Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
94. Damai


__ADS_3

Reyna masih bersungut-sungut saat memasuki mobil, ia memilih duduk dikursi penumpang belakang dan membujuk Dewa duduk didepan disebelah Bimo. Ketiganya meluncur meninggalkan kebun strawberry melanjutkan perjalanan ke tujuan utama.


Bimo memilih pondokan paling ujung , paling besar dan yang jelas jauh dari keramaian. Reyna membantu Bimo menurunkan beberapa barang bawaan dan membawanya masuk ke pondokan, Reyna terperangah saat melihat jendela kaca lebar tanpa penghalang menghadap ke hutan pinus dengan deretan pohon yang menjulang tinggi, menawarkan pemandangan alam yang kontras untuk mereka  yang  tiap harinya bergelut dengan kehidupan kota.


Hawa dingin menusuk kulitnya yang sudah tidak memakai jaket, tentu saja tidak membutuhkan AC namun  masih cukup sejuk dan nyaman. Reyna kembali berkeliling pondokan, dapur yang minimalis dengan kulkas kecil di sudut, ia temukan beberapa bahan untuk barbeque disana termasuk panggangan dengan bahan bakar batu arang.


''Nanti malam kita bakar-bakaran ya Dewa'' seru Bimo mendudukan bocah kecil yang nampak kelelahan di meja makan.


''Dewa mau tidur?''tawar Reyna


''Enggak'' bocah kecil itu menggeleng pelan


''Nggak usah Rey, nanggung bentar lagi gelap kok'' Bimo menggeliat meluruskan punggungnya ''Temani ayah siapin kayu bakar yuk, kita bikin api unggun nanti''


.


.

__ADS_1


.


Matahari mulai meredupkan sinarnya, Reyna yang sedari tadi bermalasan di depan televisi beranjak mengambil jaket dan berjalan ke arah depan pondok. Menatap ke arah bawah, Dewa dan Bimo masih asik menata kayu dan ranting.


''Dewa mandi dulu nak, habis ini kita makan'' teriak Rey dari atas


Bimo melempar potongan kecil kayu dan bergegas menyusul Dewa yang lebih dahulu menaiki tangga


''Biar aku yang mandikan Dewa, minta tolong siapin bahan-bahan di dapur ya'' pintanya


Reyna menggangguk dan menuju dapur menyiapkan semua bahan untuk pesta barbeque di area halaman, cukup banyak bahan yang ia siapkan hingga membuat tubuhnya berpeluh.


''Tunggu mama dulu ya Dewa, mama masih bau asem'' Dewa hanya tertawa terbahak dan senyum mengejek


''Dingin Kak?'' Reyna masih enggan masuk ke kamar mandi


''Kan ada air panasnya Rey''

__ADS_1


''Tetap saja nanti dingin lagi'' Reyna menarik lagi kakinya dari lantai kamar mandi


''Ya nanti aku angetin kalau kamu kedinginan'' seloroh Bimo cuek sambil memakai sweaternya, mengerling nakal ke arah Reyna.


Reyna membelalak dan buru-buru masuk ke kamar mandi, bulu kuduknya berdiri seketika melihat seringai mesum dari bibir Bimo.


Reyna mengisi bath up dengan air panas mencampurnya sedikit dengan air dingin dan mulai merendam tubuhnya.


Alih-alih berniat mandi bebek ternyata Reyna menikmati aktivitasnya sekarang, justru sekarang ia enggan beranjak dari hangatnya bath up.


- - -


Teriakan Dewa disusul tawa terbahak terdengar dari depan pondok, nampak nyala dari pucuk api unggun dari tempatnya berdiri saat ini. Reyna buru-buru memakai sweater tebalnya tak lupa kaos kaki, api unggun baginya tak cukup untuk menghangatkan dirinya.


''Dewa udah nggak sabar, lagian kamu lama banget mandinya'' Bimo mengambil kantong berisi arang untuk ia tuang ke pemanggangan, memantik api di selembar koran dan membiarkan arang terbakar.


Dengan cekatan Bimo mengulur kabel rol dan mulai sibuk mengarahkan kipas angin ke pemanggangan saat bara mulai menyala.

__ADS_1


Reyna bergegas menyusun jagung, sosis, udang dan berbagai bahan lainnya. Tak lama ketiganya duduk beralas tikar pandan didepan api unggun.


Suara jangkrik bersahutan menemani mereka menyantap hidangan dan menikmati malam yang sangat damai.


__ADS_2