Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
64. Niat tertunda


__ADS_3

Bram hanya mendengus saat melihat Reyna kerepotan membawa masuk semua mainan milik Dewa, ia berbalik menuju kamar Dewa dan melanjutkan tidur siangnya.


.


.


.


Reyna baru saja selesai menata mainan baru Dewa, rumahnya yang sempit makin terlihat tak karuan dengan banyaknya mainan Dewa ditiap pojoknya. Reyna membaringkan tubuhnya di karpet, ikat rambut coklat pekatnya ia lepas dan ia urai rambutnya keatas. Ia ingin memejamkan mata sejenak, badannya ngilu karena semalam tidur dengan posisi tak enak.


ceklek


ia dengar suara pintu kamar terbuka, Reyna memicingkan matanya terlihat Bram yang bertelanjang dada berjalan gontai menuju dapur dan menegak air minum, pria itu pasti terbangun karena hawa panas di kamar Dewa yang hanya ada kipas angin disana.


Baru saja Reyna memejamkan mata ia rasakan hembusan napas panas menerpa pipinya. Mata Bram menatapnya tak berkedip, dua tangan kekar itu mengunci kepala Reyna. Bibir pria itu mengecup pipinya beberapa kali sebelum menenggelamkan di lehernya.


"ehmmmp.. Mas.."


Bram tak menghiraukan


"Mas..ewwhhhh.."


Bram bergerak berpindah ke sisi leher Reyna yang lain


"Mass...aahh. Aku mau mandi...achh..gerahh.."


Bram menghentikan aksinya


"Rey..bau tubuhmu itu membuatku..."


Bibir Bram mengunci bibir Reyna tangannya mulai jahil menyingkap kemeja yang menutupi perut Reyna. Membelai lembut dan merayap naik hingga jemarinya terantuk kain pelapis dua gundukan yang telah lama ia idamkan untuk hanya sekedar menyentuhnya.


Merasa tak mendapat penolakan, tangannya mulai nakal hendak menyusup kain pelapis itu.


Argghhh kenapa susah sekali geramnya, kain pelapis itu membebat kuat dan melapisi hampir seluruh bagian dari sepasang benda sintal.

__ADS_1


Bram frustasi lalu melepaskan pagutannya kemudian merebahkan badannya berbaring disebelah Reyna. Napasnya tersengal sengal karena jengkel.


Reyna menggulingkan badannya dan menyentil hidung pria itu sambil tertawa kecil.


"Dasar mesum! Emang enak dikerjain. Seharian aku kegerahan gara-gara bekas dileherku ini. Satu sama!"


Reyna berdiri dan berlalu masuk kekamar mandi menahan tawanya


Rasain emang enak dikerjain, makan tuh sport BRA!


.


.


.


"Reyna.. besok kita ke rumah Pakdhe Hermawan" ajak Bram saat ketiganya di meja makan


Reyna berhenti menyuapkan makanannya dan meminum air dari gelas disampingnya. Dia sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan ini.


"ehmmpp..boleh"


"Bimo" tukas Reyna pendek


"Yah itulah.. bagaimanapun dia ayah kandungnya" lanjut Bram


"Mas.. aku boleh minta satu hal?"


"Ya.. boleh. Semua kukabulkan asalkan kau tak menolakku menjadi suamimu"


"Jangan pernah menyebut Kak Bimo ayah kandung Dewa didepan keluargaku"


"Kenapa? Kau malu mengungkap kebenaran didepan keluargamu sendiri?"


"Bukan itu, masa laluku dengan Mas Satria rumit dan melibatkan banyak pihak. Aku harap Mas Bram bisa mengerti akan banyak pihak tersakiti jika kebenaran ini terungkap. Biar itu menjadi tanggung jawab aku dan Mas Satria nanti"

__ADS_1


"Tapi.. " Bram menyela


"Mas Bram tidak takut? Jika aku sendiri saja tak bisa menjamin siapa yang akan keluargaku pilih yang mereka pikir lebih layak bertanggung jawab untuk Dewa saat mereka tahu kebenarannya" ancam Reyna halus


"Okay baiklah. Aku hormati masa lalumu Reyna.. " Bram mengangkat bahunya pasrah


Reyna memutar cincin di jari manis kirinya dengan gugup, cepat atau lambat pernikahannya mau tidak mau pasti terjadi.


.


.


.


Ketiganya disambut hangat oleh Gandhi dan juga Hermawan, Mbak May tak bisa datang karena Adam sedang demam.


Reyna menghidangkan hasil masakannya dan memanggil para pria untuk segera ke meja makan.


"Pak Hermawan..Gandhi.. kedatangan saya kemari hari ini adalah untuk ijin melamar Reyna menjadi istri saya" suara Bram terdengar lantang ditengah-tengah acara makan malam


Gandhi tersenyum lebar begitu juga dengan Pakdhe Hermawan


"Saya akan datang bersama keluarga secepatnya untuk melamar secara resmi" lanjut Bram


"Saya mewakili Bapak menerima dengan tangan terbuka. Kamu Reyna??" Gandhi tersenyum dan menatap Reyna


Reyna hanya mengangguk, tak ada alasan kuat untuk menolak lamaran Bram. Pria mapan, matang dan penuh kasih sayang. Hanya cukup memupuk perasaannya saja untuk membuatnya sempurna.


"Tapi Nak Bram, lamarannya bulan depan. Tiga hari lagi sudah masuk bulan Suro. Nggak baik kalau ada hajat" kata Pakdhe Hermawan


Bram tersenyum kecut "Ya baiklah.."


"Gandhi..besok kamu minta tolong untuk hitungkan hari baik buat adikmu ya. Bapak nggak mau asal-asal pilih tanggal kayak pas..." Hermawan terdiam


"Maksudnya bulan depan belum pasti juga?" Bram bertanya cemas

__ADS_1


"Santai Bram.. Reyna nggak akan lari kemana.." Gandhi memukul lengan Bram sambil tergelak.


Disana hanya batin Bram saja yang terusik..berbeda dengan Reyna yang bersorak riang dalam hatinya. Entah apa yang membuat dia sedikit lega, mungkinkah dia memang masih mengharapkan keajaiban soal hubungannya dengan Bimo yang rumit bagaikan rumus logaritma.


__ADS_2