
Bimo dan Reyna disambut hangat oleh empu rumah, keduanya pasangan muda dan bayi cantik di stroller pink merupakan anak pertama mereka.
"Boleh gendong kok mbak" ucap sang ibu ramah
"Ehm, ya.. " Reyna hanya mengangguk
"Ayo gendong saja" Bimo mengelus bahu istrinya
"Kak Bimo saja" tolak Reyna
Bimo hanya menggeleng dan memilih duduk
Hih, ini nih katamu yang minta adik bayi cantik!
"Pak Bimo sendiri kapan nambah?" ucap sang bapak
Hah, inilah tema pembicaraan yang aku benci
"Sedang diupayakan Pak" jawab Bimo ramah
"Saya doakan secepatnya, saya sendiri juga tidak menyangka akan dberi gantinya secepat ini Pak Bimo. Tiga bulan pasca miss kram, kami diberikan kepercayaan lagi"
"Oh.. " Bimo menoleh ke arah Reyna yang langsung menunduk
"Istri saya menangis tak henti pasca kejadian. Sampai suatu pagi dia menangis kencang, saya pikir kenapa-kenapa ternyata dia test pack dan positif" sang bapak tergelak
"Laki-laki mana tahu sedihnya kehilangan jabang bayi. Meskipun kita sendiri belum tahu wujudnya" sang ibu merengut
"Ehm.. oh ya?" Bimo bergumam sambil memandang Reyna yang tak bersuara
.
.
.
"Reyna.. " panggil Bimo sambil menoleh ke arah istrinya yang membisu sedari tadi
Reyna menolehkan pandangannya dari jendela mobil
"Ya Kak?"
"Jadinya mau makan apa?"
"Ehm.. terserah Kak Bimo saja"
__ADS_1
"Kamu nggak pengen makan sesuatu apa gitu?"
"Aku lagi nggak hamil jadi nggak pengen apa-apa! " jawab Reyna ketus
Ahhh kenapa dia menjadi sensitif seperti ini
"Rey.. " Bimo memanggil pelan
"Maaf Kak"
Bimo mengelus punggung tangan Reyna "Maaf kalau membuatmu tak nyaman disana. Harusnya kemarin kamu bisa menolaknya"
"Tak apa. Kalau tak kesana mungkin Kak Bimo juga nggak akan tahu"
Bimo menepikan mobilnya
"Kau mau bicara?"
"Soal?"
"Perasaanmu, isi hatimu apapun itu. Katakan, kalau perlu maki aku asal kau lega"
Reyna hanya terdiam
"Oh. So you think I'm changing??"
"Yes you are! Don't you realize it?"
"I'm not sure enough you really want and ready for a baby"
"Why?"
Reyna menatap tajam suaminya
"Kak Bimo hanya ingin mengikatku dengan anak agar aku tak berpikir kembali berkarir kan?"
"Rey, Come On! Sepicik itu kau berpikir! Apa kau tak menginginkan anak dariku? Yang akan kita nantikan kelahirannya bersama?"
"Dewa anakmu!!" tiba-tiba Reyna membelalak "Apa jangan-jangan kau tak menginginkan kelahiran Dewa?? "
Bimo memukul setirnya, menutup mulutnya kasar "Aku sungguh tak tahu lagi bagaimana caranya berbicara denganmu"
Reyna melipat tangannya didepan dada
"Lalu.. " lanjut Bimo "Apa yang membuatmu berpikir aku belum siap untuk seorang bayi"
__ADS_1
"Menggendong bayi saja Kak Bimo ragu"
"Siapa, kapan?"
"Bayi Bianca, ingat? Dan tadi?"
"Mereka bukan anakku, aku takut jika nanti kenapa-kenapa"
"Dewa juga bukan anak Mas Bram tapi dia nyaman-nyaman saja!"
"Oohh.... kau mulai bandingkan aku dengan Bram!"
Reyna memejamkan mata. Sungguh bicaranya memang sudah keterlaluan..Rey, sudahlah diam dan tutup mulutmu, atau kalian akan saling menyakiti!
Reyna memutarkan badan mengambil tas jinjingnya yang ia taruh dibangku belakang.
Tangannya meraih handle pintu
"Kemana?"
"Aku pulang, kamu makanlah sendiri aku tak nafsu makan"
kamu?? panggilan itu hanya ditujukan disaat Reyna sedang marah besar kepadanya
"Reyna... "
brakkk
Pintu mobil ia banting cukup kencang, Bimo buru-buru menyusulnya keluar
"Masuk Rey, kita belum selesai bicara"
"Aku sudah cukup bicara"
Reyna melambaikan tangan pada sebuah taksi yang melintas
"Sayang... "Bimo hendak meraih tangan istrinya tapi Reyna mengelak hingga tasnya yang teraih oleh Bimo
Isi tas jatuh berhamburan ke aspal termasuk strip silver berisi deretan rapi pil mini. Dua pasang mata suami istri itu membelalak, tangan Reyna terulur untuk meraihnya tapi kalah cepat dengan gerakan Bimo
"Apa ini Rey?!"
Reyna memasukkan sisa barangnya yang tercecer lalu berlari masuk ke dalam taksi. Dadanya sesak tangisnya pecah seketika hingga perjalanan pulang.
Like, Vote, Comment readers adalah mood booster author!
__ADS_1