Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
81. Firasat


__ADS_3

Dua minggu berlalu setelah Bram dirawat di rumah, hari ini Bram dijadwalkan ke rumah sakit untuk menyedot cairan yang membuat livernya bengkak, kondisinya menurun drastis sesudah itu. Bram sudah jarang berbicara, hanya kata-kata pendek saja yang keluar dari mulutnya.


Reyna menopang dagunya dengan kedua tangan melihat tubuh terbujur lemah di pembaringan, sekuat hati menahan agar air matanya tidak menetes.


Bram membuka mata, tangannya melambai meminta Reyna mendekat. Berbisik pelan di telinganya


''Aku bermimpi lagi''


''Mas Bram mimpi apa?"


''Anakku?''


''Dewa? kalau Mas Bram kangen nanti aku bawa Dewa kesini''


Bram menggeleng dan menunjuk koper besar di depan almari, koper yang ia bawa saat pulang dari Singapura. Reyna membuka koper dan nampak pigura kecil berisi foto Bram dengan wanita yang memangku anak kecil. Hatinya berdesir melihat kecantikan Chintya mantan istri Bram.


Pigura itu diserahkan pada Bram yang kemudian dipeluknya erat depan dada


''Sudah sebulan ini aku bermimpi'' dadanya naik turun menata ritme napasnya


''Tadi malam dia datang lagi'' Bram menyunggingkan senyum


''Dia tarik tangan aku,,,,mengajakku pergi''


Hati Reyna berdebar kencang, tengkuknya terasa dingin seperti dihembus angin pinggir pantai


''Itu cuma bunga tidur Mas, mungkin Mas kangen Dewa lama tidak main'' Reyna mengambil lagi foto itu dan menaruhnya di nakas


''Sudah malam Reyna, pulanglah'' suruh Bram


''Ini masih sore Mas, sebentar lagi''


''Oh ya, aku merasa jam bergerak makin cepat dari biasanya'' Bram mendesah


''Kamu sudah berbaikan dengannya?''


''Kok Mas Bram tanya itu''

__ADS_1


''Kamu jangan egois, dia ayah Dewa''


''Mas Bram papanya Dewa''


''Kalau aku nanti tidak ada bagaimana?''


Reyna tersentak


''Mas Bram nggak boleh bilang gitu, nggak baik''


''Anggap saja itu permintaan terakhirku''


Reyna memilih tidak melanjutkan perdebatan itu


.


.


.


Ia bermimpi berlarian ditepi pantai bersama Bram, meskipun ia telah berusaha berlari sekencang mungkin tapi tetap saja langkahnya tertinggal jauh. Bram hanya tersenyum sambil melambaikan tangan hingga hanya tinggal bayangannya saja yang terlihat.


Reyna beringsut kembali ke kamar dan tak berani mematikan lampunya, arghh sejak kapan dia menjadi penakut seperti ini. Jemarinya mulai memainkan ponsel di tangannya, terhenti saat melihat status dari Bimo yang memajang foto Dewa, sejenak ia teringat dengan pesan dari Bram.


ting, tiba-tiba ada pesan masuk dari Bimo


''Belum tidur?''


''Terbangun'' jawabnya singkat


Tak disangka Bimo langsung meneleponnya


''Dewa sakit?'' kata pertama yang ia ucapkan


''Enggak''


''Kamu sakit?''

__ADS_1


''Enggak''


''Trus''


''Kebangun''


''Kenapa''


''Nggak apa-apa''


''Ya sudah tidur lagi''


''Nggak bisa''


''Rey..''


''Hemm..''


''Aku temenin..''


''Eh?''


''Jangan kamu matiin telponnya, kalau mau ngomong ya ngomong saja''


''Kak Bimo kok belum tidur'' eh ini pertama sejak dia marah dan memanggil Bimo lagi dengan sebutan Kak, entahlah mungkin memang sudah saatnya


sepi


''Kak?''


''Oh eh apa?,,Ah iya sama aku juga terbangun'' Bimo menjawab tergagap


dan entah berapa lama mereka berbincang hal tidak penting hingga tertidur sampai pembicaraan berhenti karena baterai ponsel keduanya habis.


Reyna merasakan kepalanya terasa pusing saat terbangun, ia masih memikirkan kata-kata Bram hingga membuatnya tak nyaman saat berkerja.


Hatinya bertambah gundah saat ia menceritakan semuanya pada Bianca soal semalam. Tak hanya soal merasakan perubahan sikap Bram yang makin aneh, Bianca dan Linda juga bermimpi hal yang serupa.

__ADS_1


__ADS_2