Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
43. Sembunyi


__ADS_3

Terdiam, lidah Reyna kelu tak mampu berkata. Kemana Bimo pergi? Rasanya janggal, tidak mungkin pria sengaja pergi meninggalkannya. Tapi kemana ia harus mencari?? Dan apa yang akan ia perbuat setelah harapan akan tanggung jawab Bimo sirna. Pulang dengan kehamilannya???


Tidak! Dia harus mandiri, bekerja menghidupi dirinya dan calon anaknya. Tapi siapa yang mau memperkerjakan wanita hamil???


"Rey, jawab aku!" tanya Bianca dengan gemas


Belum sempat dia jawab dokter masuk dengan suster


"Pagi Ibu Reyna" sapanya


"Saya boleh pulang dok" tanya Reyna to the point


Dokter itu tersenyum, memeriksa kondisi Rey sesaat "Boleh...syaratnya jaga kesehatan,jangan stress ya Ibu. Kasihan janinnya kalau ibunya banyak pikiran"


Dokter dan suster itu keluar ruangan setelah berpesan untuk menghabiskan kantung infus dan menyelesaikan administrasi berikut pengambilan resep berupa vitamin.


Bianca menggeser kursi pengunjung mendudukinya kasar sambil melipat tangan.


"Demi ini kau cari Satria lagi??, aku punya banyak waktu sampai infusmu habis jika kau berkenan bercerita dan masih percaya aku sebagai karibmu"


Reyna masih terdiam, batinnya berperang apakah dia harus melibatkan nama Bimo


arggghh tapi apa pandangan orang seorang istri syah tapi hamil dengan lelaki lain,wanita ******? lantas bagaimana nasib anaknya nanti


Reyna menghela napas panjang dan memulai berbagi cerita bahwa dia nekat pergi dari rumah karena ingin mengabarkan kehamilannya kepada ayah sang janin, berkali-kali dia meminta ampun dengan sang pemberi nyawa dirahimnya secara tidak langsung menunjuk bahwa Satria adalah ayah anaknya


Reyna juga tak ingin bertahan lebih lama di rumah Mbak May karena takut kemungkinan desakan dari keluarganya untuk menggugurkan janinnya karena penolakan Satria dikeluarganya.


Bianca memeluk Reyna erat, dia tak bisa membayangkan jika dia harus mengalami nasib serupa.


.


.


.


Mama Linda memasuki kamar Reyna dimalam hari. Reyna hanya terdiam dia meyakini wanita itu pasti sudah mengetahui semua ceritanya dari Bianca.


Mama Linda mengelus punggung Reyna


"Reyna ingin punya anak sehat ceria kan?" tanyanya sambil tersenyum


Reyna mengangguk pelan


"Mamanya harus sehat juga harus bahagia selama hamil. Tante tahu ini tak mudah.. tapi bukankah kita tak bisa merasakan sesuatu yang menggembirakan kalau kita tidak tahu lebih dulu hal yang menyakitkan"


Punggung tangan Reyna ia genggam,,


"Tante tidak keberatan Reyna disini sampai melahirkan, seperti yang kemarin tante bilang, biar rumah ini ramai"


"Tapi.. Rey nanti hanya menjadi beban, merepotkan" bisik Reyna pelan

__ADS_1


"Kalau lagi-lagi soal uang yang kamu pikirkan kamu bisa kok kerja bantu-bantu Tante, sekalian biar kamu ada aktivitas biar bayimu sehat. Tapi ingat jangan capek-capek. Ya?"


Reyna mengangguk cepat, dia tak punya pilihan lain lagi.


"Makasih banyak tante"


Reyna tak henti-hentinya bersyukur, seperti inikah janji Tuhan yang tak pernah ingkar. "Demi kamu nak, mama janji akan kuat" bisik Reyna sambil mengelus perutnya


.


.


.


Bianca membimbing Reyna menjelaskan porsi pekerjaannya di konveksi, mereka berdua akan bekerja sama. Bianca mencari dan menerima rencana order dari customer butik sedangkan Reyna bertugas untuk mereview, menyiapkan sampel, menghitung setiap sen keuntungan yang akan didapat untuk kemudian bisa diputuskan akan di produksi secara massal


''Kamu bisa Reyna, semangat'' Bianca menepuk-nepuk punggungnya


''Ehm, ya bisa,,bisa kok. Makasih ya Bi..kamu dan tante sudah membantuku'' Reyna kembali murung


''Ehhh..ingat kata Mama, harus bahagiaaa'' Bianca merentangkan tangannya lalu tersenyum lebar


.


.


.


Tubuh Reyna mulai menggendut, gerakan-gerakan aneh dirasakan Reyna dengan makin bertambahnya usia janin. Perasaan haru bahagia dirasakan Reyna, dia bertekat harus bahagia meskipun situasinya tidak seperti ibu-ibu hamil lainnya.


Meskipun tanpa suami Reyna cukup bahagia dengan support Bianca dan mama Linda. Tak sabar ia lewatkan bulan demi bulan untuk segera bertemu dengan malaikat kecilnya.


Hal yang paling ia nanti adalah janji temu dengan dokter kandungan, seperti sore ini. hanya saja kali ini dia sendiri, mama Linda dan Bianca sedang meeting dengan salah satu calon customer butik mereka.


Ia sengaja datang paling awal karena ia tak ingin pulang terlalu malam,deretan kursi antrian masih kosong.


"Nyonya Reyna.." panggil petugas administrasi


"Tumben sendirian Bu?" tanyanya ramah


"Iya mbak" jawab Rey singkat


"Suaminya nggak pernah ikut ya?"mbaknya masih bertanya sambil mendata tensi dan berat badan Reyna


"Luar kota mbak" Reyna asal jawab


Mbak itupun hanya membulatkan mulutnya


Nanya lagi aku timpuk geram Reyna


.

__ADS_1


.


.


Tak sampai satu jam menunggu,sang dokterpun datang. Seperti biasa Reyna naik ke ranjang periksa dan merasakan sensasi geli terkena alat USG diperutnya.


"Sudah masuk bulan 7 ya Bu, adiknya sehat, kita check jenis kelaminnya lagi ya, emm bulan kemarin masih ngumpet ya" kata sang dokter


Tatapannya tak lepas dari layar USG didepannya. Alat bundar diarahkan kesana kemari untuk mencari posisi yang tepat


"Ehhh jagoan Bu. Nih monasnya" dokternya terkekeh "Biar jagain mamanya ya dek" lanjutnya


Tiba-tiba perut Reyna ditendang kuat oleh jabang bayi hingga jelas nampak terlihat jejak tapak kecil di layar, tak terasa air mata bahagia menetes.


"Dok.. saya boleh cuti kerjanya mepet kan ya, 2 minggu sebelum HPL boleh dok?"


"Boleh-boleh saja, asal Ibu masih kuat jangan dipaksa. Ada keluhan lain Ibu?"


"Ehm.. kadang-kadang suka mulas dok. Rasanya hilang tenggelam".


" Ohhh..kontraksi palsu, wajar kok untuk usia 7 bulan" dokter masih sibuk menuliskan resep untuknya, menyodorkan lembaran kertas itu dan tersenyum "Bapaknya diminta hati-hati ya, besok saja kalau sudah 9bulan boleh rajin-rajin menengok, biar lancar persalinannya"


"Eehh..." berharap ya Tuhannn semoga saja segera ditengok ehhh dipertemukan dengan ayah jabang bayi, komat kamit Reyna meminta dalam hati.


.


.


.


Bianca memasuki rumah dengan langkah gontai


"Loh tante mana Bi?"


"Ada janji dengan temannya"


Mengambil duduk disebelah Reyna yang tengah memandangi foto hasil USG, dia ambil alih foto itu dari tangan Reyna, dibolak baliknya lalu dikembalikan lagi.


"Nggak ngerti" cengirnya


"Jagoan lo Bii..." jawab Reyna sambil mengusap-usap perutnya


"Yahhh..kok cowok sih.. Aku pengenya kan cewek Rey biar bisa dikucir-kucir biar nggak tomboy kaya mamanya" Bianca tergelak "Nggak berat Rey, aku takut lihat perut kamu gede kaya mau meletus" Bianca pegang pegang perut Reyna. Tak disangka perut itu bergerak-gerak merubah bentuknya.


Bianca berteriak-teriak ketakutan, Reyna ganti tertawa terbahak melihat reaksi karibnya itu


Dielusnya perut itu dengan lembut


"Ayo adek jangan nakal, sakit ini mama kamu sikut-sikut" tak lama perut itu kembali bergerak membundar


Bianca masih memegangi dadanya dengan mata terbelalak

__ADS_1


__ADS_2