
Reyna masih bergelung dalam selimut saat mendengar ketukan dipintunya
"Mbak Reyna, simbok masuk ya?"
Setelah menutup pintu rapat Mbok Sri duduk ditepi ranjang
Kepingan itu masih tergenggam di tangan Reyna sejak pagi buta . Mbok Sri hanya memandang bingung dan kembali menatap Reyna
"Maksudnya gimana ya mbak Reyna?" tanyanya polos
"Reyna hamil mbok" sahutnya gemas ditahannya suaranya sepelan mungkin
"Oaaalaaahhhh..., lha simbok nggak ngerti, tahunya kalau positif itu ya tanda ples gitu Mbak'' jemari wanita itu membentuk palang "'Duhhh senengnya bentar lagi rumah ini rame"
"Simbok jangan bilang siapa-siapa ya" Reyna menaruh jari telunjuk dimulutnya
"Lohhh Mbak Reyna itu gimana, kabar bahagia kok diumpetin"
"Reyna takut mbok"
"Takut apa??"
Reyna mendengus
__ADS_1
"Takut sama Mas Gandhi, takut kalau-kalau Reyna disuruh menggugurkan"
"Ya Alloh Mbak Reyna kok mikirnya gitu, amit-amit"
"Mbokk.. Reyna serius, Mas Gandhi sampe kurung Reyna begini karena nggak suka sama bapaknya anak ini" bohong Rey sebagian, benar Gandhi membenci Satria tapi bukan dia penabur benih calon anaknya
Mbok Sri menatap Reyna bingung lalu hanya menggangguk saja
"Mbak Reyna kalau pengen apa-apa bilang simbok ya, jangan ditahan-tahan nanti anaknya kalau gede ileran"
.
.
.
Malam ketika makan malam
"Mas Gandhi, 2 minggu lagi Reyna sudah boleh keluar bukan?"
"Hemm..kau mau kemana?"
"Aku mau urus surat keterangan kerjaku Mas, Reyna mau cari kerja lagi"
__ADS_1
Mas Gandhi menghentikan makannya
"Kemanapun asal jangan ke kota itu, atau kau harus disini lebih lama" ancamnya
Reyna menunduk, lebih lama tidak dan tidak akan pernah , perutnya makin lama makin membesar dia butuh tempat untuk pergi hingga dia melahirkan dan hanya Bimo tujuannya
Gandhi masuk ke kamar Reyna setelah makan malam berakhir, mematikan televisi dan duduk ditepi ranjang, ia menggenggam tangan wanita itu dan menyodorkan benda miliknya.
Mata Reyna membelalak dan bibirnya tersungging senyum lebar, dia ingin sekali berjingkrak jika tidak ingat ada janin diperutnya.
"Mantan suamimu memohon memberikan padamu waktu itu" sebegitu bencikah dia hingga tak menyebut nama Satria
"Makasih Mas" serunya tak peduli
Reyna tergesa membuka tas kecilnya yang hanya ada ponsel dan dompetnya, terburu dia menghidupkan ponselnya.
Gandhi belum beranjak pergi sengaja menunggu reaksi Reyna selanjutnya, ia sodorkan sekeping benda kecil saat melihat raut muka Reyna murung
"Nomor lamamu aku buang, ini sudah kubelikan nomor baru"
Reyna pasrah saja menerima benda keping kecil itu dan memasangkan ke ponselnya.
"Aku sudah meminta pendapat Bapak dan May, sementara kau akan tinggal di rumah May sampai kau dapat pekerjaan dikota yang sama. Kami hanya mau memastikan kau baik-baik saja Reyna" Gandhi lalu beranjak pergi
__ADS_1
Reyna membanting bantalnya dengan kasar. Perlakuan Gandhi membuat darahnya mendidih, tidak hanya semena-mena mengatur hidupnya, SIM card lama yang dihilangkan, semua aplikasi media sosialnya dihapus dari ponselnya.
Otak Reyna berpikir keras mencari cara untuk bisa menghubungi Bimo. Dia menaik turunkan daftar kontak yang masih tersimpan di ponselnya berharap nomor Satria atau Bimo tersimpan disana, tapi sia-sia. Matanya membelalak dan tersenyum lega ketika nama Bianca terpampang disana. Setidaknya malam ini dia bisa tidur sedikit tenang dan memikirkan langkah selanjutnya esok.