
Reyna dan Bimo berangkat selepas jam makan siang. Masing-masing telah mempersiapkan ransel berisi baju ganti hanya berjaga-jaga jika ada perjamuan lanjutan dimalam hari. Hal yang lumrah untuk proyek bernilai sebesar ini terlebih dengan boss seorang WNA seperti Mr.Kim
Reyna pun mempersiapkan dress sederhana berikut flat shoes dengan heels pendek, pertama kali dia membeli setelan itu. Berdua Reyna dan Bimo dalam satu mobil, divisi humas berangkat dengan mobil terpisah. Jauh dibelakang mereka Pak Alex beserta sopir berangkat.
Ketiganya disambut oleh Pak Andi, Mr.Kim datang selang beberapa saat kemudian. Reyna hanya tersenyum kecut saat punggung tangannya dielus-elus oleh pria paruh baya yang tersenyum menggodanya. Reyna menggeliat risih saat lengannya mulai diraba dan pundaknya hendak dipeluk oleh pria bermata sipit itu.
Penandatangan MOU berjalan lancar, setelah cukup lama berbasa-basi akhirnya Pak Alex berhasil menolak dengan halus tidak bisa menghadiri perjamuan dimalam harinya karena alasan kesehatan. Mewakilkan Bimo dan Reyna sebagai wakil dari divisi marketingnya.
Ketiganya keluar dari gedung secara bersamaan, Pak Alex mengkomando Bimo untuk segera check in ke hotel terdekat dengan lokasi perjamuan.
"Bimo.." panggil Alex sebelum masuk ke mobil
Bimo mendekatkan telinga ke Alex yang mengkodenya untuk mendekat
"Buka dua kamar untuk menjaga nama baik Reyna dikantor, aku tak peduli entah kamar siapa yang akan kalian pakai nantinya"
Rupanya Alex cukup paham dengan perubahan apa yang terjadi pada keduanya hanya dengan melihat muka Bimo dari awal Mr Kim menginginkan kedatangan Reyna dan juga bahasa tubuhnya yang gusar tidak nyaman
Bimo tersenyum kecut
"Dan tolong inj hanya perjamuan, jangan terlalu terbawa suasana atau kau akan bahayakan gadismu itu" Alex menepuk pundak Bimo dan masuk ke mobil
.
.
.
Reyna mematut-matut didepan cermin cukup lama. Dia sadar diri tak terlalu pandai berdandan, hanya menebalkan sedikit bagian-bagian yang kesehariannya dipoles tipis. Bulu matanya yang lentik makin jelas dan tegas dengan maskara, mata bulatnya menantang garang dengan eyeliner yang dia pertegas hingga ujung matanya. Lipstik merah menyala ia pilih untuk menyempurnakan penampilannya. Rambut yang biasanya dia ikat keatas kali ini ia gerai dengan penjepit disamping kedua telinga. Reyna tersenyum-senyum sendiri melihat dirinya memakai dress untuk pertama kali di muka umum, berbeda dengan sehari-hari yang terkadang memakai daster hanya hendak tidur.
Tok Tok
Bimo terbengong takjub saat Reyna membuka pintu, tapi kemudian mulutnya terlipat jengkel.
"Kenapa ada yang aneh?" tanya Reyna takut-takut
"Demi tua bangka itu kau berubah jadi cinderela"
Reyna geleng-geleng kepala, dia selalu teringat si kecil Adam jika Bimo mulai merajuk seperti ini
"Kak Bimo sendiri yang memilihkan baju ini, sepatu ini" Reyna melihat penampilannya yang mirip ibu muda hamil 3 bulan Teringat dua hari yang lalu Bimo sendiri yang mengantarkannya berbelanja. Bahkan Bimo tak mengijinkan Reyna memilih baju dengan lengan pendek dan agak ketat.
Bimo menghambur masuk memeluk pinggang Reyna menutup pintu kamar.
"Kak Bimo mau apa?" selidik Reyna
__ADS_1
"Boleh ya Rey sebentar, bibirmu itu menggoda imanku"
"Ahhh.. jangan macem-macem ah. Susah payah nih dandan.nya"
Tangan Bimo turun menuju bagian belakang tubuh Reyna dan meremasnya gemas
"Kakk.." tangan Reyna mencubit perut Bimo
"Augghhh.."
"Yuk ah aku dah laper"
Cuppp Bimo mencium pipi Reyna cepat
"Nanti pulang minta ini" telunjuknya menunjuk bibir Reyna
"Hemmm..." Reyna mengangguk menyudahi perdebatan
Bimo memarkirkan mobilnya dipelataran bangunan cukup megah berkelap-kelip itu. Reyna membuka kaca mobil menengok kanan kiri bangunan itu. Bangunan itu masih menjadi satu area dengan hotel berbintang 5 yang tegak berdiri dibelakangnya
"Kak, yakin disini?"
Bimo mengangguk
"Tapi Kak.."
Reyna menggenggam erat tangan Bimo, ia memicingkan mata dan menutup telinganya begitu memasuki bangunan itu. Lampu kelap kelip memusingkan , hiruk pikuk suara dentuman lagu memekakkan telinga. Bau rokok dan berbagai wewangian merasuk ke hidungnya. Ratusan orang berjingjrak tak beraturan semakin membuatnya tak habis pikir apa yang orang-orang cari ditempat seperti ini.
Bimo mengamit lengan Reyna melewati kerumunan orang-orang menuju ruang VIP dibagian belakang.
Mr Kim tersenyum lebar saat dua orang itu memasuki ruangan privat yang ia pesan. Tangan Reyna ia sambut genit bahkan tangan yang mulai keriput itu sempat mampir meremas lengan Reyna.
Ada dua wanita cantik yang menggeliat-liat bagai ulet keket dikanan kiri Mr Kim, jijik Reyna melihatnya.
Pak Andi dan Bimo berbasa-basi sepanjang makan malam berlangsung. Reyna tak ambil peduli dengan semua omongan bisnis itu, dia cukup dibingungkan mencicip semua makanan khas Korea yang dihidangkan, semua terasa aneh dilidahnya. Pilihannya jatuh pada gulungan berbentuk semacam sushi, dia lanjutkan dengan mie berisi bermacam sayuran. Ah persetan dengan namanya
Capek-capek dandan dia berharap akan makan steak daging sirloin apa daya hanya mie yang mengganjal perutnya malam ini
Mr Kim menepuk kedua punggung tangan wanita cantik dikanan kirinya menyuruh mereka keluar dari ruangan
Bimo hanya melirik let's start the game batinnya
"I'm so impressed with you Mr Bimo , Mrs Reyna"
Mr Kim menuang segelas minuman menyodorkannya pada Bimo , lalu menuang lagi dan disodorkan pada Reyna.
__ADS_1
"Thank you Mr Kim. Sorry but Mrs Reyna could not take a drink"
"Is it?" mata sipitnya melebar "Just try" paksa Mr Kim
"Let me" Bimo menarik gelas didepan Reyna Bimo. Bimo mengambil botol soft drink dan menyodorkannya ke Reyna
Mr Kim terkekeh "Please..." dia menenggak gelas miliknya tandas tanpa sisa, begitu halnya dengan Bimo dan Pak Andi
"You have to take that glass Mr Bimo" telunjuk Mr Kim menunjuk pada gelas milik Reyna
Bimo tersenyum kecut lalu menegaknya dengan terpaksa
Tak disangka Mr Kim kembali mengisi gelasnya lagi, lagi dan lagi
Ketiganya mulai melanjutkan basa-basi mereka
"This is my home Mr Bimo.." Mr Kim mulai meracau "How about you?"
"It was" sahut Bimo "Now,I'm just social drinker" guraunya
Mr Kim beringsut dan duduk didekat Reyna, menatapnya dengan penuh nafsu. Berusaha merangkul gadis itu dan mendekatkan wajahnya dengan paksa.
Reyna mulai tak nyaman dengan situasi didalam, dia menarik badannya menjauh. Tangannya tanpa sadar mengamit lengan Bimo, Bimo hanya memandang Reyna dan meremas erat punggung tangan Reyna mencoba menenangkannya.
Tiba-tiba Mr Kim tertawa terbahak
"Are you?" telunjuknya bergantian menunjuk Bimo dan Reyna "Seriously? Oh Mr Bimo,I'm so sorry"
Bimo tersenyum dan mengangguk
"Yes, we are going married by couples month Sir" berharap kata-katanya menjadi kenyataan
Mr Kim terbatuk-batuk,berdiri terhuyung mengisi 4 gelas kosong dimeja itu
"I just want Mrs Reyna taste this drink then I will let both of you go" dia menggoyang goyangkan gelasnya melirik nakal ke arah Reyna
Bimo mendesah 2 gelas buatnya belum cukup membuatnya mabuk, toleransi alkohol dalam tubuhnya cukup tinggi melihat sepak terjangnya selama ini. Tidak dengan 2 gelas lagi!!Tapi dia tak akan biarkan Reyna meminum minuman laknat itu
Tak disangka-sangka Reyna berdiri merebut gelas yang baru terisi lalu menenggaknya. Lehernya terasa panas terbakar, lidahnya terasa kelu menahan getir dan pahit yang menerjang.
"Good girl" Mr Kim bertepuk tangan,menegak gelas miliknya "Your turn Mr Bimo" tantangnya
Mau tak mau Bimo menegak gelas miliknya, berbasa-basi sebentar kemudia pamit. Ia harus segera tinggalkan tempat ini sebelum terlambat.
Kedua nya menghambur ke mobil . Bimo menginjak pedal gas dengan kasar.
__ADS_1
"Kakk...pelan" teriak Reyna
Bimo tak memperdulikan teriakan Reyna , rasa hangat mulai menggelegar di tubuhnya kepalanya makin lama makin berat.