Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
32. Panas


__ADS_3

Langkah Bimo makin berat dan terseok saat memasuki lobi hotel, belum lagi tangannya harus mengamit erat lengan Reyna yang sudah mulai oleng jalannya.


Keduanya masih bisa meraup kesadaran meskipun raga berasa melayang terbang, masih mengingat dilantai berapa mereka harus turun, Reyna mengeluarkan cardlock kamar dari dalam tas tangannya, matanya nanar mencari angka yang sepadan.


Reyna menghambur masuk kamar dan menghempaskan tubuhnya di sofa. Entah kenapa malam segalanya terasa menyenangkan,dia merasa sangat bahagia, dia mengerjab-ngerjabkan matanya melihat Bimo berjalan kearahnya.


"Are you okay Rey?" tanyanya sambil menegakkan Reyna untuk duduk.


"I'm fine!" Reyna mengibaskan tangannya perlahan, kakinya ia angkat ke meja


arghhhh kepalanya terasa berputar


"Kenapa tadi kau nekat meminumnya" Bimo menurunkan kaki Reyna dari meja, paha mulusnya terlihat jelas dari balik dresa yang ia kenakan.


"Nakalllll.." didorongnya kening itu perlahan


"Aku bantuin Kak Bimo....biar kita cepat pulang!" sewot Reyna "Lagian aku dah jijik dipegang-pegang... ichhh"


Tubuh Reyna kembali melorot kebawah, matanya terasa berat karena pening


"Pusing..Kak Bimo nggak pusing??"


Bimo melangkah menuju kulkas mengambil 2 botol air mineral dingin, disodorkannya satu botol untuk Reyna

__ADS_1


"Banyaklah minum biar kepalamu tak pusing" Reyna mengangguk dan menegak habis minumannya


"Gini ya Kak rasanya mabuk??? heran aku apa enaknya minuman itu!" Reyna mulai meracau


Bimo diam tak ingin menanggapi , dia hanya ingin segera pergi jauh dari Reyna sebelum BAHAYA mengancam


"Istirahat!" perintah Bimo singkat setelah mengecup kening Reyna


Bimo berjalan menuju pintu, ketika tangannya hendak memegang handle pintu, tiba-tiba dari belakang Reyna memeluknya.


Bimo berbalik memandang gadisnya itu yang sedang menyentuh bibir merahnya dengan telunjuk


"Kak Bimo lupa"


Bimo tersenyum, dia menundukkan wajahnya mencium lembut bibir itu.


"Tidur" perintahnya


Reyna menggeleng


"Lagi Kak" disentuhnya bibir Bimo


Ahh apa-apaan kau Rey ,entah keberanian dari mana,bisa-bisanya selepas itu batin Reyna bergejolak

__ADS_1


Bimo ******* bibir itu cukup lama


Stop Bimo,keluar!


Bimo melepaskan pagutan itu tapi tak disangka tangan Reyna melingkar di lehernya , gadis itu mencondongkan tubuhnya hingga Bimo limbung kebelakang menekan pintu cukup keras


terkunci


Bimo melepaskan dua kancing bajunya, suhu badannya mulai naik, isi otaknya mulai susah dikendalikannya. Racun alkohol mulai memasuki pembuluh darah dan merasuk meracuni otak kotornya. Bibirnya tak lepas dari bibir merah itu, lidahnya mulai menyapu bagian dalam mulut Reyna.


Tangannya mulai merambat ke bagian bawah belakang tubuh Reyna yang menurutnya paling menarik, lama mereka bermasyuk dibalik pintu kamar. Desahan dari bibir keduanya bersahutan dikeheningan kamar.


Reyna benar-benar diluar kendali,entah saat ini sisi warasnya bersembunyi entah kemana. Dia hanya mengikuti keinginan dari tiap untaian syaraf dan tiap jengkal bagian badannya. Bahkan dia tidak menyadari saat dirinya telah tidur terlentang diranjang tanpa sehelai kain


Dia nikmati tiap perlakuan Bimo, erangan demi erangan tanpa malu-malu dia lepaskan begitu saja. Lidah Bimo berpindah cepat dari telinga, leher dan mulai turun kedadanya menimbulkan efek lebih dashyat ketimbang hanya segelas alkohol baginya.


Entah apa yang dilakukan Bimo dengan pusat tubuhnya dibawah sana, sensasi itu begitu memabukkan dan membawa dirinya bagai terbang ke awang-awang.


Bimo merangkak naik keatas tubuhnya, tak lama Reyna rasakan bagian bawahnya yang seakan tersayat saat tubuhnya dimasuki, Bimo menahan tubuhnya saat Reyna menggeliat hendak melepaskan pertautan tubuhnya.


"Please Reyna, jangan lepas, please... " pinta pria itu memelas sambil menciuminya tanpa henti.


Dorongan yang semula pelan masih terasa menyakitinya, sentuhan dan rayuan Bimo membuatnya melupakan kesakitan itu. Hingga akhirnya Reyna menikmati tiap gerakan dan hentakan tubuh Bimo.

__ADS_1


Reyna makin meracau tak jelas disetiap gelenyar kenikmatan ia rasakan ditubuhnya. Jelas terdengar mulut Bimo memanggil namanya dalam tiap desahan.


Keduanya tersenyum saling memandang setelah semburan hangat mengakhiri pergumulan itu. Keduanya begitu rileks hingga tertidur kelelahan dengan posisi berpelukan.


__ADS_2