Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
79. Rara


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam saat Reyna mengakhiri video call dengan Bimo, sudah saatnya Dewa tidur dan nampaknya bocah itu sangat kelelahan pulang dari salah satu pusat perbelanjaan.


Masih terbayang raut wajah Dewa yang gembira berjingkrakan saat memperlihatkan koleksi mainan barunya, berkali-kali ia ciumi Opa Alex.


Reyna kembali masuk ke ruang bercat serba putih di ujung lorong, senyum tipis Bram menyambutnya saat pintu terbuka lebar.


"Aku kangen Dewa, kenapa tak kau ijinkan aku melihatnya barang sebentar"


"Besok saja aku bawa Dewa kalau Mas sudah dirumah" Reyna mengelak, ia tak membicarakan soal acara menginap di rumah Alex demi menjaga perasaan Bram.


Lama keduanya berbincang meskipun beberapa kali Bram mengeluhkan sesak napas dan Reyna membantunya memasangkan selang oksigen. Reyna juga bercerita bahwa ia telah mangabarkan kondisi mereka saat ini pada Gandhi dan May.


"Aku ngantuk Rey" Bram memejamkan mata sambil menepuk nepuk punggung tangan Reyna.


Reyna menarik selimut hingga ke dada pria itu kemudian beringsut ke sofa, kantuk belum juga datang karena ia tertidur lama tadi siang.


Pikirannya melayang kembali ke pembicaraan dia dengan Gandhi senja tadi dilobi rumah sakit. Gandhi cemas lantaran tidak mendapatkan respon dari Bram padahal tanggal baik menanti mereka kurang dari dua bulan.


Dengan berat hati Reyna menjelaskan kondisi kesehatan Bram saat ini


flash back


"Aku akan kesana Reyna"


"Jangan dulu Mas, besok saja kalau Mas Bram sudah dirumah"


"Kamu tak apa Rey"


"Mas pikir?" dengusan kasar terdengar di telinga Gandhi


"Jadi belum ada kabar untuk pendonor?"


"Belum, aku bahkan tak berani berharap"

__ADS_1


"Jangan putus asa Reyna.. "


.


.


.


Reyna berada di rumah sakit 24 jam penuh, dia baru beranjak pergi ketika suami Bianca menyanggupi berjaga malam kali ini.


Reyna beralasan tidak ada yang menjaga Dewa karena Bimo akan pulang malam ini.


Kepulangan Reyna disambut hingar bingar oleh Dewa, pipinya dihujani ciuman kecil.


"Ewa uka umah opa, ecok cana lagi"celotehnya


"Ada Lala antikkk.. ewa ukaa.. " lanjutnya


Reyna menoleh kearah Bimo menaikkan alisnya, Bimo hanya menggaruk-garuk kepalanya.


Mengkode Reyna untuk duduk disebelahnya


"Siapa tadi yang cantik??" tanya Reyna penuh selidik "Lala??? "


"Rara" Bimo membenarkan


Reyna terdiam sejenak lalu melipat tangannya kedepan dada


"Harusnya kamu minta ijin dulu padaku" sungutnya


"Ijin? Aku nggak sengaja ketemu kok!"


"Halah alasan, ini terlalu cepat. Biarkan Dewa mengenalmu lebih dulu"

__ADS_1


"Kamu ngomong apa sih Rey? Nggak paham aku"


"Hihhh.. siapa lagi yang aku maksud. Rara pasti pacar kamu kan??" seru Reyna dengan nada tinggi


"Aaoooowwww!!! " Reyna berteriak kesakitan saat keningnya disentil telunjuk Bimo


"Ngawur kamu Rey! Rara itu anak Satria! Whoi.. dasar wanita seenaknya menyimpulkan" gerutu Bimo


"Eh.. anak Mas Satria sama.. "


"Iyalah sama Niken sama siapa lagi"


"Duh Dewa kamu nggak diapa-apain kan nak" tiba-tiba Reyna memeluk Dewa membolak balikkan tubuh kecil itu


"Kamu apa-apaan sih Rey" bentak Bimo


Reyna beringsut kembali duduk di sofa


"Ya siapa tahu, emaknya Rara kan nggak suka aku. Kali-kali... "


"Ya enggaklah.." Bimo melempar pelan bantal sofa ke arah Reyna "Kita nggak sengaja ketemu di food court, ya sudah sekalian gabung makan, tadinya Niken juga kaget tapi lama-lama malah suka sama Dewa karena akrab sama Humaira"


"Dewa mirip ayahnya, seleranya bagus ya nak, tahu aja yang bening-bening" Bimo justru terkekeh


"Ohh.. " Reyna hanya manggut-manggut membayangkan wajah Humaira. Jelas bening orang emaknya cantik tapi hah Reyna masih saja sebal jika mengingat pertemuannya dengan wanita itu.


"Rey... " Bimo menyenggol lengan Reyna


"ehmm.. "


"Kalau Rara benar pacar aku.. kamu cemburu?" tanyanya hati-hati


"Bodo!" sahut Reyna sengit sambil berlalu meninggalkannya

__ADS_1


Bimo hanya menggelengkan kepalanya, menyesal dia telah bertanya.


__ADS_2