit Rey disini nih" Bram memegang perut kanannya "Tubuhku juga gampang capek" keluhnya


"Yahh.. maklumlah sudah tua... " ledek Reyna


.

__ADS_1


.


.


Bram makin menggila dengan bisnis barunya,dia selalu bercerita dengan senang saat Reyna bertanya perkembangannya.


"Designer untuk outletku nanti masih muda Rey, aku sudah beberapa kali bertemu dengannya. Hanya tinggal tahap seleksi saja mana design pilihan untuk pemasaran perdana"


"Bukannya aku mau ikut campur Mas, tapi pilihlah tempat bertemu yang tidak mengganggu kesehatanmu. Mas pasti paham maksudku kan?"


Pertanyaan Reyna membuat Bram terdiam. Reyna memang bukan wanita yang mudah dibodohi. Hidung Reyna selalu bisa mencium bekas alkohol


meskipun bau asap rokok lebih mendominasi.


Sialnya lagi entah kenapa Bram selalu menyambangi rumahnya setiap kali dia habis menegak alkohol. Dan berakhir dengan pengusiran dirinya.


"Ehmm.. kau tahu lah Rey, laki-laki. Waktu temuku rata-rata dimalam hari, kalau bukan kafe ya kelab malam. Alkohol hanya pelengkap, ya kadang ide itu datang disaat kewarasan menghilang..tenang saja"


Tiba-tiba Reyna teringat dengan cerita Satria, terkadang pria itu memang menyambangi kelab malam saat menemui klien-kliennya.


"Oke, tapi jangan berlebihan. Aku tidak mau punya suami alkoholik" Reyna mempertegas ucapannya


"Hemm ya, kadang memang aku berlebihan. Sudah ya jangan marah" Bram mengelus halus pipi Reyna


"Sebaiknya kau bantu persiapan pernikahan Bianca agar tidak terlalu mengkhawatirkanku. Aku sudah bilang padanya aku tak bisa bantu banyak"


Reyna mengangguk, 3 bulan lagi Bianca akan menikah.


Dia sudah berjanji untuk membantu sebisanya, calon suami Bianca sudah menyerahkan semuanya ke Bianca karena sama halnya dengan Bram mereka berdua justru disibukkan dengan persiapan pembukaan outlet otomotifnya.


Sesudah menikah Bianca akan kembali ke kota ini, Bianca akan kembali keposisi semula, membantu mengelola butik. Sedangkan suaminya akan berjibaku membesarkan outlet kasil kerja sama dengan Bram.


Tak ada salahnya Reyna mengalah sesaat untuk memberikan Bram ruang daripada dia harus diboyong pria itu kembali bergelut dinegara tetangga.

__ADS_1


__ADS_2