Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
132. Klepon


__ADS_3

Reyna tetap semangat meski harus bolak balik rumah - kantor - sekolah - rumah - kantor - rumah. Pintar-pintar dia harus berbagi waktu 2 bulan kedepan antara keluarga dan pekerjaan selagi menunggu pegawai baru masuk.


Matahari merangkak naik saat Reyna melajukan mobilnya kembali menuju kantor, setelah sebelumnya Dewa merengek minta diantarkan tidur siang lebih dahulu.


Damn! Lokasi ini yang paling membuat Reyna mengumpat, pasar tradisional yang selalu ramai pengunjung dan berjubel model kendaraan berlalu lalang membuat kemacetan.


Dirinya sempat melihat-lihat barang yang diperjualbelikan disepanjang jalan, entah kenapa tiba-tiba saja ia menginginkan jajanan tradisional yang ia sendiri lupa namanya.


Ah, karena penasaran karena tak jua mengingat nama makanan itu. Reyna memutuskan meminggirkan mobilnya dan memarkirkan bersama deretan mobil lain yang sering ia caci maki saat melalui kawasan itu.


Berjalan tergesa dipanas terik mencari penjual kue tradisional


"Ya mbak cantik mau beli apa?" sapa ibu penjual


"Ehm, kue yang warnanya hijau" Reyna mengedarkan pandangannya


"Putu ayu" tunjuk sang ibu


"Bukan"


"Dadar gulung" lagi menunjuk


"Bukan"


"Mendut"


"Bukan"


"Lapis"

__ADS_1


Ih Reyna mulai kesal, menggeleng pasrah


"Ohh.. ini" si ibu mengambil lemper


"Kue Bu... kue... "


"Lha ini juga kue mbak. Kue basah" si ibu menjawab polos


Reyna mengacak rambutnya


"Nggak ada deh kayaknya.. " ia bergumam


"Yang kaya apa tho Mbak, tak bantu cari. Kayaknya Mbaknya ngidam"


"Ih, si ibu saya itu cuma penasaran namanya apa. Sampe gemes sendiri. Bulat-bulat kecil, kalau digigit keluar manis-manis. trus ada kelapanya"


"Oalahhh... klepon. Mbok ya bilang dari tadi" ibu penjual menjawab dengan logat jawa kental


"Habis, mbaknya kesiangan"


Palu godam mana palu godam!!!!!!


Membanting pintu mobil kencang, awas besok pagi-pagi aku kesini lagi. Jangan sampai dia bilang habis lagi.


.


.


.

__ADS_1


Pagi sekali Reyna sudah melaju menuju pusat keramaian yang paling ia benci. Ia melewatkan sarapan dan hanya sempat mengecup suaminya yang baru bangun dari tidur demi mendapatkan klepon yang bikin gemas sejak kemarin.


Puas menenteng 2 bungkus kotak persegi berisi masing-masing terdiri dari 4 bulatan. Senyum tersungging lebar, berasa artis turun panggung menenteng piala citra.


Akal sehatnya menguap hanya karena penasaran dengan klepon. Hanya membeli benda itu, hanya itu. Bisa jadi tarif parkir mobil lebih mahal dari jajanan ditangannya.


"Mbak Rey, pagi sekali" Sapa OB yang belum juga selesai membersihkan mejanya


"Ehm.. iya mas" segera duduk dan membuka dua bungkus kecil. Matanya berbinar-binar, air liurnya terasa hendak menetes. Dua telapak tangannya bertepuk-tepuk senang.


"Kok cuma dilihatin Mbak" mas OB bertanya keheranan


"Ehm, sebentar dilihat dulu. Kayaknya enakkkkkk banget"


Reyna mengambil sebutir, memakannya hati-hati bagaikan memakan sebutir kaviar. Ehmmm...mulutnya bergerak-gerak, ahh dasar ekspektasi VS realita. Kenapa rasanya menurutnya aneh begini.


"Buat Mas aja" Reyna menyerahkan kantong plastik kepada mas OB lalu mengeluarkan bekalnya.


Beringsut naik kelantai atas hendak mengambil sendok makan. Peralatan makan Pras diletakkan disudut disamping kamar mandi


"Aaaaaaaa.....!!!!!" Reyna berteriak dan menutup matanya dan berbalik


"Eh kamu Rey, ngagetin!" Pras yang keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk dipinggang. Terkejut dengan teriakan wanita yang tiba-tiba muncul di pagi hari


"Kamu itu yang ngagetin! Bilang dong kalau mau keluar kamar mandi!" sewot Reyna


"Ya mana aku tahu. Nggak biasanya kamu datang pagi"


"Ah, buruan pergi sana. Zina mata ini" Reyna kesal menghentak-hentakan kakinya

__ADS_1


Pras menggaruk kepalanya, heran dengan tingkah Reyna.


Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!


__ADS_2