Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
112. Rencana (1)


__ADS_3

Selagi menunggu tetua desa datang, May meminta Mbok Sri untuk menyiapkan makan siang. Menambahkan beberapa jenis hidangan yang pantas untuk dihidangkan.


Alex bercakap ramah dengan Hermawan dan Aris menemani Bimo menghisap rokok menghilangkan ketegangan. Sedangkan Gandhi tetap duduk disebelah Reyna merangkul erat dan berbisik pelan ditelinganya.


"Mendiang Bram tahu soal ini?" masih saja kepo ini orang


"Heem" Reyna mengangguk


"Kenapa kau tetap memilih Bram ketimbang dia?" Gandhi bertanya tanpa basa-basi


"Mas..mereka bukan pilihan. Ini semua aku lakukan demi Dewa.. " Reyna menggeliat berusaha melepaskan pelukan Gandhi


---


"Kamu benar Reyna, Nak Gandhi ini sayang sekali denganmu" Alex tersenyum sambil melihat kedekatan kakak adik didepannya


"Ah ya Pak Alex.. begitulah Gandhi. Over protektif, lebih-lebih kepada Reyna" Hermawan tersenyum simpul


"Karena Reyna pembangkang tidak seperti May!" Gandhi justru makin mempererat pelukannya


"Haha.. Hei hei apa kamu ingat Mas berapa teman priaku yang kamu kasari. Padahal mereka hanya mengantarkanku pulang sekolah" Reyna mendorong dada pria itu tapi Gandhi malah mengunci erat tubuh Reyna dan menyenderkan kepalanya ke bahunya.


Bimo dan Aris kembali masuk ke ruang tamu, diikuti Mbah Mijan yang rupanya telah datang


Bimo menangkap ekor mata Gandhi yang melirik tajam ke arahnya.


"Aku kan sedang proses seleksi. Hanya pria tangguh yang boleh memiliki adikku yang satu ini" Gandhi berkata sarkas


.


.


.


Meja makan itu nampak riuh, May dan Reyna membantu Mbok Sri yang lalu lalang menyiapkan hidangan di meja.


Reyna menepuk bahu Bimo saat meletakkan piring berisi nasi, senyum keduanya merekah. Hari H sudah ditentukan, satu bulan lagi mereka akan dipersatukan dalam ikatan resmi.


"Mbak May bisa bantu apa Rey?"


"Bantu semuanya ya Mbak, aku sama Kak Bimo tinggal datang saja pakai kostum" Reyna terkekeh


"Ih... " May mendorong bahu Reyna " Kamu tuh ya, niat apa enggak sih"


"Niatlah Mbak.. tapi aku benar-benar masih sibuk sebulan kedepan. Bianca kan baru masuk lagi bulan depan" Reyna mendesah


"Menikah disini kan Rey?" kali ini Gandhi


"Ahh...numpang nikah di kota Kak Bimo sajalah, siapa juga yang akan datang jika aku menikah disini"

__ADS_1


"Tapi.. " Gandhi berkilah


"Gandhi.. tidak ada ada salahnya kan kita ikuti saja maunya Reyna. Belum cukup kamu buat hidup adikmu makin rumit" kata Hermawan ketus


"Iya... iya... " Gandhi melipat bibirnya


"Haha.. betul kata Pakdhe, hidupku rumit karena ulah Mas Gandhi. Coba waktu itu Mas nggak kurung aku pasti aku masih bisa ketemu Kak Bimo. Trus trus kalau Mas Gandhi tidak buang nomor Kak Bimo.. Hah tidak perlu waktu selama ini kan ya" Reyna bertepuk tangan kecil


Gandhi melingkarkan tangan dileher Reyna lalu menutup mulut wanita itu gemas. Reyna tertawa lepas saat bekapan itu melonggar lalu memeluk erat pinggang Gandhi yang duduk disampingnya


"Ahh.. senangnya aku bisa menang lawan Mas Gandhi kali ini"


---


"Apa kalian akan berjauhan seterusnya?" Gandhi bertanya di sela makan


"Tidak Mas, saya akan boyong Reyna selesai sekolah Dewa" jawab Bimo


"Sudah siapkan rumah untuk adik dan keponakan ini kan?"


Bimo menatap Gandhi berganti menatap Om Alex "Ehm.. Saya sudah siapkan satu unit apartement untuk Reyna"


"Untuk apa apartment Bimo?" tanya Alex " Bukankah kita sudah bahas ini sebelumnya"


"Apartemen itu kado untuk Reyna, tapi Reyna sudah setuju kok kalau kita nanti tinggal dirumah Om, iya kan Rey?" kaki Bimo menyenggol kaki Reyna dibawah meja, tolonglah aku selamatkan dari serangan Gandhi, kurang lebih diartikan begitu


"Iya Om Alex, Reyna senang jika bisa tinggal serumah dengan Om Alex"


"Ahh.. syukurlah. Jangan kau tinggalkan pria tua ini sendiri menghabiskan hidupnya" Alex mengelus dadanya lega "Tambah satu PR buatmu Bimo, rombaklah ruang kerjaku menjadi kamar Dewa"


"Iya.. iya.. " duh kepala Bimo tiba-tiba pusing banyak hal yang perlu dilakukan dalam satu bulan ini


"Lalu rumahmu Rey dan rumahmu juga Bimo?" tanya Gandhi


"Terserah Reyna, kedua rumah itu miliknya" Bimo menjawab santai sambil menegak air putih


Gandhi menyenggol lengan Reyna dan menaikkan alisnya


"Rumah sebelah itu rumah yang dibeli Kak Bimo untuk Dewa tapi atas nama Reyna juga, ehm aku belum tahu kedepannya bagaimana"


"Ahhh,, calon adik ipar. Rupanya kau bergerak cepat dalam setahun ya" Gandhi menggelengkan kepala


Bimo menghela napas , hai mendiang Bram apakah kau juga alami nasib yang sama saat menaklukkan calon kakak iparmu ini


.


.


.

__ADS_1


Selebihnya obrolan hanya seputar dimana lokasi ijab qobul dan tempat resepsi. Bimo dan Reyna menyerahkan semuanya pada May dan WO mengingat kesibukan masing-masing.


Reyna bergelayut manja di lengan Gandhi saat pria itu masih saja mengkorek-korek Bimo yang nampak mulai gelisah.


"Mas.. Reyna mau bicara penting.. "


Keduanya menjauh dan memilih halaman belakang rumah


"Ada satu lagi rahasia" Reyna berbisik ditelinga Gandhi


"Ayolah Rey, belum cukup kau buat aku terkejut hari ini"


"Kak Bimo dan Mas Satria adalah teman dekat, bersiaplah bertemu Mas Satria satu bulan lagi"


Gandhi terbelalak "Sungguh aku tak mengerti apa yang telah kalian lalui"


Reyna tergelak dan menarik lengan Gandhi untuk duduk "Mas.. sudah saatnya kita memperbaiki hubungan Pakdhe dengan keluarga Pak Wiji. Menjelaskan semua ini hanya salah paham"


Gandhi menoleh "Tak perlu jika kau melakukan semua ini hanya supaya aku tak menonjok Satria jika bertemu dengannya lagi. Aku sudah lama memaafkan Satria, sejak kau bertemu Bram. Tanpa dia mungkin kita tak berkesempatan mengenal orang baik seperti Bram"


Air mata Reyna menetes, hatinya mengharu biru setiap mengenang pria itu. Gandhi mengelus punggungnya pelan


"Mas Gandhi tak tahu Mas Satria juga lewatkan hidup yang berat sejak perpisahan kami. Pak Wiji tidak merestui pernikahannya"


"Oh ya" Gandhi seakan tak peduli


"Mas... " Reyna menggoyangkan lengan pria kekar itu "Jika aku bisa bahagia kenapa tidak dengan Mas Satria, aku yakin Pak Wiji pasti senang melihat cucunya yang cantik, Dewa saja jatuh hati"


"Dewa? Katakan kalian tak hanya sengaja bertemu lagi?"


"Ya..ya..tak hanya sengaja bertemu, tapi Mas Satrialah yang mempertemukan kembali aku dengan Kak Bimo"


Gandhi menarik rambutnya "Entahlah aku pusing"


"Akan lebih senang lagi kan kalau Pak Wiji bisa bertandang kemari menemui teman lamanya. Ayolah... pasti pakdhe akan senang sekali"


"Sebenarnya beliau pernah kemari tapi aku mencegahnya masuk"


"Hah?! Kau ini benar-benar kejam" Reyna menggelengkan kepalanya "Okay, tugasmu cukup menjelaskan pada Pakdhe dan Mbak May bahwa Mas Satria adalah teman Kak Bimo. Selebihnya biar aku pikirkan lagi sampai waktu yang tepat"


"Ehm.. "


"Mas... ayolah" Reyna merajuk


"Lain kali kita pikirkan" Gandhi berdiri "Hari ini aku sudah banyak meluluskan permintaanmu"


"Janji" Reyna memegang dua tangan itu


"Iya janji" Gandhi menjawab dengan ekspresi muka datar

__ADS_1


__ADS_2