Aku Dan Lelaki Lelakiku

Aku Dan Lelaki Lelakiku
144. Big No No!


__ADS_3

Reyna melirik arlojinya cemas, sudah 2 kali panggilan dari suster atas namanya terpaksa ia berikan ke nomor antrian berikutnya.


Bimo nampak berlari kecil dilorong putih, ia langsung menghampiri saat melihat istrinya melambaikan tangan


"Ih..lama amat. Sudah kelewatan dua pasien" sungut Reyna


"Sorry, macet dijalan"


"Ibu Reyna... " panggilan suster membuat kedua pasangan itu masuk ke bilik konsul


"Malam Bapak Ibu.. " sapa dokter ramah, membuka laporan pasien yang disodorkan suster di mejanya


"Oh.. hanya ingin konsul" dokter itu mengalihkan pandangan dari berkas laporan dan melihat dua pasangan didepannya


"Suami saya menginginkan anak perempuan dok, jadi kami ingin berkonsultasi lebih lanjut" Reyna mengawali pembicaraan


"Saya periksa kondisi rahim ibu dulu ya" dokter berdiri dan meminta suster membantu Reyna naik ke ranjang periksa


"Rahim ibu bagus, tidak ada masalah. Hanya butuh rajin disiram agar cepat jadi ya Bapak" dokter itu berkelakar


"Ehm.. banyak langkah-langkah yang harus diperhatikan ya Bapak Ibu.. "


"Satu, hindari berhubungan saat Ibu mengalami ovulasi atau setelah ovulasi"


Bimo dan Reyna kompak saling memandang


"Wah padahal istri saya lagi enak-enaknya dipakai itu Dok" celetuk Bimo


Reyna hanya senyum senyum malu, ahh padahal masa-masa itu memang dirasakan dirinya lebih bergairah


"Kedua, untuk Ibu hindari orgas** saat berhubungan"


"Ahh... apa enaknya disaya Dok!" Bimo memekik kesal "Berasa main sama gedebog pisang" lanjutnya


Reyna mendengus kesal, ah apa asiknya be*cinta tanpa kenikmatan!


Pak dokter tersenyum geli "Itu hal penting untuk bisa mendapatkan anak perempuan. Orgas** wanita membuat kondisi basa jadi sperm* untuk bayi laki-laki bertahan lebih lama. Ibu yang sabar ya\, tahan ya"

__ADS_1


Reyna manggut manggut pelan, emang bisa ya ditahan-tahan!!


"Ketiga\, pilih posisi misionaris saja untuk memberi jarak ke serviks saat sperm* dikeluarkan. Sperm* untuk bayi laki-laki mampu berenang sangat cepat dalam waktu singkat. Dengan menghindari p*n*trasi lebih dalam\, jadi mencegah sperm* untuk bayi laki-laki mencapai dan membuahi sel telur"


Bimo meraup wajahnya kasar, merutuk niatnya memiliki adik bayi cantik.


"Keempat, jaga pola makan. Perbanyak buah dan sayur. Ada yang perlu ditanyakan Bapak Ibu" tanya Pak Dokter sembari menuliskan resep vitamin


Kembali dua pasangan itu berpandangan dan menggeleng pelan bersamaan


"Ternyata rempong ya Kak!" keluh Reyna


"Banget!" Bimo memajukan bibir


"Nggak kebayang deh ah, masa enak disuruh nggak enak. Gimana coba" Reyna menggeleng-gelengkan kepalanya frustasi


"Pantas saja ya lahir Dewa. Kita berdua ahli bikin enak-enak" Bimo terkikik sambil melambatkan laju mobil


Seorang Ibu menggendong bayi perempuan nampak melintas menyebrang jalan. Bayi mungil yang menggemaskan dengan dua gigi kecilnya, rambutnya yang tumbuh bagai helaian rambut jagung diikat keatas disematkan pita berwarna pink. Keduanya berpandangan dan menghela napas.


"Mau coba?" tanya Reyna ragu-ragu sambil meremas ujung celana pendeknya


Keduanya kini didalam kamar dengan cahaya remang-remang


Bimo mengangguk pelan, mendekati istrinya yang duduk ditepi ranjang


"Ingat, jangan bikin enak" Reyna beringsut bergerak pelan ketengah ranjang


"Iya.. " Bimo merengut


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


 


 


Reyna


Ahh.. kenapa rasanya jadi amburadul begini ya. Tidak bisa lepas bebas, berasa having s.e.x sambil memikirkan revisi TA dari dosen pembimbing killer


Bimo


Shit! Mana bisa nikmat kalau model mute begini, tanpa desahan tanpa cicitan, minus lenguhan. Bagaikan mking love* dibawah todongan pistol, tegang!


"Kak Bimo mau apa?" tanya Reyna saat Bimo berguling dan menarik tubuh polosnya keatas pahanya


"Aku capek, gantian!"


"Nggak mau!" tolak Reyna


"Nolak suami dosa!" Bimo menjentikkan jarinya pelan didahi Reyna


"Bukannya tadi dokter tadi menyarankan gaya misionaris saja, lagipula nanti aku keenakan kalau diatas!"


Bimo menendang angin, kesal ia rasakan di ubun-ubun. Kembali bergelung naik ke tubuh Reyna, menyelesaikan permainan dengan hati dongkol.


"Sepertinya kita sudahi saja eksperimen ini Rey" Bimo memeluk tubuh istrinya dari belakang


"Hu um, aku juga nggak mau. Tersiksa, cuma dapat capek, enak enggak" Reyna menggeliat membalikkan badan


"Bodoh!" Bimo mencebik


"Iya, bodoh!" Reyna terkikik


 

__ADS_1


Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!


__ADS_2